Di tengah banjir konten Threads yang saling berebut atensi dengan drama, opini keras, dan debat kusir, satu konten dari akun @marioandaru justru viral dengan pendekatan yang sangat berbeda: tenang, sederhana, dan terasa personal.
Kontennya membahas satu ide utama:
Manusia sebenarnya punya dua “otak”: otak di kepala dan otak di usus.
Bukan topik baru di dunia sains. Namun cara penyampaiannya membuat konten ini menyebar luas, disimpan, dikomentari panjang, dan dibagikan ke circle kecil. Artikel ini akan membedah kenapa konten tersebut viral, dari sisi psikologi audiens, struktur konten, hingga cara algoritma Threads bekerja.
1. Hook Sederhana yang Mengguncang Asumsi Lama
Kalimat pembuka konten ini berbunyi santai:
“Serius deh, kita itu sebenarnya punya dua ‘otak’.”
Hook ini bekerja karena:
- Kontra-intuitif (menantang pengetahuan umum)
- Tidak terdengar akademis
- Memancing rasa penasaran tanpa memaksa
Alih-alih membuka dengan data atau istilah ilmiah, creator langsung menyerang asumsi dasar audiens. Ini membuat orang berhenti scroll dan berpikir, “Maksudnya gimana?”
2. Relatable ke Pengalaman Sehari-hari
Konten ini tidak berhenti di fakta. Ia langsung dikaitkan dengan pengalaman universal:
- Mood berantakan tanpa sebab jelas
- Emosi gampang naik turun
- Perasaan capek mental yang tidak rasional
Banyak orang pernah mengalami hal-hal tersebut, tapi tidak punya kerangka untuk memahaminya. Konten ini berfungsi sebagai validasi pengalaman, bukan sekadar edukasi.
Efeknya:
Audiens merasa “dibaca”, bukan “diajari”.
3. Visual yang Mempermudah Pemahaman Instan
Ilustrasi 1st brain (otak) dan 2nd brain (usus) memainkan peran besar dalam viralitas konten ini.
Visual tersebut:
- Mengurangi beban kognitif
- Mempercepat pemahaman
- Membuat konsep abstrak terasa konkret
Di platform seperti Threads, visual yang bisa dipahami dalam hitungan detik adalah aset besar untuk shareability dan save.
4. Nada Netral, Tidak Menggurui
Salah satu kekuatan terbesar konten ini adalah tone komunikasi.
Tidak ada:
- “Kamu salah”
- “Makanya hidupmu begitu”
- “Seharusnya kamu…”
Yang ada hanyalah:
“Ini faktanya.”
Nada netral ini menurunkan resistensi audiens. Orang lebih terbuka menerima informasi ketika mereka tidak merasa dihakimi atau diposisikan lebih rendah.
5. CTA Tidak Eksplisit, Tapi Efektif
Konten ini tidak menggunakan CTA klasik seperti:
- “Menurut kamu gimana?”
- “Setuju nggak?”
Namun justru di situlah kekuatannya.
CTA muncul secara alami di kepala pembaca:
- “Oh pantesan selama ini…”
- “Gue banget”
- “Berarti masuk akal dong”
Komentar yang muncul bukan basa-basi, tapi refleksi personal. Ini jenis engagement yang sangat disukai algoritma Threads.
6. Psikologi Algoritma Threads yang Terpenuhi
Threads mendorong konten yang:
- Memicu komentar panjang
- Menghasilkan cerita balasan
- Dibagikan ke circle kecil (DM, repost kontekstual)
Konten @marioandaru memenuhi semuanya karena:
- Mengajak refleksi diri
- Memberi bahasa untuk pengalaman personal
- Aman untuk dibagikan tanpa konflik
Algoritma hanya memperluas apa yang manusia respons secara emosional.
7. Kenapa Konten Ini Mudah Diadaptasi (ATM Content)
Struktur konten ini sangat adaptif untuk berbagai niche:
Contoh adaptasi:
- “Kenapa mood rusak sering bukan karena pikiran, tapi tubuh.”
- “Kadang yang capek bukan otak, tapi sistem pencernaan.”
- “Tubuh sering lebih jujur daripada logika.”
Tanpa clickbait. Tanpa drama. Tapi tetap nempel.
8. Insight Utama: Konten yang Membuat Orang Menghela Napas
Di Threads, konten yang viral tidak selalu yang paling keras atau paling pintar.
Seringkali, yang paling kuat adalah konten yang membuat orang berhenti sejenak dan berpikir:
“Oh… pantes.”
Konten @marioandaru berhasil karena:
- Tidak menggurui
- Tidak playing victim
- Tidak mencari simpati
Ia hanya jujur dan relevan.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Kenapa topik sederhana bisa viral di Threads?
Karena audiens Threads cenderung menyukai konten reflektif, ringan, dan relevan dengan pengalaman pribadi, bukan debat atau sensasi.
2. Apakah konten edukatif masih bisa viral tanpa drama?
Bisa, selama disampaikan dengan bahasa awam, visual jelas, dan tidak menggurui.
3. Apa kunci utama viralnya konten ini?
Validasi pengalaman audiens + hook kontra-intuitif + tone netral.
4. Apakah format ini bisa dipakai untuk niche lain?
Sangat bisa. Framework “fakta sederhana + pengalaman personal” bersifat universal.
5. Lebih penting mana, isi atau visual?
Keduanya saling menguatkan. Visual membantu berhenti scroll, isi membuat orang stay dan berkomentar.