Ketika akun @folkyogya mengunggah informasi resmi tentang kenaikan UMP dan UMK DIY 2026 sebesar 6,8%, respons publik langsung melonjak. Dalam waktu singkat, unggahan ini mengundang ratusan interaksi dan diskusi panjang di Threads. Padahal, secara visual dan format, konten ini terbilang sederhana. Lalu, apa yang membuatnya viral?
Jawabannya terletak pada relevansi emosional dan sosial yang sangat kuat.
Isu Upah: Topik Paling Personal bagi Orang Dewasa
Upah minimum bukan sekadar angka statistik. Ia berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup, biaya sewa, makan, transportasi, hingga masa depan. Ketika @folkyogya menyebut angka konkret Rp2.417.495 sebagai UMP DIY 2026, pembaca secara otomatis melakukan perbandingan: dengan gaji mereka sendiri, dengan daerah lain, dan dengan biaya hidup yang mereka rasakan.
Inilah yang membuat konten tersebut bukan sekadar berita, tetapi pemantik refleksi kolektif.
Lokal, Spesifik, dan Mudah Diverifikasi
Konten ini menyebutkan rincian UMK tertinggi di masing-masing wilayah seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunungkidul. Detail lokal ini membuat pembaca merasa dilibatkan secara langsung. Orang tidak hanya membaca, tetapi mencari: “Daerahku berapa?”
Ditambah lagi, sumber yang jelas dari Pemda DIY memberikan rasa aman untuk membagikan ulang konten. Kredibilitas ini memperkuat kepercayaan dan memperluas jangkauan secara organik.
Narasi Netral yang Membuka Ruang Diskusi
Alih-alih menghakimi atau menggiring opini, @folkyogya memilih pendekatan informatif. Tidak ada klaim emosional, tidak ada provokasi berlebihan. Justru karena netral, kolom komentar menjadi ruang diskusi: pekerja berbagi realita, pengusaha menyampaikan tantangan, dan mahasiswa ikut mengamati dampaknya.
Inilah tipe interaksi yang disukai algoritma Threads: komentar panjang, pengalaman pribadi, dan perspektif beragam.
Kenapa Algoritma Threads Mendorong Konten Ini
Threads cenderung mendistribusikan konten yang memicu percakapan berkelanjutan. Topik UMP dan UMK memenuhi semua syarat tersebut: relevan lintas usia, lintas profesi, dan lintas wilayah. Dari satu kota, diskusi merembet ke daerah lain dengan pola yang sama.
Konten ini akhirnya tidak hanya berbicara tentang Yogyakarta, tetapi tentang realita hidup pekerja di banyak kota.
FAQ (Frequently Asked Questions)
Q: Kenapa konten UMP & UMK lebih cepat viral dibanding konten opini?
A: Karena menyentuh kebutuhan dasar dan pengalaman nyata banyak orang, serta mudah diverifikasi.
Q: Apakah visual berperan besar dalam viralnya konten ini?
A: Tidak dominan. Faktor utama justru ada pada relevansi isu dan angka konkret yang disajikan.
Q: Apakah strategi ini bisa ditiru untuk niche lain?
A: Bisa. Gunakan isu yang dekat dengan kehidupan audiens, sertakan data spesifik, dan hindari narasi menggurui.
Q: Apa pelajaran utama dari konten @folkyogya ini?
A: Konten informatif yang jujur dan relevan sering kali lebih kuat daripada opini keras atau clickbait.