Apa Sih Itu Sebenernya Pengertian Subjek Hukum dan Objek Hukum? : #HukumKita9

Apa Sih Itu Sebenernya Pengertian Hukum Pidana - Sumber Gambar kukabarin.blogspot.com

Sumber Gambar kukabarin.blogspot.com

Pengertian Subjek Hukum dan Objek Hukum
Pengantar Ilmu Hukum (PIH) 5
Materi Kuliah PIH 5 – Semester I

Ada yang nanya apa itu subjek hukum
Objek hukum itu apa lagi tuh artinya
Ga usah bingung tanya sama ahli nujum
Disini kita diskusikan pengertiannya

Halo Mas Bro dan Mbak Bro

1. Apa Itu Subjek Hukum?

Jadi Mas Bro dan Mbak Bro, subjek hukum itu supaya mudah kita ngerti adalah semua hal baik itu makhluk hidup atau pun benda mati yang punya hak dan kewajiban untuk ngelakuin segala sesuatu atas dasar hukum.

Loh benda mati bisa jadi objek hukum?

Masih bingungkan?

Sama, kita juga.

Jadi buat awal itu wajar tapi untuk mempermudah nih, ngerti apakah itu pengertian subjek hukum. Kita ke contoh nyata aja ya.

Jadi Mas Bro dan Mbak Bro subjek hukum itu dibagi jadi 2 (dua) jenis yaitu:

  1. Manusia
    Manusia kan salah satu makhluk hidup atau pun benda mati yang punya hak dan juga kewajiban serta tanggung jawab untuk ngelakuin segala sesuatu atas dasar hukum.

    Contohnya lahir harus ada akte lahirnya. Itu berdasarkan hukum.
  1. Badan Hukum
    Salah satu badan hukum itu adalah perusahaan. Perusahaan benda mati kan?

    Tapi bisa bergerak karena ada manusia dengan sistem organisasi di dalamnya. Ada atasan dan ada bawahan. Jadinya badan hukum bisa punya hak dan kewajiban untuk ngelakuin segala sesuatu selama ga melanggar hukum.

Jelas?

Masih belum ya, baiklah kita lanjut ya.

Seseorang itu dianggap jadi subjek hukum Mas Bro dan Mbak Bro mulai lahir sampai sayonaraTapi ada sedikit perbedaan sama anak dalam kandungan nih.

Jadi kalo anak masih dalam kandungan Mama tercinta seorang anak bisa dianggap udah lahir. Haaa?

Biasa aja dong. Ga heran gitu. Tutup dulu mulutnya. Nah, itu disebut pembawa hak. Jadi kalo kepentingan si anak mengharuskan kayak gitu ya bisa terjadi. Hmm, daripada bingung kita ke contoh lagi aja. Contohnya nih orangtuanya si “kecil” udah “pulang duluan” nih. Sedangkan kondisinya ga ada orang lain yang bisa menerima warisan itu. Meski dibantu sama orang lain tapi si janin bisa dianggap udah lahir dan menjadi ahli waris.

Masih kecil udah ahli?

Yap, namanya yang menerima waris itu adalah ahli waris. Tapi ingat ya ini perlu diulangi. Ga semua manusia boleh “suka-suka” atas haknya sebagai subjek hukum. Ada golongan tertentu yang dibilang sama orang hukum tuhga cakep hukum, eh cakap maksudnya”.

Jadi butuh bantuan orang lain. Siapa aja tuh?

  1. Sikecil;
    Orang yang masih dibawah umur. Belum dewasa karena belum umur 21 tahun. Nah belum kawin juga ya.

    Kok kawin?
    Yah, kita punya nya undang-undang perkawinan bukan undang-undang pernikahan. Gimana dong?
  1. Orang yang ga sehat pikirannya;
    Gila, pemabuk, pemboros, dan orang-orang yang ditaruh dibawah pengampunan (curatele).
Pengertian Subjek Hukum dan Objek Hukum - Sumber Hukum lovebungaquerida.blogspot.com

Sumber Hukum lovebungaquerida.blogspot.com

2. Lalu Apakah Itu Objek Hukum?

Jadi Mas Bro dan Mbak Bro, kalo objek hukum itu adalah semua hal. Ingat ya semua hal yang diatur dalam peraturan hukum. Supaya bisa dapatkan manfaatnyasama kita-kita ini yaitu Subjek Hukum.

Udah ada yang senyum-senyum tuh. Udah mulai ngerti ya?

Kita lanjutkan pembantaian ya.

Jadi kalo manfaat dari objek hukum tuh ga boleh asal juga Mas Bro dan Mbak Bro. Boleh diambil manfaat dari objek hukum kalo si Subjek Hukum memang punya hak dan kewajiban atas objek hukum.

Loh kok gitu?

Tadi katanya subjek hukum punya hak dan kewajiban atas objek hukum.

Ya bener. Trus kok katanya sekarang ga boleh asal.

Gini, Bapak Mama kita punya rumah kan?

Betul. Trus itu hak siapa?

Bapak dan Mama dong. Berarti orang lain ga berhak atas rumah itu dong?

Nah, ada yang ngangguk-ngangguk tuh.

Baiklah kalo udah jelas kita bisa lanjutkan pembantaian ilmu ini.

Ada tapi lagi nih. Meskipun kita berhak atas suatu objek hukum. Kita juga ga boeh asa memakainya untuk kepentingan kita apalagi sampai merugikan orang lain. Jual rumah boleh ga akan ada yang bisa melarang. Tapi kalo tujuannya untuk membeli senjata jelas ga boleh.

Senjata?

Yah, contoh aja. Ga usah sensi gitu dong.

Sekarang kita pake dasar hukum nih. Jadi berdasarkan Pasal 503-504 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) objek hukum itu masih dibagi lagi Mas Bro dan Mbak Bro.

  1. Benda yang bersifat kebendaan;
    Coba liat kanan kiri Mas Bro dan Mbak Bro ada apa aja?
    Gedung dan tanah ya. Jadi apapun itu, benda yang bisa kita liat, diraba, dirasakan sama panca indra kita. Itu adalah benda yang bersifat kebendaan. Asal ada wujudnya itu benda yang bersifat kebendaan.

    Nah benda yang bersifat kebendaan ini dibagi lagi Mas Bro dan Mbak Bro, ada benda bergerak dan benda ga bergerak. Ada benda yang bisa dihabiskan dan ada yang ga bisa dihabiskan.
    Keningnya ga usah mengkerut gitu dong. Kita langsung ke contoh lagi biar lebih gampang. Liat tabel dibawah.
Uang benda bergerak bisa dihabiskan
Tanah ga bergerak ga bisa dihabiskan
  1. Benda yang ga bersifat kebendaan.
    Selanjutnya benda yang ga bersifat kebendaan itu adalah semua hal yang ga bisa kita liat, rasakan, dan raba pake panca indra. Tapi bisa juga diudah jadi sesuatu yang nyata sehingga bisa kita liat, rasakan, dan raba

    Contohnya merk perusahaan, paten, dan ide dalam kepala yang berubah jadi musik, karya senni, dan kawan-kawannya.

Lebih dalam lagi nih Mas Bro dan Mbak Bro. Didalam objek hukum itu adalagi pembagiannya yang kita sebut hak kebendaan. Hak kebendaan ini tuh bersifat jadi pelunas utang-nya Mas Bro Bro dan Mbak Bro.

“Ngutang cuma buat orang yang ga mampu”

@kekitaan_

Asik ya, ada yang bisa jadi pelunas utang. Hak ini tuh ga bisa diganggu gugat jadinya dikasih nama hak mutlak / hak absolut.

Hak kebendaan yang bersifat jadi pelunas utang ini tuh ada julukannya lagi. Sebut aja hak jaminan. Si Hak Jaminan ini tuh lengket kayak prangko sama orang yang ngasih utang. Orang kaya nih ceritanya, si orang kaya ini disebut kreditur. Jadi kreditur ini yang berkuasa atas jaminan kalo ada yang mau ngutang. Nanti suka-suka dia tuh jaminan utang mau diapain. Selama orang yang ngutang ga melunasi utang-nya.

Nah, kalo yang ngutang tuh ga kasih lunas utang-nya. Jaminan akan jatuh ketangan si kreditur tadi. Nah, kalo itu terjadi itu dibilangnya wansprestasi.

Kalo bahasa hukumnya tuh berdasarkan Pasal 1 angka (1) UU No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, “Debitor adalah pihak yang berutang dalam suatu hubungan utang-piutang tertentu;”

Jelas ya Mas Bro dan Mbak Bro.

Kalo udah jelas kita lanjutkan lagi nih.

Soal utang-mengutang kita lanjutkan lagi. Jaminan hukum tuh bisa buat lunasin utang. Itu ga asal sebut Mas Bro dan Mbak Bro. Ada dasar hukumnya jelas dalam Pasal 1131 KUHPer dan pasal 1132 KUHPer.

Lalu benda jaminan utang itu apa aja sih?

  1. Jaminan Umum
    Jadi benda apapu bisa jadi jaminan. Kalo pertama bersifat ekonomis.
    Hukum kok ekonomis?

    Makanya peraturan bisa dijual gitu?
    Makanya hukuman bisa dibeli gitu?
    Wow, wow, wow, santai santai. Ekonomis tuh maksudnya bendanya bisa dhitung nilai rupiahnya. Tergantung mata uang masing-masing.
    Lalu yang kedua bisa dipindahtangankan ke hak lain. Ini agak susah nih jelasinnya. Hmm, sebentar.
    Oh ya, motor nih bisa dinilaikan dengan uangkan ya?
    Bisa dipindah dijual atau disewakan kan ya?
    Nah itu dia maksudnya.
  1. Jaminan khusus
    Nah, selanjutnya kalo jaminan khusus. Yah, sesuai namanya ini jaminan yang ga boleh asal. Kalo mau pake jaminan khusus buat ngutang harus ada aturannya yang jelas. Biasanya sih dalam bentuk perjanjian. Contohnya adalah:
  • Gadai (Pasal 1150 KUHPer);
    Kalo gadai tuh pengertiannya adalah hak yang didapatkan sama kreditur atas suatu barang bergerak yang dijadikan “gadaian” kalau dia kasih debitur ngutang.

    Mumet ya?
    Contohnya gini, Odni punya motor dia butuh uang  buat usaha. Jadinya motornya digadaiin sama Aisen. Odni adalah si debiturnya dan krediturnya adalah Aisen. Nah, motor awalnya haknya Odni. Kalau udah gadaiin jadinya motor jadi haknya siapa?
    Aisen kan?
    Nah, itu udah jago.
    Jadi kalau bendanya bisa bergerak disebutnya gadai ya. Kalau ga bergerak bukan gadai namanya.
  • Hipotik (Pasal 1162 KUHPer);
    Namanya “gadai” untuk barang ga bergerak adalah hipotik Mas Bro dan Mbak Bro. Prosesnya sama kayak gadai tadi. Cuma barangnya harus barang ga bergerak.

    Contoh barang ya, rumah aja biar gampang ya. Prosesnya sama kayak gadai tadi …
    Tapi namanya aja yang beda.
    Bagus.

Kalau jaminan utang-nya tanah beda lagi ya Mas Bro dan Mbak Bro. Namanya adalah hak tanggungan.

Jadi Mas Bro dan Mbak Bro menurut Undang-Undang No. 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan Tanah. Hmm, daripada kepanjangan sebut aja UU No. 4 tahun 1996 Tentang HT ya.

Jadi dalam Pasal 1 angka (1) UU No. 4 Tahun 1996 Tentang HT ini, “Hak Tanggungan atas tanah tuh sama semua benda yang melekat sama tanah itu adalah Hak Tanggungan. Tumbuhan dan bangunan yang ada diatasnya itu masuk dalam Hak Tanggungan Mas Bro dan Mbak Bro.

Nah soal hak jaminannya atas hak tanggunan itu beda lagi aturannya. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria adalah jawara aturannya. Yah biar singkat sebut aja UUPA ya. Jadi kata UUPA nih benda satu sama tanah itu kalau mau dipake buat lunasin utang. Itu tergantung sama di kreditur yang masuk dalam perjanjian hutang aja.

Semoga berguna.

Senang bisa berbagi.

Belajar hukum itu ga mudah
Kalau kita ga belajar jelas
Semua masalah bisa dibedah
Asal usaha pasti terbalas

Sumber :

Retnosari, Eaffin. 2013. Objek Hukum.  http://eaffinretnosari.blogspot.co.id/2013/11/objek-hukum.html diakses pada hari Rabu 14 Oktober 2015 pukul 21:03 WIB

Tembalang, Semarang
Rabu, 13:40 WIB 14 Oktober 2015
Tulisan Kita

Tentang Kita
Twitter :
kekitaan_
Line :
@kekitaan
Facebook :
Kekitaan Kita
Google+ : Kekitaan Kita
Youtube : Kita/
Linkedin : Kekitaan Kita
Pinterest : kekitaan_
Instagram : kekitaan_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *