Pola : #CerpenKita Episode 4

  • by

Apabila engkau bekerja, engkau adalah sepucuk seruling, dan karenanya hati yang menghembuskan sang waktu berubah menjadi lagu.

-Kahlil Gibran-

      “Rendy…,” Panggil Among di sela sarapan pagi mereka. 

  “Iya Among?” tanya Rendy menanggpi seraya.

Among terhenti sejenak. Pandangan matanya, memandang Rendy. Sungguh, wajah yang tak jauh terpaut darinya, wajah yang mirip dengannya itu, kini terlihat bahagia. Kedua bola matanya berbinar. Tiada henti, dan tiada redup. Enggah rasanya hati untuk merusak cahaya yang terpancar dari dalam kedua bola matanya.

“Among ada apa?” tanya Rendy memastikan.

Among masih terdiam. Menatap Rendy. Karena tak sadar akan demikian, Inong berusaha menyadarkan dengan menggerakkan sikunya seraya bertanya, “Abang, kamu tak apa?” tanya Inong memastikan.

            “Hmmm?” tanya Among lagi.

            Inong berdeham. Among masih bingung dengan suasana dan keadaan yang ada. Yang diketahuinya hanyalah, Inong menambahkan porsi makan nasi goreng di atas piring Among. Sedangkan Rendy, menghentikan aktifitas sendok dan garpunya untuk mengambil nasi goreng dari piringnya dan memasukkan ke dalam mulut. Tidak hanya itu saja, Rendy juga berhenti mengunyah.

            “Aku sudah kenyang,” ucap Among saat melihat porsi yang diberikan terlalu banyak.

            “Jangan begitu, kamu harus kuat. Karena nanti, kamu harus mencari biaya untuk kuliah Rendy,” ucap Inong.

            Rendy terdiam. Ia hanya bisa mengatubkan bibirnya dengan rapat. Tak mampu untuk berbicara. Kedua bola matanya seketika nanar. Bayangannya mulai melambung jauh, betapa dirinya tega telah menyusahkan orang tuanya dengan permintaan kuliah itu.

            “Masalah biaya gampang, itu bisa dicari. Kesehatan Rendy yang tidak bisa dicari,” ucapnya Among.

            “Ren… boleh Among bertanya sesuatu?” tanya Among mulai memberanikan diri.

            “Boleh. Silahkan, Among,” ucap Rendy rendah dengan kedua bola matanya yang ragu.

            “Mengenai permintaan kamu kuliah, apa semua itu ada hubungannya dengan, Tulus?” tanya Among dengan wajah menyelidik.

            Rendy terbelalak. Kemudian, ia memandang ke arah Among. Seluruh neuron yang ada di dalam kepalanya ia paksa untuk berputar menemukan jawaban dengan susunan kata, yang benar. Baik dalam segi gramatikal, sintaksisnya, morfologinya, dan beberapa komponen lainnya. Sehingga, terbentuk kata yang nantinya ia ucapkan tidak menghambat situasi saat diaplikasikannya kata-kata tersebut.

            “Rendy, kenapa kamu diam?” tanya Inong.

            “Hah? Rendy nggak diam. Rendy memperhatikan Among bicara,” ulas Rendy memberikan alasan untuk menutupi situasi dirinya.

            “Kalau begitu, berikan Among jawabannya, Ren,” ucap Among menuntut.

            “Untuk itu… kuliahnya… memang ada hubungannya dengan Tulus,” ucap Rendy.

            “Bisa kamu jelaskan lebih detail, bagaimana bisa nama Tulus kamu geret dalam permasalahan ini?” tanya Among menyelidik.

            “Gampangnya, semua ini merupakan janji. Tulus dan Rendy berjanji untuk menggapai cita-cita masing-masing. Dan tidak berhenti pada tiitk itu saja, Among. Kami juga memiliki keinginan untuk mengembangkan wilayah kami sendiri. Sehingga, kami bisa bermanfaat dengan membantu setempat dan pemerintah setempat. Setidaknya, meningkatkan pemasukan daerah Among,” jelas Rendy secara singkat.

            “Ada satu hal lagi yang ingin Among bicarakan dengan kamu. Mengenai prospek ke depan.”

            “Boleh. Silahkan ditanyakan,” ucap Rendy menantang pada dirinya sendiri.

            “Jika dengan ijasah yang kamu dapatkan, kamu tidak bisa bekerja sebagaimana apa yang kamu inginkan, apa yang akan kamu lakukan?”

            “Rendy akan berusaha sebagaimana kewajiban Rendy. Tidak akan tidak ada jalan. Pasti ada kok. Yakin dengan itu, karena Rendy memiliki keyakinan dan kepercayaan akan keberadaan Tuhan yang akan selalu mendampingi Rendy kapanpun itu,” jelas Rendy dengan percaya diri.

            Among menghembuskan nafas beratnya. Kemudian, memalingkan wajahnya ke arah jendela. Pikirannya seolah keluar dari konteks yang ada. Dengan begitu, Rendypun tertunduk. Nasi goreng yang tadinya terlihat begitu lezat di matanya, seketika lenyap entah kemana, kelezatan itu. Tentu saja, semua itu akhir dari pembicaraan yang berujung pada ekspresi yang diberikan oleh Among.

            “Kamu habiskan makananmu, Ren,” pinta Inong dengan lembut.

            “Rendy akan habiskan,” ucapnya dengan senyuman tipis. Kemudian, Rendy kembali memakan nasi gorengnya dengan beberapa biji nasi.

            “Kamu sudah siapkan belajar apa aja?” tanya Among.

            Rendy yang awalnya tak nafsu makan, ia mulai meraih sendok dan garpunya dengan sigap. Kemudian, memberikan keterangan sebagaimana adanya kepada Among mengenai persiapan yang sudah ia siapkan kala itu.

            “Baguslah kalau begitu. Among akan meyakinkan diri Among mengenai kemampuan kamu. Setidaknya, tidak perlu ambil guru privat jika diri kamu sudah mampu mengatasinya sendiri,” ucap Among.

            Rendy menganggukkan kepalanya mantab. Kemudian, mereka kembali melanjutkan makan paginya. Setiap selesai makan pagi, keluarga itu memiliki kebiasaan berkebun di belakang rumah. Sehingga, seluruh olahan makanan yang setiap harinya disajikan, merupakan hasil kebun mereka sendiri. Berbanggalah mereka jika mereka ditanya mengapa dan kenapa makanan yang biasaja dimakan mereka terlihat begitu lezat dan segarnya tahan lebih lama dibandingkan dengan menggunakan beberapa bahan makanan yang sengaja digunakan pestisida untuk menjaga keutuhan bentuknya.

            “Among, Inong, Rendy sehabis berkebun ingin bermain sebentar boleh?” tanya Rendy memberikan kode untuk meminta izin.

            “Boleh. Memangnya mau main kemana?” tanya Among.

            “Kemana lagi kalau bukan ke rumahnya Tulus? Rendy sudah dari kecil hidup dengan Tulus,” ucap Inong memberikan penjelasan yang membenarkan situasi.

            “Oh… yasudah. Main saja.. mumpung masih muda. Kalau sudah tua, mana bisa kamu main? Yang ada hanya duduk di rumah, dan menikmati udara segara pagi hari. Itupun, jika kakimu masih kuat melangkahkan tapak.”

            “Jangan malam-malam pulangnya, Ren….” Seru Inong saat rendy mengakhiri tugasnya untuk memberikan pupuk kompos pada tiap tanaman di sana.

            Rendy mengiyakan dengan seruan pula. Setelah mencuci tangannya, ia berjalan cepat untuk keluar rumah dan menutup pintu. Kemudian, berjalan kaki, menuju ke rumah Tulus.

***

            Pagi itu, memberikan udara yang segar. Meski ada beberapa udara yang terasa begitu sesak saat masuk ke dalam rongga dada. Tapi, itu semua tidak masalah. Udara sesak itu, sudah terlewati dengan senyuman. Bukan hanya hari ini. Tapi, hari-hari sebelumnya. Dan, Rendy melewati itu semua. Cukup senang dan berbangga, bahwa ia bisa menjadi dirinya sendiri. Mengikuti apa yang ia mau, meskipun tidak biasanya ia seperti itu. Menjadi dirinya sendiripun, Rendy harus dibantu oleh Among dan Inong.

            Untungnya, Rendy mendapatkan sepasang orang tua yang demikian. Untuk masalah mengenal diri sendiri, Rendy mengaku kalah dengan Tulus. Ia berani menentang segala keputusan yang mengekang dirinya. Tulus hidup seperti seekor burung yang menghancurkan sangkarnya sendiri. Ia tidak pernah memperdulikan apa kata orang lain. Tidak itu saja. Untuk masalah prinsip, Tulus lebih kokoh berprinsip. Maka dari itu, Rendy tidak pernah meragukan apa yang hendak Tulus lakukan.

            Prinsip itu mudah untuk ditebak. Keputusan yang Tulus ambilpun, akan mudah pula untuk ditebak. Maka dari itu, Rendy selalu bisa membaca apa yang akan dilakukan oleh Tulus. Karena tidak sulit, Tulus melakukan apapun selama dipandangnya baik, ia akan memperjuangkan sekuat tenaganya. Bukan ambisi. Tapi menginginkan haknya .

            “Tulus!!!” Panggil Inong.

            “Iya?!” tanya Tulus dari dalam rumah.

            “Ini kamu dicari Rendy!”

            “Rendy?” tanya tulus berbisik saat ia mendengarkan panggilan itu dari luar kamar tidurnya.

            Seketika kedua bola matanya terbelalak. Tulus menutup bukunya, kemudian ia meletakkan buku itu di atas meja belajarnya berjalan menuju ruang tamu dengan tergesa-gesa. Bahkan, Among yang berada di depan Tulus, dilewati begitu saja oleh Tulus. Among sempat terbingungkan dengan sikap Tulus. Namun, melihat putranya yang demikian, hanya membuatnya menggelengkan kepalanya.

            “Hoy! Rendy!!!” panggil Tulus dengan girang. Tulus berjalan ke arah Rendy. Rendy menyambutnya dengan berdiri dari tempat duduknya.

            “Panggil-panggil… Kau dah lama tak ke rumah,” ucap Rendy dengan logatnya.

            “Hahahaha, maapkan…,” ucap Tulus dengan menepuk pundak Rendy.

            “Tumben ke sini?” tanya Tulus heran.

            “Ah, dasar kau! Teman sendiri tak boleh bermain ke rumahmu?” tanya Rendy.

            Tulus tertawa terbahak, “Bukan begitu. Kan kau biasanya suka menemuiku di pinggiran sungai, atau di sawah Pak Lurah untuk menangkap belut?” ucap Tulus dengan nadanya yang penuh dengan tawa.

            “Kau bisa saja. Biarlah sekali-kali aku ke sini. Rindulah aku ini dengan masakan Nantulang. Ya, kan?” ucap Rendy kepada Inong Tulus.

            “Mau kumasakkan apa kau Ren?” tanya Inong Tulus.

            “Benarkah? Waaaahhh! Senang sekali. Kalau gorengan bagaimana, Nantulang? Rupanya enak. Langitpun, mulai mendung. Terasa sebentar lagi akan hujan. Hangat-hangat dimakan saat hujan. Enak sekali itu,” ucap Rendy kepada Inong Tulus.

            “Ah… kau ini bisa saja. Tunggulah ke sini. Nantulang ke dapur dulu. Nanti kalau sudah, akan Nantulang panggil untuk ambil makannya ke dapur,” ucap Nantulang kepada Rendy yang meringis kuda dengan bahagianya.

            “Siap, komandan!” ucap Rendy dengan memberikan hormat kepada Inong Tulus. Kemudian, dibalasnya dengan senyuman. Lalu, ditinggal ke balakang dan membiarkan kedua pemuda-pemuda itu bebricara sesukanya.

***           

“Ren… kau suka bicara di sini? Atau di kamarku saja?” tanya Tulus memberikan tawaran. 

            “Jika kamarmu rapi, aku akan pertimbangkan,” ucap Rendy.

            “Yalah, yalah… percaya pada kau yang selalu merapikan kamar tidurmu layaknya anak perempuan,” jelas Tulus merendah.

            “Bagaimana tidak? Aku kan anak tunggal. Inong akan marah jika aku tak merapikannya. Kau tahu kan, bagaimana sapu lidi akan melayang di pantatku jika aku tak mematuhi perintah Inongku,” jelas Rendy memberikan ketarangan pembenaran.

            Tulus tertawa lepas. Sejenak, Tulus membayangkan betapa lucunya jika ia harus melihat kembali Rendy kecil yang berlari ketakutan ke rumahnya, dikarenakan Inongnya marah sebab Rendy tidak melakukan kewajiban dasarnya. Seperti merapikan tempat tidur setelah bangun dari tidurnya.

            “Apa itu?” tanya Rendy saat melihat buku yang berada di atas meja ruang tamu.

            Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Tulus akan masa kecil Rendy. Semua itu terlihat dengan jelas. Melekat dalam memorinya, dan enggan untuk pergi meski Tulus mengusirnya dengan banyaknya kegiatan yang biasa ia lakukan sehari-hari.

            “Ini buku latihan soal-soal. Belum kukerjakan sepenuhnya. Aku masih ingin membaca beberapa materi sebagai stimulus sebelum mengerjakan soal-soalnya,” ucap Tulus memberikan penjelasan seraya ia membelai beberapa huruf yang timbul di sampul buku kumpulan soal-soal itu.

            “Aku tak punya buku itu. Kau beli dimana?” tanya Rendy.

            “Kemarin Among membelikannya. Setelah, aku  memberikan pengakuan kalau aku ingin kuliah. Aku tidak memintanya, ya walaupun aku sangat ingin memiliki buku ini. Tapi, Among sudah berinisiatif membelikan ini,” ucap Tulus dengan senyuman tipisnya. Terlihat dari raut wajahnya dan guratan garis di wajahnya, tampak sebuah rasa lega yang keluar dari dalam hatinya.

            “Kamu bagaimana?” tanya Tulus kembali bertanya. Sekaligus, memecahkan keheningan antara dirinya dnegan Rendy yang terdiam seketika setelah adanya pertanyaan yang ia ajukan kepada Tulus.

            “Aku sudah bicara dengan Among dan Inong mengenai keinginanku dan keduanya sudah menyetujuinya,” jelas Rendy singkat.

            “Adakah perdebatan antara keluargamu?”

            Rendy menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia memalingkan wajah tegasnya ke arah luar jendela. Hujan. Jatuhnya air hujan mulai membasahi bumi, Rendy menghirup udara di ruangan itu. Bau tanah basah, masuk ke dalam ruang tamu rumah Tulus terasa begitu melegakan.. Hingga Rendy menghembuskan nafas beratnya. Untuk kali ini diselingi dengan senyuman di sudut bibirnya yang tipis. Simetris meski tidak sesimetris milik Tulus.

            Tulus memandang Rendy. Terlihat dari arah samping, wajah Rendy begitu damai. Berbeda. Sangat berbeda bahkan dari hari-hari sebelumnya. Untu kali ini, Tulus dapat menekankan bahwa seseorang yang ada di depannya, bukanlah Rendy yang ia kenal. Rendy, yang selalu berat dengan segala pikiran yang enggan ia katakan, Rendy yang pembohong dengan segala senyuman yang dimilikinya.

            “Lantas?” tanya Tulus meneruskan pertanyaannya.

            Rendy yang menyadari itu, tak juga ia enggan untuk menolehkan kepalanya kepada Tulus. Rendy sangat menikmati hujan. Untuk kedua kalinya, Tulus tersneyum. Kali ini sangat lebar. Senyuman itu sebuah senyuman yang terlepas dari semua beban. Seolah sudut bibirnya, tak lagi enggan untuk menunjukkan senyumannya. Tulus menyapukan bola matanya ke depan setelah ia menoleh kepada Rendy untuk mempertanyakan sesuatu yang ingin ia tanyakan. Vas bunga itu, memantulkan wajahnya. Begitu pula dengan Rendy. Tulus merasa, waktu yang seperti ini, tidak ingin ia lupakan dan ia ingin mengulang lagi, lagi dan lagi.

            “Hanya Among yang menentang kala itu. Tapi, bukan menentang untuk tidak memperbolehkan aku melanjutkan pendidikan, tapi menentang kenapa aku  mengubur cita-citaku. Kediamanku kepada Among dan Inong, ternyata menyiksa keduanya. Mereka merasa, kalau mereka tidak berhasil mendidikku hingga aku tega mengubur semua keinginanku sejak kecil,” jelas Rendy mengakhiri dengan menolehkan kepalanya kepada Tulus. Tatapan matanya menunjukkan bahwa Rendy menuntut penjelasan pula akan sebuah cerita perjuangan Tulus. Tulus Hutasoit, untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.

            Tulus yang mengerti hal itu menyediakan dirinya untuk menceritakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan Rendy. Hal itu dimulai dengan  meletakkan buku soal-soal dan pendalaman materi itu di atas meja ruang tamu. Tulus membuka ceritanya dengan bahasa yang berbeda dalam panggilan keseharian untuk Rendy. Hal itu cukup memberikan keterangan bahwa Tulus sangat terbuka akan apa yang hendak diceritakan. 

            “Sama, awalnya gue menyangka kalau Inong dan Among bakalan nggak setuju dengan keputusan gue. Perlu digaris bawahi. Keduanya. Tapi saat gue berusaha memberanikan diri, gue tahu semuanya. Lo tahu, pada saat gue mengutarakan bagaimana kemauan gue, gue siap buat diusir dari rumah ini karena murkanya Among. Gue menganggap Inong yang akan membela gue karena kasih sayangnya. Tapi setelah gue menyatakan semua itu. Justru berbalik.”

            Tulus terdiam sejenak. Kedua bola matanya menatap Rendy. Namun, Rendy menemukan bahwa pikiran yang menggerakkan kedua bola mata Tulus, tengah tidak ada di tempatnya. Benar. Tulus tengah mengingat masa-masa sulitnya mengahadapi kedua orang tuanya. Semua itu dilakukan hanya untuk satu keputusan. Tulus, ingin menempuh pendidikan dan menjadi orang bermanfaat bagi orang-orang sekitarnya.

            “Gue gak akan menyangka kalau yang akan menentang adalah Inong, dan justru yang merestui adalah Among. Miris memang. Gue merasa seperti manusia yang durhaka kepada Tuhan. Gue yakin, lo akan menanyakan kenapa gue merasa demikian?” jelas Tulus menebak.

            Benar saja, Rendy menganggukkan kepalanya pelan. Penuh khidmat. Dan, tatapan mata itu, kali ini benar-benar berbeda. Keseriusan yang terpancar dari kedua bola mata Rendy, tak dapat dipungkiri lagi.

            “Bagaimana tidak gue merasakan durhaka kepada Tuhan? Gue sudah menentukan takdir gue sendiri. Dan takdir yang gue doktrin sebagai sebuah kepercayaan akan sesuatu yang udah gue lihat selama keseharian sebagai tolak ukur acuan gue menuliskan takdir gue? Itu semua salah. Gue menganggap Inong akan membela gue dan merestui gue karena Inong terlalu sayang sama gue sehingga beliau tidak akan membuat gue bersedih. Tapi nyatanya, beliau bikin gue bersedih dengan tidak direstuinya gue.”

            “Seketika gue menulis kembali takdir gue di dalam pikiran dan hati gue, bahwa Inong tidak akan membiarkan anaknya bahagia dengan kemauannya sendiri. Inong jahat sama gue, dan semua yang buruk tentang Inong seketika keluar dari kepala dan hati gue. Tapi, tidak saat gue mendengarkan percakapannya dengan Among di ruang kerja itu. Bersama dengan Abang gue, Abang Burju.”

            “Inong menghalangi gue untuk menempuh pendidikan yang jauh dikarenakan beliau tidak ingin gue sakit tanpa rawatan tangan lembutnya, kasih sayangnya, dan juga makanan lezatnya. Lagi-lagi, kasih sayang yang begitu membuncah gue tafsirkan dengan cara yang salah. Jika lo jadi gue? Akankah loh berpikir demikian? Gue yakin iya. Karena posisi kita sama, hanya saja konteks kita yang berbeda,” jelas Tulus mengakhiri ceritanya.



Sumber : Seth Doyle

            Rendy menatap Tulus dengan tatapannya yang penuh dengan kekaguman. Membuncah, ungakapannya hidup dalam setiap kata-katanya. Lagi-lagi, rendy terbawa akan ucapan Tulus yang gila dengan segala tafsirannya. Satu titik yang membuat Rendy bertahan untuk bersahabat dengan Tulus. Hanya satu alasan. Karena dirinya akan selalu membutuhkan Tulus. Setidak butuhnya ia, dan mampunya ia berdiri sendiri tanpa Tulus, yang menguatkan dirinya akan keputusan-keputusan itu hanyalah Tulus. Dan Tulus, dapat menggerakkan seluruh rongga jalar otot yang ada dalam hatinya.

            “Rendy?” tanya seseorang yang tengah berjalan ke arahnya.

            Rendy beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia memberikan salam dengan mengulurkan telapak tangannya, dan menciumnya.

            “Iya Tulang. Rendy main ke sini,” ucap Rendy memberikan keterangan sekaligus meminta izin dalam mimiknya.

            “Sering-sering Rendy main ke sini. Jangan sungkan-sungkan. Biar Tulus tidak suka keluar rumah. Menyusahkan itu. Bensin mobil habis,” jelas Tulang memberikan penjelasan akan keluhan mengenai kelakukan Tulus selama keseharian.

            Rendy tertawa kuda, giginya yang berbaris rapi, memberikan respon renyah menanggapi apa yang dikatakan oleh Tulang. Ayah Tulus.

            “Loh, Tulus… ini minumnya kemana?” tanya Among.

            “Ah.. tadi masih dibikinkan sama Inong. Sekalian dengan gorengannya,” ucap Tulus memberikan keterangan.

            “Oh yasudah kalau begitu,” ucap Among.

            “Rendy, pulang agak malam nggak papa. Nanti biar Tulang yang mengantarkan, atau kalau perlu menginap di rumah saja. Nanti biar Tulang yang akan bicara dengan kedua orang tua Rendy agar tidak kawatir,” ucap Tulang.

            Rendy tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.

            “Lihat nanti saja, Tulang. Jika hujan reda lebih cepat Rendy akan kembali ke rumah. Jika tidak, hingga larut malam, Rendy akan memilih menginap di sini. Daripada Tulang harus mengantarkan Rendy ke rumah,” ucap Rendy memberikan jawaban akan keputusan apa yang akan diambilnya.

            “Yasudah kalau begitu, Tulang tinggal keluar dulu ya. Ingin mengambil sesuatu dulu,” ucap Tulang.

            Rendy menganggukkan kepalanya seraya mempersilahkan. Dan ayah Tulus membalasnya dengan senyuman pula. Tulus yang berperan sesungguhnya sebagai anak, hanya menampakkan wajah datarnya.

            Setelah ayah Tulus meninggalkan Rendy, Rendy kembali duduk di tempatnya semula. Tentu saja dengan senyuman kembali, dan senyuman itu membuat Tulus bertanya-tanya.

            “Lo kenapa lagi Ren?” tanya Tulus kepada Rendy.

            “Nggak kenapa-kenapa sih.”

            “Oh… gue kira kenapa. Soalnya rada ada yang beda aja,” tukas Tulus.

            “Lus, gue boleh nanya sesuatu nggak?” tanya Rendy dengan nada intonasinya yang menyelidik dan bersifat rahasia hingga Rendy mengajukan pertanyaannya dengan sedikit berbisik.

            “Ada apaan sih? Lo jangan bikin gue penasaran gini deh,” ucap Tulus.

            “Seharusnya yang penasaran itu gue kali,” jelas Rendy.

            “Iya ada apaan?” tanya Tulus ingin sesegera mungkin.

            “Kenapa lo sama bokap lo bawa-bawa buku sih? Tadi, waktu gue masuk ke sini, gue juga lihat nyokab lo lagi baca buku,” terang Rendy.

            “Oh… itu… itu mah udah biasa,” ucap Tulus.

            “Hah? Maksudnya gimana?” tanya Rendy masih tak mengerti.

            “Keluarga gue selalu baca buku sesuai dengan kenginan masing-masing setelah makan pagi,” ucap Tulus memberikan keterangan.

            “Oh, seperti rutinitas begitu?” tanya Rendy.

            Tulus menganggukkan kepalanya mantab. Memastikan bahwa Rendy mengerti akan apa yang sudah ia jelaskan.

            “Itu udah sejak lo lahir atau gimana?” tanya Rendy menyelidik.

            “Sejak Inong menikah dengan Among,” ucap Tulus.

            “Ah, jadi keluarga Hutasoit gemar membaca?” ucap Rendy memastikan.

            “Mmmmm,” ucap Tulus menganggukkan kepalanya lagi.

            “Ada perpustakaannya dong?” tanya Rendy lagi.

            “Kalau untuk perputakaan, enggak dulu. Karena bahan bacaan dan selera kita masing-masing. Paling tidak, setiap ruangan kamar akan Among sediakan ruang kerja masing-masing. Di sana akan ada rak yang disediakan oleh Among. Jika memang masih kurang, Among akan menambahkan rak lagi untuk stok buku yang akan kita baca,” ucap Tulus memberikan penjelasan serinci mungkin.

            Rendy hanya membalasnya dengan berdeham. Kemudian, berpikir akan beberapa hal yang membuat dirinya kembali terdiam karena tengah asik dengan pikirannya sendiri.

            “Kalau keluarga lo, gimana?” tanya Tulus kepada Rendy.

            “Berkebun di belakang rumah,” ucap Rendy singkat.

            “Lalu hasil kebun dijual?” tanya Tulus.

            Rendy menggelengkan kepalanya cepat seraya mengeluarkan jari telunjuknya untuk menambahkan bantahannya.

            “Terus dikemanain dong?” tanya Tulus lagi.

            Saat Rendy hendak menjawab, Inong datang memberikan sambutan bahwa gorengan tengah matang dan siap untuk dimakan. Inong berjalan ke a rah Tulus dan juga Rendy untuk menyajikan makanannya. Sedangkan Abang Burju datang membawa minumannya untuk membantu Inong menyelesaikan tugasnya. Menjamu Rendy.

            “Terimakasih, Nantulang,” ucap Rendy kepada Ibu Tulus.

            “Sama-sama sayang. Habiskan ya? Nantulang membuatnya susah itu. Khusus untuk Rendy yang datang kemari. Karena, jarang-jarang Rendy bermain ke sini.”

            Rendy menjawabnya dengan senyuman ringan.

            “Oh iya Tulus, kalau kurang bilang ya, di belakang masih ada. Nanti kamu bawa kemari,” jelas Ibu Tulus.

            “Iya Among,” ucap Tulus menyanggupi.

            “Kalian bisa lanjutkan obrolannya, Abang mau ke dalam dulu dengan Inong,” ucap Burju mempersilahkan.

            “Jangan lupa dimakan ya…,” seru Nantulang seraya berjalan meninggalkan ruang tamu.

            “Makan dulu, Ren,” pinta Tulus seraya mengambil biji gorengan itu.

            “Oke,” ucap Rendy menyetujui.

            “Sambil lanjut, sampai mana tadi?” tanya Tulus.

            “Sampai dikemanakan hasil kebunku di belakang rumah,” ucap Rendy.

            “Ah ya, itu.”

            “Dimakan sendiri,” ucap Rendy.

            “Sehat ya kalau begitu.”

           



Sumber : Valentino Funghi

Rendy menganggukkan kepalanya dengan menikmati makanannya. Mereka berdua terhanyut oleh lezatnya makanan yang disajikan oleh keluarga Tulus. Bahkan, Tulus yang sudah terbiasa dengan masakan ibunya, masih saja menikmati layaknya Rendy yang jarang atau bahkan dapat dihitung jari kapan Rendy dapat menikmatinya.

            Untuk sejenak, mereka terdiam. Tidak ada topik yang akan mereka bicarakan. Hanya sebuah dehaman kenikmatan akan makanan yang tengah disajikan. Sampai akhirnya, Rendy yang membuka pembicaraan terlebih dahulu.

            “Lus…,” panggilnya yang masih asik dengan makanannya.

            “Ya?”

            “Nggak akan nyangka aja, kalau jadinya bakal kayak gini,” ucap Rendy singkat. Meski begitu, Tulus masih tidak mengerti akan apa yang telah diucapkan oleh Rendy.

            “Masih nggak ngerti?” tanya Rendy saat melihat raut wajah Tulus.

            Tulus menjawabnya dengan anggukan kepalanya.

            “Gue sama lo, mengira kalau kita akan jadi pria yang bodoh, tidak terpelajar, dan banyak hal yang bakal bikin kita nggak punya harga diri. Apalagi dengan era jaman seperti ini. Mungkin kita nggak akan punya hak untuk mencintai seseorang karena keterbatasan kita. Bisa sih bisa, tapi sangat terbatas. Sampai sini, lo ngerti kan maksud gue kayak gimana?” tanya Rendy.

            Tulus mulai menerka. Ia meresapi kata demi kata yang diucapkan oleh Rendy. Sampai akhirnya, ia menemukan artinya dan tersenyum. Memberikan sorotan matanya kepada Rendy bahwa apa yang terjadi adalah sesuatu yang luas biasa. Bahwa usaha tidak akan menghianati hasil. Meski hasil tidak sebanding dengan usaha. Sama seperti saat musisi bermain seruling dengan usahanya meniup, barulah hidup lagu tersebut. Walaupun lagu itu kurang bagus karena tidak ada liriknya. Dan, itulah usaha Tulus dan juga Rendy untuk memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan, dan apa yang seharusnya disingkirkan.

***

Tinggalkan Balasan