Wanita dan Perempuan #CerpenKita Episode 13


Kura-kura dapat bercerita lebih banyak tentang jalan daripada kelinci.
-Kahlil Gibran-

By : Hikarinoshita Hikari

Episode Sebelumnya…

Rendy mendongkakkan kepalanya, ia memejamkan matanya seraya telapak tangan kekarnya memegang perut yang sudah tak lagi protes seperti sebelumnya. Ia menikmati setiap helaian angin, hiruk-pikuk bandara. Suara dan rasa yang telah ia rasakan, pelan dan pelan mulai melesap tak tahu dimana tempat dan arahnya. Suara itu, semuanya, segalanya mulai melesap dalam rasa yang begitu nyaman. Yah… kenyamanan itu ia rasakan di balik kenyang.

                    “Ren. Rendy… Rendy,” panggil Tulus saat ia telah menghabiskan makanannya.

                    “Dia kenapa? Mati?” tanya perempuan itu.

                    “Bahaya ini anak,” gumam Tulus saat ia melihat Rendy masih terpejam dengan kepala yang mendongkak dan kedua matanya yang tertutup.

                    “Hah, serius dia mati?” ucap perempuan mungil itu saat mendengar gumaman yang diucapkan oleh Rendy.

                    Tulus tidak menjawab pertanyaan perempuan itu. Ia lebih memilih untuk beranjak dari tempat duduknya. Berjalan mendekati kursi Rendy dengan keadaan yang menakutkan. Perempuan itu cukup membuat Tulus sedikit kawatir dengan degup jantungnya yang mulai tidak beraturan.

                    “Ren,” ucap Tulus seraya menepuk pundak Rendy. Tetap. Posisinya masih tetap. Rendy masih memejamkan matanya. Dan bibirnya terkatub rapat.

                    “Ah. Tolong jangan gini dong. Aku nggak tahu harus gimana. Pertolongan pertamanya kek apa ini?” gumam perempuan mungil itu dengan mengusap kepalanya. Ia berjalan ke kanan dan ke kiri. Mondar-mandir dengan langkah kakinya yang cepat.

                    “Kau pikir aku mengerti? Akupun tak mengerti kenapa Rendy macam ini,” ucap Tulus seraya mengguncang tubuh Rendy sedikit lebih keras.

                    “Kalian pikir aku mati apa? Mataku lelah, panas rasanya. Makanya aku pejamkan. Kaupun bodoh kali Lus. Tak lihat kah kau, nafasku mulai teratur hah?”

                    “Rendy!!!” panggil perempuan itu dengan mengepalkan telapak tangannya.

                    “Apalagi? Kau panggil-panggil aku. Kalian itu, berisik. Tau tak?” ucap Rendy menimpali. Tentu saja dengan kedua mata yang masih tertutup.

                    Tulus mengambil nafas dalam-dalam. Dada bidangnya membungsung. Ia menatap Rendy dengan tatapan datar. Kemudian, Tulus menarik lengan Rendy dengan keras.

                    “Shittt!!! Sakit bodoh!!!” ucap Rendy memekik.

                    “Kau mau di sini terus atau jalan? Sopir sudah datang.”

                    “Mana ada? Tahu dari mana kau?” tanya Rendy.

                    Tulus menghembuskan nafasnya cepat. Ia memalingkan kepalanya. Kemudian, menunduk dan kembali menatap Rendy dengan wajahnya yang sebal. Tanpa memberikan suara, Tulus menunjuk ke arah luar Resto. Perempuan itu dan Rendy memutar bola matanya. Mencari objek yang dimaksud oleh Tulus.

                    Dari kejauhan terlihat seseorang menunjukkan selembar kertas. Berjalan ke sana-kemari. Pawakan tubuhnya yang tinggi dan jangkung, potongan rambut yang cepak, basah, mengkilat. Menggunakan baju warna stone dan tertulis di kertas itu ‘Ramos Hutasoit’.

                    “Itu supir kalian?” tanya perempuan mungil itu kepada Tulus.

                    “Akhirnya…. Aku hidup kembali,” ucap Rendy dengan menengadahkan kedua telapak tangannyake atas. Kemudian, mengusap wajahnya, dan menunjukkan tanda syukur. Belum lama ia mengucapkan hal tersebut, Rendy sudah beranjak dari tempat duduknya dan membawa semua barang bawaannya. Ia berjalan keluar pintu dan menghampiri orang tersebut. Yah.. supir yang dipesan oleh Ramos.

                    “Nah, kan giliran gini aja kita orang ditinggal sama dia,” ucap Tulus dengan wajahnya yang masam.

                    Perempuan mungil itu tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menepuk pundak Tulus yang kekar di balik jacket hitamnya. Tulus membalas tepukan ringan di pundaknya dengan wajahnya yang mulai mereda panas masamnya karena tingkah sahabatnya yang satu itu.

                    “Udah yuk jalan. Keburu malem tahu,” ucap perempuan itu seraya menarik kopernya dan berjalan meninggalkan meja makan pesanan mereka. Begitu juga dengan Tulus setelah Tulus menganggukkan kepalanya.

***

                    Selama di dalam mobil, hanya terdengar suara deru mesin yang ringkih. Suara mesin itu, ringkih nan rapi. Mungkin, jika dibandingkan dengan mobil yang biasa dikendarai oleh Ramos, sedikit lebih baik mobil yang mereka tumpangi kali ini. Di tengah keheningan mobil, terdengar nafas yang begitu jelas. Nafas, yang berasal dari kerongkong tenggorokan. Rendy.

                    Yah.. lagi-lagi, Rendy membuat ulah. Mendengkur. Ia mendengkur dan membuat berisik seluruh penghuni mobil. Kecuali, supir yang tengah mengemudi. Ia justru tersenyum seraya melihat Rendy. Kemudian, menggelengkan kepalanya ringan. Berbalik dengan Tulus. Ia mengalihkan wajahnya ke samping. Memandang menembus jendela. Menikmati hilir hilangnya setiap petak objek yang telah ia lihat saat objek tersebut dilewati oleh mobil.

                    “Masnya kayaknya capek ya?” tanya supir dengan memantulkan pandangnya melalui cermin yang terletak tak jauh dari kepalanya.

                    “Mas siapa nih, Pak? Di sini ada dua laki-laki,” ucap perempuan mungil itu.

                    “Yang ada di samping, Mbaknya.”

                    “Oh ini, bisa dibilang gitu,” ucap perempuan itu.

                    Tulus yang memperhatikan hal tersebut menolehkan kepalanya. Kemudian, bergantian memperhatikan perempuan mungil itu, dan juga supir yang masih berkomunikasi. Supirpun mengalihkan pandangan matanya ke arah kaca atas dekat dasbor depan mobil.

                    “Itu yang ada di samping Mbaknya. Namanya siapa?”

                    “Tulus,” ucap perempuan mungil itu.

                    “Namanya Tulus, to.. bagus, bagus,” ucap supir itu dengan logat dan gaya bahasa yang sama persis dengan apa yang sudah dikatakan oleh Kakek yang tadi saat berada di Bandara.

                    “Bisa dibilang gitu, Pak.”

                    “Masnya bisa tidur saja, nanti kalau sudah akan Bapak bangunkan,” ucap supir itu.

                    “Nah tuh, dengerin! Yaudah tidur aja,” ucap perempuan itu dengan menarik topi jaket yang berserak dipundak kekarnya dan menarik ke arah kepalanya. Hingga tidak terlihat lagi wajah Tulus dengan jelas

                    Perempuan mungil itu menepuk pundak Tulus dengan perlahan. Seperti, membelai bagi Tulus. Hingga ia tak lagi bisa mendengarkan deru angin, arus kendaraan, dan kembali merasakan apa itu kesunyian dalam kenyamanan. Sunyi dan nyaman, bersama dengan gelap.

                    Dada bidangnya naik turun dengan teratur, aroma tubuh dan nafas halusnya terdengar begitu jelas. Menjadi irama dan alunan melodi yang sangat harmoni. Sungguh, lagu sederhana itu, cukup membuat perempuan mungil itu, kembali terlelap setelah ia berada di dalam pesawat tadi.

***

By : Amelia Yusana

“Biarin dia tidur, jangan bangunkan dia. Biar kuangkat dia saja ke kamar. Aku nanti tidur di luar,” ucap Tulus saat melihat telapak tangan Rendy mendekat ke arah perempuan mungil itu.

                    “Atau bisa saya saja yang angkat, Mas. Ini saudaranya Mas?”

                    “Bukan, kita nemu dia di bandara tadi. Kita banyak ditolong sama dia,” jelas Rendy.

                    “Berarti tadi dia berangkat bukan dengan Masnya ini?” tanya supir itu memastikan.

                    Rendy dan Tulus sama-sama menolehkan kepalanya. Mereka menatap supir itu dengan tatapan menuntut untuk memberikan keterangan akan jawaban dari pertanyaan yang sudah dilontarkan olehnya, ‘Memangnya kenapa?’.

                    Nihil, Supir itu tidak lagi memberikan jawaban. Ia hanya ternganga mendengar jawaban dari Tulus bahwa ia akan tidur di luar dan membiarkan perempuan mungil itu tidur di dalam kamarnya.

                    “Masnya tahu alamat rumah perempuan ini? Ah.. bukan, bukan. Atau bisa juga dengan begini saja, tempat yang hendak di tuju. Biar saya antarkan saja,” ucap supir itu menawarkan.

                    Lagi-lagi, jawaban yang didapatkan oleh supir itu hanya bahasa tubuh dua lelaki muda yang tergolong tampan bagi supir itu. Gelengan kepala. Dan, baiklah supir itu hanya menganggukkan kepalanya ringan.

                    Suasanapun mulai hening. Tulus yang masih bingung dengan bagaimana ia bertingkah memberikan sikap untuk mengangkat perempuan mungil itu tanpa harus membangunkannya. Yah… ia memikirkan cara untuk melakukan hal itu. Sungguh, Tulus benar-benar tidak ingin membangunkan perempuan mungil itu.

                    Sedangkan Rendy, ia sibuk membuka matanya agar tidak kembali terlelap seperti saat berada di perjalanan. Begitu juga demikian dengan supir yang mengantar mereka. Ia hanya bisa mengetukkan jari telunjuknya di atas kemudi mobil, dan memikirkan beberapa hal yang tak bisa dibaca oleh siapapun dan hanya bisa dirasakan oleh dirinya sendiri. Namun, gerak tubuhnya terlihat begitu jelas bahwa supir itu telah memikirkan hal yang membuatnya kawatir. Kedipan matanya, tak terhenti dengan waktu yang normal.

                    “Bapak kenapa?” tanya Rendy.

                    Supir itu masih terdiam. Tentunya, masih melakukan hal yang sama. Yang dilakukan sebelumnya. Mengetukkan jari telunjuknya di atas kemudi dengan mengedipkan kedua bola matanya cepat.

                    “Pak,” panggil Rendy lagi.

                    “Bapak jangan mikir aneh-aneh. Jangan kawatir, kita nggak akan berbuat yang macam-macam. Semua masih ada di batas normal kok,” ucap Tulus menyambar.

                    Sambaran ucapannya cukup membuat supir itu mengalihkan kepalanya, dan menghentikan kedipan matanya yang cepat, sekaligus ternganga kembali seperti kala itu. Benar saja, supir itu tidak menyangka bahwa Tulus bisa membaca apa yang sedang ada di dalam pikirannya.

                    “Ya ampuuuunnn,” ucap Rendy dengan menjitak jidatnya sendiri.

                    Dengusan nafas terdengar begitu jelas di sela-sela suara Rendy. Tawapun mengiringi suara Rendy. Tak hanya itu saja, tawa itu berasal dari supir yang mendengarkan tawa Rendy. Mungkin, bagi supir itu tawa Rendy menular.

                    “Udah sampek ya?” tanya perempuan mungil itu dengan menarik seluruh otot tubuhnya dengan menggerakkan tangannya dan menahannyanya dengan jemari mungilnya yang saling mengait.

                    “Yah, dia bangun Lus? Gimana dong? Kau tak jadi gendong dia jadinya,” ucap Rendy ekspresif.

                    Perempuan mungil itu membelalakkan kedua bola matanya. Semakin bulat saja kedua bola mata itu. Seperti boneka yang biasa terpampang di toko. Perempuan mungil itu, juga menutup mulut ciut dan tipitnya dengan jemarinya yang lentik. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya perlahan, perlahan dan semakin cepat.

                    “Apa?” tanya Tulus tak mengerti apa yang diberikan tubuhnya melalui gerak untuk berkomunikasi dengan Tulus.

                    “Dasar mesum!!!!” ucap perempuan itu dengan menepukkan tas kecilnya ke wajah Tulus. Sontak saja, Tulus melindungi tubuhnya dengan lengan dan telapak tangannya yang kekar. Arah toleh kepala Rendy dan supir mengikuti lengan perempuan mungil itu. Yah, mereka tak melerai dan meredakan pukulan perempuan mungil itu.

                    “Kau..”

                    “Dasar mesum!!!!”

                    Belum sempat Tulus berbicara. Perempuan itu sudah kembali memukulnya. Alhasil, Tulus lebih memilih melindungi dirinya dan mendesis kesakitan. Dari desis sakit itulah, Rendy dan supir menolongnya.

                    “Eh Mbak, ini Tulus nanti benyek kalau kau pukul dia macam dia anjing,” ucap rendy dengan meraih tas kecil itu dari telapak tangan yang mungil.

                    Hal ini tidak berdampak, bagi perempuan itu. Tentu saja, perempuan itu tidak kehabisan akal untuk menyakiti Tulus. Jika senjatanya sudah dirampas oleh Rendy, ia masih memiliki senjata yang lain. Telapak tangan. Yah, telapak tangan itu memukul lengan Tulus yang tengah melindungi dirinya. Perempuan mungil itu memukul dengan cara yang sama saat ia membawa tas kecil tadi.

                    “Mbak, Mbak udah,” ucap supir itu melerai.

                    Sayangnya, perempuan itu tak juga memutuskan untuk menerima leraian itu. Hingga sampai pada titik, Tulus membuka benteng perlindungannya dan menerima beberapa pukulan di tubuhnya. Dengan menahan rasa panas dan nyeri di kulitnya meski pukulan itu tak menyentuh kulitnya secara langsung. Tulus memberikan ruang beberapa detik kepada perempuan itu untuk terus meluapkan emosinya. Namun, tidak lagi saat ini saat telapak tangan Tulus menangkap kedua lengan perempuan mungil dan memegangnya dengan erat. Sehingga, secara otomatis perempuan mungil itu lak lagi bisa bergerak kembali.

                    “Rasakan kau ya!!!” ucap Tulus geram saat perempuan itu mengerutkan keningnya dan meringis sakit merasakan genggaman Tulus yang erat. Sedangkan, perempuan mungil it uterus berusaha bergerak.

                    “Lepasin nggak?!!!” ucap perempuan mungil itu dengan nadanya yang mengancam.

                    “Nggak akan sebelum kau dengar penjelasanku. Paham kau!” ucap Tulus tak kalah mengancam.

                    Mendengar sancaman semacam itu, perempuan mungil itu terus melakukan gerakan dan berusaha memberontak. Akan tetapi, apalah daya baginya jika Tulus dengan tenaga yang sesuai dengan postur tubuhnya lebih kuat dibandingkan dengan perempuan mungil itu. Jelas saja, gerakan perempuan mungil itu semakin mengendor, dan mengendor. Kemudian, berakhir dengan berhenti dan hanya meringis merasakan sisa sakit dan panas di kulitnya sebab gesekan antara kulitnya dan kulit Tulus tergesek dengan keras.

                    “Lelah kau sekarang, hah?” ucap Tulus memberikan rasya syukur atas kesakitan yang dirasakan oleh perempuan mungil itu.

                    Perempuan mungil menjawabnya dengan raut wajah yang menyeramkan. Baginya. Tapi tidak bagi Tulus. Raut wajah itu, terlihat lucu dan menggemaskan. Bahkan dengan raut wajah yang demikian, Rendy tertawa terbahak. Sedangkan supir, tertawa renyah dengan menggelengkan kepalanya ringan. Jadilah bibir ciut dan tipis itu, semakin mengerucut melihat tingkah dan sikap orang-orang di sekitarnya.

                    “Aku nih, mau gendong kau karena kasihan lihat muka kau. Tidur kau nyenak sekali, bahkan saat mobil berhenti saja, kaupun tak sadar. Apa itu namanya kalau bukan kau tidur nyenak. Eh bodo! Kau tuh harusnya kasih terimakasih ke aku orang ini. Bukan kau gebukin macam ketemu anjing begitu. Tak tega aku lihat perempuan kelelahan macam itu. Jadi ingat, Inong aku di rumah,” ucap Tulus memberikan penjelasan.

                    “Inong itu kan pacarmu! Nah aku?!!!”

                    Kembali gelak tawa terdengar dari mulut Rendy. Tawanya kali ini, terdengar lebih keras dibandingkan dengan sebelumnya. Ia terjungkal-jungkal dengan menepuk sandaran kursi mobil. Tulus hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum di sudut bibirnya. Sedangkan supir masih bertanya-tanya dengan gelak tawa yang dikeluarkan oleh mulut Rendy.

                    “Mana ada Inong itu pacar? Inong itu bukan nama orang. Inong itu panggilan untuk seorang perempuan yang melahirkan kita. Kalau bahasa Indonesia, itu berarti Ibu. Paham tak kau?” ucap Tulus memberikan penjelasan.

                    Seketika bibir perempuan itu membulat. Menandakan kalau perempuan itu, mengerti akan penjelasan yang diberikan oleh Tulus. Dan mengangguklah kepala supir yang juga mulai mengerti akan arti tawa Rendy.

                    “Kenapa kamu bisa begitu?” tanya perempuan mungil itu.

                    Tulus melepaskan genggaman tangannya. Menyingkirkan lengan perempuan kecil itu dari genggamannya. Iapun bersandar di kursi mobil, dan duduk lebih rendak agar kepalanya berada di posisi yang tepat.

                    “Karena Kura-kura dapat bercerita lebih banyak tentang jalan daripada kelinci. Kahlil Gibran menggunakan kata-kata itu. Sama halnya aku, aku bisa bertindak lebih banyak dan kau bisa berpikir aneh-aneh lebih banyak karena kau mengalami proses itu semua. Aku teringat tidur Inongku, bagaimana lelahnya dia menjalani hari, menyiapkan aku makan, menyiapkan kami semua baju yang bersih dan rapi, menyiapkan camilan ringan yang enak dan membuat nyaman perut kami. Sehingga kau dengan proses itu, kau berpikir untuk melindungi diri kau, kau ingin menjaga harga diri kau, dan kau ingin dipandang sebagai perempuan. Bukan wanita. Kita semua pernah menjalani sebuah proses, maka dari itu kita bisa bercerita. Melalui cerita itu, bisalah dan jadilah kita bertindak,” jelas Tulus.

                    “Apa bedanya perempuan dan wanita?” tanya perempuan mungil itu.

                    “Haruskah aku jawab? Tak pernahkah kau baca buku? Itu ada di salah satu buku yang menjelaskan dengan estetika bahasa,” ucap Tulus memberikan keterangan.

                    “Hmmm, bukunya tebal dan dibacapun sangat membosankan,” ucap Rendy.

                    “Memang isi bukunya apa?” tanya perempuan mungil itu.

                    “Wanita, itu berasal dari kata ‘Wani’ dan ‘Tata’ Kalau digabungkan menjadi ‘Waniditata’ yang berarti kau berani di tata oleh siapapun. Dalam artian lainnya, kau bisa di tata oleh orang-orang sekitarmu. Sehingga, kau tak memiliki prinsip yang kau inginkan, yang berasal dari diri kau sendiri. Sedangkan harga diri seseorang dilihat dari prinsipnya. Melalui prinsip itulah dilihat betapa terhormatnya seseorang tersebut. Karena prinsip, adalah cerminan dari sikap yang akan kau berikan kepada seseorang yang lain,” jelas Tulus.

                    “Maka dari itu aku tak ingin dipanggil wanita. Aku ingin dipanggil perempuan,” ucap perempuan mungil itu.

                    “Kalau kau memang ingin dipanggil perempuan, seharusnya saat kau melihat tindakanku, kau tak langsung berpikir aku mesum. Bisa kau tanya dulu aku, kemudian resapi jawabanku, dan kau filter bagaimana jawabanku, kemudian interpretasikan berdasarkan prinsipmu. Bukan kau gebukin aku,” ucap Tulus memberikan jawaban.

                    Perempuan mungil itu mengalihkan pandangannya. Ia memutar kepalanya kea rah jendela, dan menggeser tempat duduknya sedikit lebih jauh dari Tulus. Rendy yang mendengarkan penjelasan Tulus hanya bisa mengatupkan bibirnya. Begitu juga dengan supir. Bedanya, supir sembari menganggukkan kepalanya berulangkali dengan ritme yang ringan. Sedangkan Rendy tidak. Sebab, Rendy telah mengetahui definisi apa itu ‘Wanita’ dan apa itu ‘Perempuan’.

                    “Ah sudahlah. Ayo masuk ke dalam. Sudah lelah tubuh aku. Ingin aku lepas lelahku dengan mandi. Keringat tubuh aku bikin aku lengket. Jadi aku tak nyaman pakai baju ini lagi,” ucap Tulus dengan membuka pintu mobil.

                    Dengan cepat supir membuka pintu mobil dan berjalan mendahului Tulus untuk mengambil barang di bagasi. Ia memperlakukan Tulus sebagaimana siapa Tulus dan Rendy sebagai majikan. Yah… majikan dengan setitik pandangannya yang lebih luas dan berhasil menggugahnya.

                    Sedangkan perempuan mungil itu masih terduduk nyaman dengan entah dimana otak dan pikirannya. Entah kondisinya yang sekarang ia tengah berkomunikasi dengan dirinya sendiri apakah ia masih dianggap ‘Wanita’ atau ‘Perempuan’ atau ia masih berusaha memberikan dan memikirkan prinsip bahwa ia harus menjadi seorang ‘Perempuan’.

                    “Turun!” ucap Tulus dengan mengetuk kaca mobil yang dekat dengan perempuan mungil itu.

                    Perempuan itu tak kunjung membuka pintu mobil. Ia masih berada di posisi yang sama. Cukup membuat Tulus geram. Hingga Tuluslah yang membuka pintu mobil. Dan menarik perempuan mungil itu untuk keluar dari mobil.

                    “Kau tidur di kamarku. Biar aku tidur dengan Rendy. Sudah malam, besok kita akan tes Universitas. Kalau kau memaksa untuk kembali ke tempat penginapan kau dengan menggunakan supir kami, nanti akan makin larut. Lebih baik, kau ikut kami dan besok ikut perjalanan sesuai dengan jadwal saja. Besok bangun pagi, biar kita tak terlambat untuk antar kau lebih dulu, atau supir antar kau setelah antar kami. Kita lihat saja, mana jarak terdekat universitas kau dan aku,” jelas Tulus.

                    Perempuan mungil itu masih terdiam. Ia mematung. Namun, tak lagi jadi mematung saat Rendy menarik hijabnya agar perempuan itu mengikuti langkah mereka masuk memasuki penginapan. Begitu juga dengan supir yang membantu membawa semua barang yang ada di dalam bagasi mobil.

                    “Bawa ini,” ucap Tulus kepada perempuan mungil itu dengan memberikan kunci kamar semacam kartu kredit.

                    “Malam kecil,” ucap Rendy dengan melambaikan tangannya. Sedangkan Tulus berjalan meninggalkan perempuan mungil itu ke arah kamar yang sesuai dengan nomor yang tertera di atas kunci.

                    “Aku, akan berusaha menjadi perempuan,” gumam perempuan mungil itu dengan menatap kunci yang berada di atas telapak tangannya. Senyuman tipis dan damainya terlihat begitu jelas dari sudut bibirnya. Pukul dua belas malam. Perempuan mungil itu, Khika Ratu Raharja, memutuskan siapa dirinya.

***

Tinggalkan Balasan