Meet-Up

Meet-Up

Pratiwi Nur Zamzani

Deru yang terus menggebu. Dalam alunan udara yang terus menyerupai badai. Goyangan ke kanan dan ke kiri pintu gerbong. Terlihat betapa asyiknya gerbong itu bergoyang. Pada penumpang yang tengah terlelap dipagi hari dari stasiun tumpangan masing-masing.

Hingga terbangun karena merdunya sara pramugari yang menyuruh penumpang di stasiun yang telah berhenti untuk turun dan kembali naik. Seruan panggilan dari pramugari telah membuka kelopak matanya. Geraian rambut panjang bergelombang, seakan bergoyang asyik karena telah menanti begitu lama datangnya kereta.

Tangga besi mungil telah disiapkan oleh petugas khusus kereta itu. Dengan penumpang ekslusive dan fasilitas yang eksklusive. Bola matanya berputar mencari tempat duduknya. Mencocokkan nomor yang tertera pada tiket yang ia dapat.

http://cdn.grid.fotosearch.com/CSP/CSP595/k5955316.jpg

“Di situ!,” ucapnya.

Bola matanya yang bulat sempurna, dengan kelopak mata cekung yang pas dengan warna make-up naturalnya. Bibirnya yang mungil, seketika berbicara setelah ia menolehkan kepalanya ke belakang dan melihat seseorang yang tengah ada di ambang pintu dengan seragam hitam rapinya. Tingginya yang menjulang tegap, berhasil membuatnya mendongkakkan kepalanya.

“Mari ikut saya,” pintanya formal dengan berjalan melewati gadis yang tengah mendongkak memandangnya.

“Hmmm, terimakasih,” ucapnya dengan senyuman tipis saat laki-laki itu berdiri disamping tempat duduknya. Memastikan bahwa gadis itu berada di tempat yang benar.

“Bisa melihat tiketnya?,” tanya laki-laki itu.

Sastra menganggukkan kepalanya. Kemudian, mnyodorkan tiket yang ia bawa. Gumaman kecil, muncul dari bibir tipis laki-laki disampingnya.

“Sastra Binara. Sama-sama,” ucapnya dengan senyuman ramah, kemudian mengembalikan tiketnya dan pergi dari hadapan Sastra.

Kereta berjalan. Pandangan matanya yang semula terfokus dengan pemandangan yang disugukan disekitar kereta, beralih ke arah tiket yang masih berada digenggaman tangannya.

“Stasiun Semarang Poncol,” gumamnya pelan.

“Semoga menjadi pilihan yang terbaik,” gumamnya dalam hati seraya kembali menatap pemandangan yang ada.

Suara mesin kereta yang tak bisa dihindarkan, membuat Sastra mengeluarkan sebuah buku dan pensil untuk mengerjakan sesuatu yang seharusnya ia kerjakan di hari-hari sebelumnya.

Waktu yang terus mengjarnya, membuat ia tak sempat untuk menyelesaikan seluruh tugasnya dengan tenggat waktu yang jauh dari deadline. Akan tetapi, baginya lebih baik dikejar waktu dibandingkan ia mengejar waktu dan berakhir untuk menunggunya.

Masih ada waktu lima jam untuk sampai di stasiun Semarang Poncol. Tempat tujuan yang ia idamkan karena beberapa hal. Senyumnya mengembang saat ia membayangkan bagaimana dirinya yang akan menginjakkan kakinya di kota yang ia inginkan.

Banyak deretan tempat yang bersedia menampungnya. Akan tetapi, Semarang adalah tempat yang seakan menjadi tempat untuk menampung kenangan barunya. Bayangannya melambung, tentang betapa indahnya kota Semarang, Jawa Tengah.

Matanya memandang butiran soal yang ada di depannya. Akan tetapi, pikirannya berulangkali teralihkan saat ia mendengar kalimat Semarang yang terus terbayang di dalam pikirannya.

Namun, semua itu terlewati saat ia mengingat satu tujuannya ke sana. Meraih mimpinya dan menimba ilmu di sana, setelah ia merasa ada kekurangan jika ia tetap ada dilingkungan yang sama.

“Aku akan berjalan sendiri. Jadi, jangan jemput aku ditempat!,” ucapnya dengan memutus panggilan sepihak.

Untuk sejenak, ia menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, senyuman daari bibirnya mengembang seketika. Menunjukkan pada dunia, bahwa ia siap kembali di dalam dunianya. Yah…. dunia yang selama ini ia tinggalkan karena mengorbankan masa depan seseorang, yang sudah menjadi tanggung jawabnya.

“Taksi, Mbak?,” tanya seseorang seraya mendekatkan langkahnya untuk menghampiri ia yang masih berdiri tegap dengan hels yang rendah.

Dengan anggukan kepala, ia menaiki taksi itu. Menunjukkan alamat yang sudah menantinya. Akan tetapi, sebelum itu ia menyuruh sopir taksi itu untuk berhenti di berbagai pinggiran jalan.

Siapapun dia, gadis itu tidak akan lupa siapa dirinya. Sastra Binara. Cantik. Imut. Pesona yang selalu dipuja oleh berbagai jenis kaum adam karena bentuk matanya yang bulan dan lebar.

Sempurna dengan bola mata hitam yang pekat. Bibirnya yang mungil menunjukkan betapa ia tidak pantas bila menyandang umur yang masih muda. Sangat muda diantara jajaran CEO yang pernah ada.

“Bukan orang sini ya, Mbak?,” tanya supir taksi itu saat melihat lagak Sastra yang tengah menikmati indahnya malam kota Semarang.

Ramainya jalanan, tidak sepadat kota Surabaya. Lebih teratur dan tahu diri dengan norma yang ada. Tidak kentara mana orang yang berpendidikan tinggi dengan tidak. Karena mereka, terlihat selaras dengan cara mematuhi norma yang berlaku. Asat istiadat, dan juga budaya Jawa Tengah.

Dering ponsel terus memanggil. Tapi, ia terus mengabaikan panggilan itu. Baginya, pemandangan bukit yang indah lebih berharga ketimbang panggilan yang menurutnya sangat mengganggu. Bahkan lebih tepatnya, panggilan yang terus berusaha membuat  mood Sastra meburuk dan enggan untuk melakukan perjalanan sejauh ini.

Hatinya terus bergemuruh. Ia tidak tahu mengapa ia seketika jatuh cinta dengan kota ‘Lumpia’ ini. Bisnis? Rasanya tidak. Makanan? Ia baru bisa melakukannya setelah memakan nasi goreng pinggir jalan tadi.

Bahkan, supir taksi yang sudah berulang kali menolak traktiran Sastra. Mengingat, sudah lebih dari lima kali Sastra memberikan makanan seraya ia wisata kuliner. Sampai akhirnya, Sastra memutuskan untuk turun dari mobil taksi dan memberikan secarik kertas untuk mengamtarkan barangnya yang masih ada di bagasi mobil ke rumah gadis itu.

Sedangkan ia, memutuskan untuk berjalanan kaki. Menikmati suasana kota Semarang, yang berhasil membuat adiknya enggan untuk pulang dan memilih untuk menetap di tempat ini. Entah dari faktor apa, tapi yang pasti hal itu sudah dipastikan karena lingkungan yang nyatanya begitu bersahabat.

Seketika langkahnya terhenti. Mata bulatnya menajam detik itu, saat ia melihat peristiwa yang tak jauh dari kota sebelumnya. Atau bahkan, peristiwa  yang sudah menjadi tradisi di berbagai tempat. Dapat dimulai dari pernah ia kunjungi atau bukan.

httpsparsstock.irthumbs1002281075130-%D8%B2%DB%8C%D8%A8%D8%A7-%D8%AF%D8%AE%D8%AA%D8%B1-%D8%B5%D9%88%D8%B1%D8%AA-%D8%AA%D8%B5%D9%88%DB%8C%D8%B1-%D8%A8%D8%B1%D8%AF%D8%A7%D8%B1%DB%8C.jpg

“Hai, kau cantik sekali,” ucap Sastra dengan lembut.

“Siapa kau?! Apa urusanmu!,” ucap laki-laki itu ketus.

“Urusanku? Kurasa mematahkan tanganmu yang sudah melukai wanita itu. Jika kau mau, bekerjalah. Agar kau bisa hidup dengan layak selayaknya manusia. Bukan hewan,” ucapnya santai dengan penekanan diakhir kalimatnya.

“Apa katamu?! Hewan?!,” ucap laki-laki di depannya dengan nada yang terpacaya.

Sastra hanya mengedikkan bahunya cuek. Akan tetapi, mata bulatnya yang indah, sudah siap untuk mengoyak laki-laki itu hidp-hidup.

“Majulah selangkah! Apa kau tidak mau menyelamatkan rekanmu?! Dia sudah terkapar lemas, dan maaf jari lentikku telak mematahkan pergelangan tangannya,” ucap Sastra memperingatkan.

“Shit!!!!,” ucap laki-laki yang tengah menaha amarah saat melihat temannya sudah tak dapat bangun dari tempat ia terkapar.

Senyuman itu mengembang dengan tenang, tercetak jelas dibalik masker hitam yang ia gunakan layaknya seorang preman. Yah, preman melawan preman. Begitulah kasarnya. Nafasnya yang sedikit terengah, menatap  jelas mata wanita yang telah tersungkur di depannya.

Sorotan mata itu, menunjukkan secara jelas bahwa ia sangat ketakutan setelah peristiwa itu. Perempuan itu memeluk Sastra dengan erat. Ia tahu, bahwa penolongnya malam ini, adalah seorang wanita.

Gelungan kecil ala kadar dan jari lentiknya, sudah menunjukkan secara jelas jika ia seorang wanita. Kulitnya yang putih mulus. Tidak ada otot yang terlihat menonjol keluar. Suaranya yang lembut berhasil menenangkan dirinya.

“Rumahmu dimana? Aku akan mengantarmu,” ucap Sastra seraya meraih tas kecil yang tergeletak di sana.

“Ah, coba kamu cek lagi. Apakah ada yang kurang. Kita bisa menggeledah mereka,” ucapnya rendah dengan menunjuk keempat laki-laki yang sudah terkapar lemas di sana.

Perempuan itu menganggukkan kepalanya. Memberitahu bahwa semua barangnya masih utuh. Sastrapun memutuskan untuk mengantarnya pulang. Yang ia tahu, bahwa rumah gadis itu tak jauh dari tempat tujuannya di kota ‘Lumpia’ini.

“Tidurlah, sebelum itu mandilah dengan air hangat. Agar kau bisa tidur dengan nyaman. Dan, berusahalah untuk tidak pulang terlalu malam,” ucapnya dengan sebingkai senyuman yang masih terlihat jelas di balik maskernya.

“Terimakasih atas bantuannya. Aku berharap, bisa bertemu denganmu lagi,” ucapnya dengan lembut.

“Vallen!!!,” panggil seseorang.

“Kakak!,” balas Vallen dengan berlari kecil dan memeluk laki-laki yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.

“Permisi,” ucap Sastra dengan menundukkan kepalanya dan meninggalkan rumah yang megah itu. Tamannya yang luas, menjadikan rumah ini layaknya istana modern yang ada di era tahun ini.

Gadis itu mengangguk seraya berteriak hati-hati untuk Sastra. Dan Sastra hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Kemudian terdengar sayup-sayup bahwa kakak gadis itu suda tak asing dengan perawakan Sastra.

Sastra juga mendengar sedikit perdebatan diantara mereka mengenai kehadirannya. Di balik gerbang tinggi itu, Sastra mendengarkan betapa tidak percayanya kakak gadis itu dan ia terus menentang bahwa ia mengenal Sastra.

Namun, saat adiknya menanyakan dimana kakaknya mengenal Sastra, laki-laki itu kerap harus kembali mengingat dimana ia mengenail gadis yang telah menyelamatkan adiknya dari preman-preman itu.

“Kau tidak akan mengingatku karena kita belum pernah bertemu. Tidak. Kau belum menemuiku. Tapi aku sudah menemuimu sebelum kejadian ini!,” gumamnya dalam hati seraya ia berjali lurus untuk sampai di tempat gadis itu.

***

Suara gerbang berbunyi nyaring. Tapi tak sampai pada tuan rumah, yang mungkin atau memang sudah berada dibalik selimut bersama dengan mimpi indahnya. Akan tetapi, semua itu hanyalah persepsi yang salah. Ia lupa, kalau ia memiliki mitasi dirinya.

“Apa kau lupa bahwa aku kembaranmu?! Kau pikir aku sudah tidur? Darimana saja kau?! Malam sudah larut dan kau masih keluyuran? Sendiri? Dan itu, kenapa kau datang ke sini dengan tidak terhormat? Apakah statusmu sudah berganti menjadi gelandangan? Kenapa kakimu kotor sekali?!!!,” tanyanya tanpa henti.

Sastra tidak menjawab pertanyaan adiknya. Ia berjalan dengan santai ke kamar mandi lantai satu untuk membersihkan kakinya. Kemudian, meninggalkan adiknya yang masih menatapnya dengan tajam dan tak senonoh saat melihat Sastra menaiki lift ke lantai selanjutnya.

“Jika kau bukan kakakku, mungkin aku akan mengunyah dagingmu seenak nasi goreng kesukaanku! Hei! Kucing! Cepat turun ke bawah dan ambil makananmu sebelum Mama dan Papa pulang dari bandara!!!,” serunya dengan wajah yang masih menahan amarahnya.

***

Menghiraukan. Pasti. Sastra tidak suka dengan kebisingan. Ia hanya menanti sebuah ketenangan. Bukan kesepian. Alasan dimana ia selalu memilih untuk berada di tempat yang tinggi, adalah ia dapat melihat ke bawah.

Dering ponsel kembali menganggu dirinya yang tengah mengeringkan rambutnya. Malam ini, Sastra begitu enggan menyentuh ponselnya. Ia ingin enikmati hiruk pikuk ketenangan kota Semarang di atas tempat tidurnya yang bertatap langsung dengan jendela.

“Apa kau bertemu denganya?,” tanya adiknya.

“Hmmmm,  aku bertemu dengannya dan menginjak halaman rumahnya.”

“Makanlah! Perbaiki moodmu sebelum Papa dan Mama menambah rusaknya moodmu,” peringat adiknya.

“Hmmm, aku akan datang lima menit lagi,” ucapnya seraya ia beranjak dari tempat duduknya. Meraih ponselnya, dan mematikannya untuk mengisi daya. Tidak. Bukan untuk itu. Tapi mencoba menenangkan dirinya setelah ia memutuskan untuk ke sini.

***

Makan malam sudah siap. Berbagai hidangan ada di depan mata Sastra. Ia berusaha menghilangkan rasa malasnya yang sudah membabi buta untuk urusan makanan hingga tubuhnya kurus tanpa menghilangkan keindahan lekuk tubuhnya.

“Kamu datang jam berapa sayang?,” tanya Mamanya.

“Baru saja.”

“Bukannya harus datang dua jam yang lalu?,” tanya Papanya.

“Aku main-main dulu.”

“Main katamu?,” tanya Papanya.

“Hmmm aku main,” ucapnya jelas.

“Apa kamu pikir hidup hanya untuk main-main? Apa kamu pikir waktu patut untuk kamu permainkan? Apa kamu pikir…”

“Cinta juga patut untuk dipermainkan?,” putus Sastra.

Seketika ruangan itu sunyi. Senyap. Deretan kalimat yang keluar dari mulut  Sastra, berhasil membungkan mulut kedua orang tuanya. Bagaimana tidak? Darimana putrinya tahu kalau mereka akan menjodohkan anak pertamanya?

“Jika aku bisa bermain-main dengan saham. Atau dengan pekerjaanku, dan menjalin kontrak denga waktu. Aku juga bermain bersama dengan waktu, tidak memungkinkan satu hal kalau aku akan bermain dengan cinta.”

“Sastra jaga ucapanmu!!!!,” bentak ayahnya dengan keras.

“Aku sudah menjaga diriku dengan baik. Menjaga perusahaan papa dengan baik, dan juga menjaga kekayaan papa dengan baik. Bahkan sekarang, banyak para investor yang menanamkan saham lebih besar dari presetase sebelumnya. Apakah semuanya kurang. Ok, aku akan memberikan beberapa planning yang akan berjalan dengan project yang aku susun…”

“Sekarang bukan waktunya untuk berbicara mengenai pekerjaan, Sastra!,” ucap Papanya dengan penekanan di akhir kalimatnya.

“Oh ya? Lantas untuk apa aku kemari, Pa? Menikah? Sudah jelas aku menjawabnya tidak. Bagaimana jadinya jika aku menjadi Mama yang tak bisa mengurus anakku. Atau lebih tepatnya alu lebih mahir dalam mengurus perkembangan saham perusahaan daripada perkembangan anak-anakkuu. Percuma menikah jika akan berakhir seperti itu. Bukankah sudah kubilang jika aku hanya ingin bermain-main saja.”

Kelopak mata Sastra berhasil tertutup dengan senyuman khasnya yang menunjukkan betapa licikya ia. Saat matanya kembali terbuka, ia dapat melihat pose papanya yang sudah menjadi hal biasa baginya.

Bahkan untuknya pose yang hendak menamar dirinya dan mama tirinya selalu menghalangi, adalah hal indah untuknya. Layaknya ia melihat bioskop secaa live. Sangat menakjubkan.

“Papa tidak akan mendengar berbagai alasanmu lagi. Papa akan menikahkan kamu dalam waktu dekat. Besok, calon besan papa akan datang kemari. Dan ingat, jangan kemana-kemana.”

“Baiklah, aku akan menemui mereka,” ucapnya dengan senyuman licik yang terlukis di sudut bibirnya.

Sastra beranjak dari tempat duduknya sebelum acara makan malam selesai. Satu kebiasaan yang sudah berhasil membuat Sastra terlihat kusut. Kesepian.Yah… kesepian. Dia kesepian. Meski berbagai macam orang ada di sekitarnya, ia tetap kesepian. Hanya satu yang menemaninya.

httpss-media-cache-ak0.pinimg.comoriginalsa061b1a061b132a4d98a9009a982034318be7f.png

Sebuah kasih sayang yang selama ini hanya Sastra dapatkan sebatas ia berusia lima tahun. Dimana jantung mama kandungnya yang sudah tak dapat menampung sesak kelakuan papa kandungnya.

Yah… papanya telah membunuh mamanya. Sosok yang menjadi semangat Sastra untuk menjaga warisan kakeknya. Perusahaan yang tidak seharusnya ia pimpin. Mengingat, cita-cita seorang Sastra Binara, bukanlah menjadi seorang pembisnis handal.

Melainkan, seorang atlet yang berhasil ada dipanggung dunia. Sama halanya dirinya yang sudah berada di panggung dunia. Tapi sayangnya, bukan sebagai apa yang ia inginkan. Sekedar sebuah mimpi yang terpendam hidup-hidup bersama dengan mama kandungnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *