Kadang Kita Lupa, Bukan. Sering Kita Lupa Bukan Karna Kuat dan Hebat Kita : #BelajarHidup

Karya Rawpixel

Kita Hidup Dalam Lingkungan yang Menghargai Karna Ada yang Harus Dihargai

Ombak pun diserbu
Gunung juga dituju
Kita jangan buntu
Siapakah dibalik itu

Salam Mas Bro dan Mbak Bro

Apa prestasi terbesarmu?

Sejak kita kecil, lingkungan terkecil kita. Keluarga, mengharapkan bahkan kadang menuntut kita berprestasi. Anak dididik agar bisa membuat orangtua bangga dengan prestasi disekolah. Saat kita dapat nilai bagus, saat dapat juara, dan saat menang lomba kita dipuji dan kadang dapat hadiah.

Bahkan ga jarang kalo kita ga berprestasi, kita bakal dibanding-bandingin sama saudara sendiri. Paling kesel sih kalo dibanding-bandingin sama orang lain. Orangtua bahkan bisa bilang betapa mereka membanggakan prestasi anak orang lain.

Ada yang salah dengan budaya ini.

Baca Juga : Menolong Bukan Karna Ditolong

Karya Christopher Burns

Kita Hidup Dalam Lingkungan yang Menghargai Karna Ada yang Harus Dihargai

Lepas dari lingkungan keluarga. Masuk ke lingkungan sehari-hari. Budaya menghargai ini berlanjut semakin parah. Disekolah anak-anak pintar akan menjadi populer dan disayangi guru. Dikantor karyawan berprestasi akan dihargai atasan dan cepet naik jabatan.

Anak-anak yang biasa aja ga akan dapat apa-apa.

Kalo mau dapat perhatian, ya jadi yang paling buruk aja. Disekolah kalo ga bisa jadi paling pintar. Jadi aja yang paling ribut, paling kocak, dan paling bandel. Tapi ga akan dapat penghargaan dari lingkungan. Apalagi guru.

Kalo dikantor jangan jadi yang paling ribut, kocak boleh, bandel jangan. Kalo mau kerjaan lain silahkan. Cukup Dylan aja yang lawan guru. Kalo kita jangan lawan atasan.

Kok semua ikut-ikutan hubung-hubungin sesuatu sama Dylan ya?

Baiklah, kembali ke jalan yang bener.

Kenapa cuma orang berprestasi yang dihargai?

Bukan kita maksudnya menyalahkan penghargaan itu ya. Tapi kita jangan lupa diri. Kalo sebagai manusia semua wajib untuk saling menghargai.

Berprestasi ato ga bukan takaran menghargai orang lain.

#KataKita

Baca Juga : Orang Menderita Bukan Disumpahin Bukan Juga Dikasihani

Karya Jose Chavez

Kadang Kita Lupa, Bukan. Sering Kita Lupa Bukan Karna Kuat dan Hebat Kita

Siapapun, ga peduli apapun prestasi dan dosa masa lalunya. Wajib untuk dihargai.

Siapa berprestasi jangan sombong diri. Siapa yang punya dosa masa lalu wajib tau diri.

Udah “pernah salahjangan ajuin diri jadi kepala daerah. Tunjukin dulu buah perbaikan dirinya. Dulu ga bisa berdampak apa-apa. Sekarang kok lupa diri.

Kita Lupa

Nah, selanjutnya.

Untuk yang berprestasi.

Sebesar apapun prestasi dan karya kita dihargai sama orang lain. Ukurannya sebenernya bukan ditentuin sama kesanggupan diri sendiri. Kita masih tetep perlu bantuan orang lain.

Sebagus apapun penyanyi dan dia bersolo karir. Dia tetep perlu bantuan orang lain untuk melatihnya, merekam albumnya, dan memasarkan karyanya.

Selanjutnya selain kita perlu orang lain. Kita juga perlu sadar kalo ada campur tangan Dia, dalam hidup kita. Saat manusia bisa mendaki gunung tertinggi didunia, saat ada orang bisa keliling dunia, dan ada manusia udah sampe ke bulan. Kita lupa gunung, dunia, dan bulan itu ciptaan Siapa.

Kita sekarang lupa menghargaiNya atas prestasiNya.

Kita Mampu

Kalo kita ngobrol kehebatan secara prinsip, sebenernya semua orang itu hebat. Barang berat dapat diangkut kalo kita pake alat angkut yang bener dan sesuai. Kalo cuma andalin kekuatan diri sendiri kita cuma akan bisa angkat paling berat puluhan kilo. Jaraknya pun hanya hitungan meter. Beda kalo kita angkat barang dengan mobil. Mudah dibawa dan jaraknya pun bisa jauh.

Prinsip inilah yang dipegang sama orang-orang besar dulu. Sampe akhirnya nama mereka dikenang sampe sekarang. Kalo hanya andalin kemampuan diri yang terbatas. Keterbatasannya adalah batasnya kita dipakaiNya untuk lakuin pekerjaan-pekerjaan yang besar yang terbatas.

Jangan menjadikanNya kayak Sirup Marjan yang hanya teringat 1 kali 1 tahun.

#KataKita

Pada akhirnyaNya berbahagialah orang yang ngandalin Dia. Karna ga akan pernah dikecewainNya orang yang berharap. Kita akan berbuah meski dengan kemampuanku terbatas. Karna bersandar sama Yang membuat batasan.

Satu hal besar yang harus kita sadari adalah sehebat apapun manusia itu kalah sama Tuhan. Kalo manusia menghargai karna prestasi. Prestasi Tuhan adalah hargain semua orang meski tanpa prestasi.

Punya pengalaman sama?

Berbagi aja disini. Bagiin bebannya, dapat jalan keluarnya, dan dapatin rupiahnya.

Ga bisa nulis, kirim aja rekaman suaranya. Kita buat tulisannya.

Hubungi kontak kita ya.

#

Salah.
Menghitung sesuatu seolah-olah hasil kerja kita sendiri.
Lupa.
Menghitung kesanggupan datangnya dariNya.

#

Kita tinggal di negara Indonesia
Negara yang pelan-pelan kita tata
Anehnya begitulah kita manusia
Lebih menghargai yang diliat mata

#BelajarHidup
20181105 1118WIB Selasa
Rumah Syahdan

Sumber Tulisan
Pengalaman Penulis

Sumber Gambar
unsplash.com dibuka pukul 11:19 WIB pada hari Jumat tanggal 11 Mei 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *