Pendahuluan
Konten dari akun @folkyogya di Threads yang membahas studi tentang minat baca Gen Z berhasil menarik perhatian ribuan pengguna.
Bukan karena provokasi generasi, bukan pula karena sensasi, tetapi karena konten ini mematahkan stereotip lama yang selama ini dianggap sebagai kebenaran.
Banyak orang percaya bahwa Gen Z adalah generasi yang malas membaca, terlalu sibuk scrolling, dan kehilangan literasi. Namun satu konten sederhana dengan data justru membalik asumsi tersebut.
Lalu, kenapa konten ini bisa viral secara organik?
1. Mengangkat Micro Truth Sosial yang Jarang Disadari
Kekuatan utama konten ini terletak pada micro truth:
Gen Z bukan tidak suka membaca, mereka hanya mengubah cara membaca.
Alih-alih buku fisik, Gen Z mengonsumsi bacaan melalui:
- Smartphone
- Platform digital
- Konten online berbasis teks pendek
Konten ini tidak menyalahkan teknologi, tetapi menggeser sudut pandang:
📱 Medium berubah, literasi tidak mati.
Ini membuat konten terasa relevan lintas generasi.
2. Reframing Tanpa Menyudutkan Siapa Pun
Alih-alih mengadu:
- Gen Z vs Milenial
- Digital vs Buku
Konten ini memilih pendekatan netral dan dewasa.
Tidak ada nada menggurui, tidak ada kalimat “kalian salah”.
Yang ditawarkan adalah data + interpretasi tenang.
Inilah yang membuat orang:
- Tidak defensif
- Nyaman membaca sampai akhir
- Berani membagikan tanpa takut debat
3. Kredibilitas Data Meningkatkan Trust
Konten menyertakan:
- Persentase minat baca antar generasi
- Penjelasan konteks literasi digital
- Sumber dari media arus utama
Bagi algoritma dan pembaca, ini penting.
Konten berbasis data:
- Lebih dipercaya
- Lebih sering disimpan
- Lebih aman untuk dishare
4. Psikologi Klik: Ego Relief Antar Generasi
Ada efek psikologis kuat yang bekerja di sini, yaitu ego relief.
Bagi Gen Z:
“Ternyata kami tidak sebodoh yang dikira.”
Bagi Milenial & Gen X:
“Oh, mungkin masalahnya bukan anak-anaknya, tapi definisi membaca kita.”
Konten yang meredakan konflik sosial cenderung lebih mudah viral dibanding konten yang memanaskannya.
5. Visual Kontras yang Bekerja Diam-diam
Visual anak kecil membaca buku fisik memberi kontras halus dengan narasi literasi digital.
Otak manusia menyukai paradoks visual:
- Gambar klasik
- Pesan modern
Ini membuat orang berhenti scroll dan membaca caption.
6. CTA Implisit yang Lebih Kuat dari Ajakan Like
Tidak ada ajakan:
- “Like kalau setuju”
- “Share ke temanmu”
CTA konten ini adalah:
“Pikir ulang asumsi lamamu.”
CTA reflektif seperti ini cenderung menghasilkan:
- Save tinggi
- Komentar bernada personal
- Share tanpa pamer (silent share)
7. Cocok dengan Pola Algoritma Threads
Threads menyukai konten yang:
- Dibaca cepat
- Dipahami instan
- Mengundang komentar reflektif
Komentar seperti:
- “Menarik juga ya”
- “Baru sadar”
- “Aku relate banget”
➡️ Ini sinyal kuat bagi algoritma untuk memperluas jangkauan.
Kesimpulan
Konten @folkyogya viral bukan karena sensasi, melainkan karena kedewasaan narasi.
Di tengah banjir konten emosional dan opini ekstrem,
konten yang tenang, berbasis data, dan tidak menghakimi justru terasa segar.
Dan itulah kenapa orang membagikannya.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Q: Apakah Gen Z benar-benar lebih suka membaca dibanding generasi sebelumnya?
A: Studi menunjukkan minat baca Gen Z tinggi, terutama melalui media digital dan platform online.
Q: Kenapa konten berbasis data lebih mudah viral?
A: Karena meningkatkan kredibilitas, mengurangi konflik, dan aman dibagikan lintas audiens.
Q: Apakah literasi digital setara dengan membaca buku?
A: Medium berbeda, tetapi proses kognitif membaca tetap terjadi. Tantangannya ada pada kualitas sumber, bukan format.
Q: Apa pelajaran utama untuk kreator konten?
A: Jangan selalu menyerang. Reframing yang tenang seringkali lebih kuat daripada provokasi.