Bahan Berani : #CerpenKita Episode 8


Carilah kini, dan rasakan sepenuh dirimu hingga kalian dapati sebuah keindahan yang lebih elok dari seluruh keindahan yang ada sebuah kidung yang lebih agung dari nyanyian samudera dan rimba belantara, suatu keagungan yang bertahta pada singgasana di mana orion hanya sekedar penyangga kakinya, yang menggenggam sebatang tongkat di mana Pladies tak lebih dari kilatan  tetes embun.
-Kahlil Gibran-
 
 

Episode sebelumnya…

Rindi melangkahkan kakinya ke arah ruangan Ramos. Ah… Lebih tepatnya ruangan kerja Ramos. Rindi tahu, bahwa Ramos tidak tidur semalaman. Ia tahu saat ia telah terbangun dari tidurnya. Rindi tidak mendapati Ramos berada di sampingnya. Rindi menyadari sesuatu, bahwa permasalahan yang diterima oleh Ramos akan dipikul sendiri oleh Ramos. Meskipun, banyak orang yang peduli dengannya. Akan tetapi, independent dalam situasi seperti ini tetap menjadi skala perjalanan tersendiri untuk penyelesaikan masalahnya.

Pintu itu terbuka dengan perlahan. Decit engsel pintu, tidak membangunkan Ramos. Yah.. ia tertidur di meja kerjanya dengan berbagai tumpukan kertas yang berserakan di mana-mana. Rindi berjalan mendekat. Ia mengambil kertas-kertas yang terjatuh itu. Terlihat dari tulisan dan gambar yang ada di atas kertas itu, bahwa Ramos benar-benar memikirkan penyelesaian masalahnya.

Meletakkan kertas yang telah ia baca sebagian, kemudian membelai kepala Ramos yang tengah tertidur lelap di atas meja kerjanya. Ia menatap Ramos dengan tatapan sendunya. Meski ia sudah mengetahui bahwa hal ini akan selalu dilakukan oleh Ramos di kala akan ada maslaah dalam produksi barangnya. Akan tetapi, saat Ramos sampai tidak meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur, Rindi dapat mengartikan bahwa sesuatu memang benar-benar tidak dapat ditinggalkan.

“Sejak kapan kamu ada di sana, Sayang?” tanya Ramos saat ia merasakan belaian itu di atas puncak kepalanya.

“Nggak lama kok, Bang. Abang, mandi dulu yuk! Rindi udah siapin air hangat untuk Abang. Terus, kita makan pagi.”

“Mmmm, makasih ya…,” ucap Ramos dengan beranjak dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan ruangan. Sedangkan Rindi, berjalan membuntuti Ramos dari belakang.

Rindi menghela nafas beratnya. Suasana rumah yang ia rasakan saat ini, tidaklah sama seperti biasanya.  Saat Ramos memasuki kamar mandi, Rindi berjalan ke arah meja makan untuk menyiapkan hidangan makanan pagi ini.

Tulus dan Burju datang bergantian dari ruangan masing-masing. Tulus, menghampiri meja makan dari arah tangga. Sedangkan, Burju menghampiri meja makan dari ruangannya. Rindi menyaksikan keasingan keduanya. Tidak seperti biasanya. Mereka berdua yang selalu bertengkar, kini saling mendiamkan seolah-olah enggan untuk menyapa satu sama lainnya.

“Among kemana Inong?” tanya Tulus.

“Masih ada di kamar mandi. Ada yang mau kamu bicarakan dengan Amongmu?” tanya Rindi memberikan tanggapan yang hangat. Kehangatan itu terpancar dari senyuman. Senyuman tipisnya.

Tulus berdeham seraya menganggukkan kepalanya. Tak lama saat Rindi menyiapkan nasi di atas piring masing-masing anggota keluarganya, Ramos datang menghampiri dengan wajahnya. Wajah, yang tengah disegarkan oleh air. Namun, pancaran mata yang diberikan oleh kedua bola matanya tidak dapat membohongi apa yang tengah menjadi bebab pikirannya saat ini.

“Among,” panggil Tulus memulai pembicaraan saat Ramos sudah duduk di atas kursi yang ia ciptakan sendiri dan ia berikan design sendiri ke tukang kayu.

“Hmmmm?” ucap Ramos menanggapi.

“Bagaimana dengan strategi kemarin. Kapan pelaksanaannya?” tanya Tulus memberikan pertanyaan kepada Ramos perihal masalah yang kemarin dan masih berjalan di hari ini.

“Jangan bahas itu dulu. Nanti bisa kita bahas setelah makan pagi. Among baru ingat, kalau kamu harus berangkat untuk tes di Universitas yang sudah kamu pilih,” ucap Ramos.

“Lalu?” tanya Tulus menanggapi.

“Among akan membelikan tiket pesawat dan hotel untuk kamu di sana. Tapi, Among tidak dapat  mengantarkan ke tempatmu. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana permasalahan yang tengah melanda di sini? Rasa-rasanya, kalau Among meninggalkan, tidak yakin strategi yang kamu berikan tidak akan berhasil. Karena, strategi yang kamu berikan membutuhkan pengawasan, Tulus. Among tidak mau menyia-nyiakan sesuatu jika memang itu memungkinkan untuk berhasil,” terang Ramos dengan mengambil biskuit untuk memulai makan paginya.

“Baiklah. Tulus akan menuruti perintah Among,” ucap Tulus dengan memulai makan paginya.

Burju memandang Tulus dan Ramos bergantian. Ia masih belum memulai makan paginya. Rindi yang mengamati hal ini mulai mengerti apa yang hendak dikatakan oleh Burju. Rindi masih terdiam. Semuanya telah menikmati makanannya. Hanya Burju yang masih memandang makannya dan memainkan sendok. Ia memang memakan makanannya. Akan tetapi, tidak sebagaimana wajarnya.

“Ada yang ingin kamu sampaikan juga?” tanya Rindi memulai memecah keheningan setelah pembahasan Tulus dan Ramos berhenti.

Ketiga laki-laki itu memandang Rindi bersamaan. Rindi yang merasa, baru mengingat bahwa tadi ia tidak menyebutkan nama Burju sebagai orang yang dimaksud. Rindi memajukan dagunya. Memberikan kode kepada Ramos dan Tulus bahwa yang dimaksud adalah Burju. Burju yang masih menundukkan kepalanya seketika mengangkat kepalanya dan menatap ketiga orang. Dimana, ketiganya menatap Burju.

“Apa?” tanya Burju saat beberapa detik, ketiganya tidak mengatakan apapun. Sungguh, dapat dilihat bahwa Burju tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rindi dan tidak menangkap apa yang sudah diberikan olehnya.

“Ada yang ingin kamu sampaikan kepada Among?” tanya Ramos mengulang pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Rindi.

“Oh… itu,” ucap Burju mulai menangkap apa yang dimaksud oleh anggota keluarganya.

Ramos menjawabnya dengan dehaman seraya menganggukkan kepalanya.

“Sebenernya, memang ada.”

“Apa itu?” tanya Ramos menanggapi dengan antusias.

“Mengenai sekolah Burju, apakah bisa? Dan Burju sebenarnya, harus berangkat besok,” ucap Burju.

“Oh itu, Among sudah dapat infonya dari Parulian. Besok, kamu akan diantar oleh Parulian.”

“Tulang Uli, yang mengantar? Naik pesawat?” tanya Burju dengan membelalakkan kedua bolamatanya hingga ia melepaskan sendok dan garpunya.

Ramos menganggukkan kepalanya seraya ia mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.

“Lalu?” tanya Burju menyelidik.

Rindi dan Tulus yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa tersenyum. Ia tidak menyangka bahwa mimpi, akan membuat Burju sebegitu senangnya seperti pagi ini. Bahkan, tanpa Burju sadari dengan wajahnya yang sebagian pagi ini, ia terlihat begitu kecil dan tengil seperti anak-anak. Yah…. Anak-anak yang menemukan sesuatu mengangumkan dirinya.

“Parulian akan membawa kamu ke rumah temannya yang dimaksud. Mengenai tiket, sudah Among sediakan. Masih berada di ruang meja kerja Among. Kamu, besok hati-hati, dan jangan sampai merepotkan Parulian.”

“Mengenai bisnis Among bagaimana?” tanya Tulus. Mengingat, penyedia bahan mentah adalah Parulian. Ayah Rendy.

“Semuanya sudah disiapkan semalam. Among tinggal melihat ke  gudang dan memperhitungkan beberapa hal sebagai langkah awalnya,” ucap Ramos.

Tulus hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mengerti apa yang dimaksud oleh Ramos. Sedangkan, Burju kembali melanjutkan makanannya dengan lahap saat ia telah mendapatkan apa yang membuatnya puas dan bahagia. Makanan yang ada di depannya di santap habis kala itu.

Rindi memandang ketiga laki-laki yang menjadi bagian dari hidupnya. Ia tersenyum simpul di ujung bibirnya yang tipis. Ia kembali merasakan angin yang berhembus menerobos dari jendela. Cahaya matahari yang mulai masuk, menunjukkan pagi ini adalah pagi yang cerah. Secerah suasana yang mulai membaik meski ada permasalahan yang tengah melanda keluarga. Keluarga mereka. Keluarga marga Hutasoit.

***

“Permisi Among, ini Tulus,” ucap Tulus seraya ia mengetuk pintu ruangan kerja Ramos.

“Masuk, Nak.”

Tulus menyahutinya dengan melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu. Ia mendapati Ramos yang sudah terduduk nyaman di depan meja kerjanya. Dengan banyaknya buku yang ada di sana, serta kertas-kertas yang begitu banyak.

“Apa itu Among?” tanya Tulus saat ia mendapati sesuatu yang asing baginya. Belum sempat Ramos menjawabnya, Tulus sudah lebih dulu mendekat ke arahnya untuk memastikan dan memuaskan rasa ingin tahunya.

“Itu design kemasan yang baru.”

“Kenapa harus pakai yang baru?” tanya Tulus.

Karena pasar menuntut kita untuk melakukan hal itu.

“Tulus tahu kalau untuk urusan itu. Tapi, bukan itu jawaban yang Tulus ingin tahu.”

“Lalu?” tanya Ramos seraya memandang Tulus dengan wajah yang masih menuntut akan jawaban yang diinginkannya.

“Kasih jawaban yang memuaskan Tulus,” ucap Tulus memberitahu keinginannya.

“Jawaban seperti apa yang bisa memuaskan kamu?” tanya Ramos menjawabnya dengan tantangan kembali.

“Segalanya, dan semuanya.”

Ramos tertawa. Ia melihat Tulus dengan wajahnya yang masih menuntut sebuah jawaban. Di tambah, saat Tulus mendengarkan suara tawa itu ia merasa seperti orang yang bodoh. Orang, yang tidak pernah mengerti atau bahkan memang tidak mengerti apapun.

“Baiklah… mendekat saja,” ucap Ramos seraya ia beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia menepuk pundak Tulus dan menuntunnya untuk duduk di kursi kerjanya.

“Apa ini maksudnya, Among?” tanya Tulus masih tidak mengerti.

“Coba kau lihat gambar ini, dan tulisan itu,” pinta Ramos.

Tulus mengambil lembaran kertas yang telah ditunjuk oleh Ramos. Ia menyandingkan dengan kertas yang sudah ada di tangan Ramos. Keduanya, Tulus amati secara bergantian. Saat ia sudah mengamati semuanya. Tulus menatap ke arah Ramos, yang kepalanya tepat berada di atasnya.

“Apa ini?” tanya Tulus yang masih tidak mengerti dan tetap menuntut sebuah jawaban.

“Gambar ini, adalah statistik kondisi pasar saat ini. Harga antam dan juga dollar tiap rupiahnya. Sedangkan tulisan ini, adalah kondisi kita saat ini. Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan untuk mengikuti harga antam dan dollar tanpa menyengsarakan konsumen. Dan alasan kenapa Among memberikan design baru adalah, pasar memberikan persaingan yang baru. Kemasan kita, terlalu banyak memakan biaya. Dengan adanya tampilan yang baru, diharapkan akan menekan biaya tanpa mengurangi kualitas bahan,” jelas Ramos kepada Tulus.

“Oh… begitu. Kemasan juga mempengaruhi kah Among?” tanya Tulus.

“Jelas. Pengaruhnya tidak hanya ada pada minat konsumen saja. Tetapi, pada biaya produksinya. Paham kan sekarang?” tanya Ramos.

Tulus menganggukkan kepalanya dengan senyuman. Ramos yang melihat hal itu, hanya dapat menikmati apa yang ada di depan matanya kala ini. Senyuman, binar mata yang dipancarkan oleh Tulus adalah kepuasan tersendiri untuk Ramos. Bagaimana tidak? Ia telah memberikan kemampuan dan mewariskannya kepada putra keduanya.

Terdengar suara pintu. Ramos dan Tulus mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Terlihat bayangan seorang pria yang ada di depan pintu.

“Seperti, Abang Burju.”

“Hmmmm, rupanya begitu.”

“Masuk…” seru Ramos memberikan izin.

Seperti halnya yang dilakukan oleh Tulus sebelumnya. Orang itu juga memasuki ruangan setelah mendapatkan izin dan menghentikan ketukan pintu.

“Apakah aku mengganggumu?” tanya seseorang.

“Tulang Uli?” geming Tulus. Saat itu, Ramos masih asik dengan beberapa kertas yang tetap menjadi fokusnya.

“Oh, Kau?” ucap Ramos saat mendengar pernyataan dari Tulus.

“Ya. Ini aku. Ada yang ingin aku bicarakan padamu,” jelas Parulian kepada Ramos.

“Silahkan,” ucap Ramos.

Tulus yang menyadari hal itu, segera beranjak dari tempat duduknya. Ia mempersilahkan Ramos untuk duduk di tempat kerjanya. Ramos menganggukan kepalanya seraya memberikan perintah untuk kembali lagi nanti. Pembicaraan mereka mengenai pendidikan Tulus, masih belum bisa dibicarakan saat ini setelah kedatangan Parulian. Tulus mengerti akan situasi yang ada. Dan, Tulus menyadari bahwa kedatangan ayah Rendy, sahabatnya itu bukanlah suatu kedatangan yang sia-sia.

“Apa yang hendak kau bicarakan,” ucap Ramos setelah Tulus meninggalkan ruangan dan mempersilahkan Parulian menduduki sofanya.

“Anakmu Burju sudah mempersiapkan penyuluhan di balai desa. Kau tak ingin datang kah?” tanya Parulian dengan senyuman.

“Oh iya? Dia tak bilang apapun padaku,” ucap Ramos.

“Memang. Akupun juga begitu. Dan kau tahu, dia menyiapkan itu semua dengan anakku Rendy. Canggih kali telepon genggam mereka. Secepat ini persiapannya,” ucap Parulian dengan menggelengkan kepalanya pelan.

“Yah… begitulah. Kau sudah menyiapkan semuanya? Tentang apa yang akan kau sampaikan nanti di depan warga?” tanya Ramos.

“Aku akan memberikan dan menyampaikan apa yang aku bisa. Sedangkan kau sendiri bagaimana?” tanya Parulian.

“Belum. Tapi, menyia-nyiakan usaha mereka bukanlah sesuatu yang bagus. Kau ke sini dengan Silalahi?” tanya Ramos.

Parulian menganggukkan kepalanya.

“Silalahi tengah buat makanan ringan dengan istri kau. Untuk camilan di balai desa.”

“Gerakan sudah secepat itu. Baiklah, aku akan ke sana sekarang. Berangkat bersamaku saja,” ucap Ramos.

Parulian beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan keluar dari ruangan kerja Ramos ke arah parkir motor. Mereka berdua pergi meninggalkan rumah ke balai desa tidak menggunakan mobil. Melainkan, menggunakan motor. Selama perjalanan, mereka berdua melihat sawah dan ladang mereka sepi. Tidak biasanya pukul sekian sawah dan ladang sudah ditinggalkan oleh penghuni paginya.

“Tuhan… anak kita giat sekali Uli,” geming Ramos tanpa kehilangan kendalinya.

“Maka dari itu. Aku tak ingin menyia-nyiakan usaha mereka dan menghancurkan keberanian mereka lagi. Aku merasa ada banyak perubahan setelah aku mengijinkan mereka menyuarakan pendapatnya. Mereka lebih berani bertindak. Dan tindakan itu tidak sia-sia,” jelas Parulian.

“Benar kau. Akupun juga begitu. Aku baru menyadari, bahwa apa yang sudah aku lakukan saat ini adalah sesuatu yang salah. Sesuatu yang telah membuat pribadi seseorang menjadi penakut. Aku berharap, di generasi berikutnya, tidak akan terjadi seperti ini lagi,” ucap Ramos menimpali.

“Coba lihat itu. Lautan manusia,” ucap Parulian dengan kedua bola matanya yang tengah terpaku pada apa yang ada di depan matanya.

Ramos hanya terdiam. Mesin motor masih hidup. Getaran motor masih terasa begitu jelas. Akan tetapi jelasnya tindakan anak-anak mereka telah membuat mereka berkaca. Bagaimana tidak, warga tidak pernah bersorak sesemangat ini saat mendengarkan penyuluhan. Orasi yang diberikan juga tidak semeriah ini. Anak-anak mereka berbeda. Ramos sempat terkejut saat ia melihat Tulus juga memberikan orasi. Ia tidak menyangka kalau Tulus lebih cepat sampai dibandingkan dengan dirinya dan Parulian.

“Among!!!” teriak Tulus dengan senyuman.

Ramos melambaikan tangganya membalas lambaian tangan Tulus. Begitu juga Parulian saat ia mendapatkan lambaian tangan dari Rendy. Ramos mematikan mesin motornya. Kemudian, ia berjalan ke arah anak-anak mereka. Melihat banyak warga yang memperhatikan dengan wajah-wajah mereka penuh harap.

Dalam setiap langkahnya, Ramos menatap kembali mata yang penuh harap itu. Keluh kesah mereka terlihat begitu jelas dari kedua bola mata mereka. Bibirnya terasa kelu saat melihat kedua putranya berdiri di depan banyak orang yang tengah bersorak menunggu kehadiran seorang pengubah. Mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu tidak lagi buruk.

“Terimakasih, Nak.”

“Sama-sama Among,” ucap keduanya bersamaan.

Ramos menepuk pundak kedua anaknya. Begitu juga dengan Parulian. Saat keduanya sudah siap, Tulus, Burju dan Rendy memundurkan kakinya dan memisahkan dirinya dari warga. Membiarkan ayah mereka untuk memberikan penyuluhan. Mencoba mengubah sesuatu yang memang diinginkan oleh mereka.

“Semoga saja, berhasil,” ucap Rendy saat mereka berjalan menuju depan gerbang.

“Semoga saja,” ucap Tulus.

“Abang besok jadi berangkat dengan Among?” tanya Rendy.

“Iya Ren,” ucap Burju.

“Hati-hati ya Bang,” ucap Rendy.

“Kalau kalian?” tanya Burju setelah menganggukkan kepalanya.

“Rendy sama dengan Tulus berangkatnya. Bersamaan dengan Tulus,” ucap Rendy.

“Baguslah. Tulus jadi ada temannya,” ucap Burju.

“Abang pikir aku bayi?” ucap Tulus dengan mengerucutkan bibirnya.

Burju tertawa. Kemudian, ia mengacak rambut Burju dan kemudian berlari meninggalkan Tulus dan Rendy yang masih berjalan menuju gerbang. Tulus yang menyadari hal itu berteriak kepada Burju mengutarakan kesalnya. Ia juga mengejar Burju. Sedangkan Rendy hanya memandang mereka seraya menggelengkan kepalanya pelan. Tak hanya itu saja, Rendy berkacak pinggang dan tertawa saat melihat adik kakak itu saling memberi pelajaran dan berlarian seperti bayi yang berebut mainan.

***

“Bagaimana jadinya?” tanya Rindi saat ia mendapati Burju yang berjalan memasuki gerbang.

“Inong kenapa di luar?” tanya Burju.

“Ini, menyiram tanaman.”

“Kenapa nggak Pak Satpam aja?” tanya Burju.

“Mungkin, Inong lagi pengen kali Bang,” sahut Tulus yang muncul dari belakang tubuh Burju.

“Tulus tadi ikutan kamu juga, Ju?” tanya Inong.

“Iya. Tulus juga ikutan tadi.”

Rindi melepaskan keran air yang ada di telapak tangannya. Ia menatap kedua putranya yang berdiri tegak di depannya. Kedua tatapan mata yang berkaca itu membuat pandangannya buram. Sedangkan, kedua putranya menatapnya dengan wajah datarnya. Rindi berjalan mendekati kedua putranya. Ia melangkahkan kakinya dan meraih pundak kedua putranya. Tulus Hutasoit dan Burju Hutasoit. Rindi mengangkat tungkai kakinya untuk menggapai kedua putra yang kini tumbuh menjulang tingginya. Agar ia dapat memeluk keduanya secara bersamaan.

“Inong,” panggil Burju dalam pelukan Rindi.

Tulus menolehkan kepalanya kepada Burju. Begitu juga dengan Burju. Tatapan mereka menunjukkan bahwa tidak biasanya Rindi selembut ini. Yah, mungkin ia memang seorang ibu yang lembut. Tapi, kelembutannya selama ini tidak dapat diungkapkan tanpa ketegasan. Untuk pertama kalinya, Rindi melakukan ini kepada kedua putranya.

“Terimakasih, sayang,” gumam Rindi dengan suaranya yang serak.

“Sama-sama, Inong,” ucap Tulus.

Rindi membelai pundak kedua putranya. Sedangkan, Tulus dan Burju memeluk Rindi begitu erat. Tulus merasakan pundaknya basah. Begitu juga dengan Burju. Sehingga, Tulus melepaskan pelukan itu. Hal ini juga dilakukan oleh Burju saat ia merasakan pelukan itu merenggang.

“Inong, kenapa?” tanya Tulus.

“Terharu,” ucap Burju menyahuti.

Tulus tersenyum setelah menolehkan kepalanya kepada Burju. Kini, ia yang memegang kedua pundak Rindi. Ia memajukan langkahnya mendekati Rindi. Menatap kedua mata perempuan itu dengan tatapannya yang tegas dan mantab.

“Itu semua, karena restu Inong yang sudah berikan restu kepada Tulus dan Abang. Tulus nggak akan berjanji sama Inong untuk membahagiakan atau membanggakan Inong. Tapi, Tulus akan berusaha untuk melakukan itu agar Tulus bisa berjanji sama Inong.”

Rindi menganggukkan kepalanya dengan meneteskan kedua air matanya. Ia membelai tengkuk leher Tulus dan menatapnya tanpa henti mengeluarkan air matanya. Rindi beralih menatap Burju yang berdiri di samping Tulus. Burju yang menyadari itu, segera melangkahkan kakinya untuk jauh lebih dekat dengan perempuan yang kini tak mampu menghapus dan membendung air matanya.

“Inong, relakan Burju dan Tulus. Kami hanya bermain keluar rumah. Bukan untuk meninggalkan Inong. Atau, membiarkan Inong sendiri. Hanya ingin mencari tahu sesuatu yang belum kami tahu,” ucap Burju dengan memegang kedua telapak tangan Rindi.

Rindi kembali menganggukkan kepalanya. Ia menangis sesenggukan mendengar seluruh apa yang diucapkan oleh kedua putranya. Ia tak mampu mengucapkan kata-kata untuk membalas semua ucapan kedua putranya.

 Semua ini, dimulai dengan suatu perbedaan. Dulu, Tulus dan Rendy tidak pernah menyentuh kehidupan Masyarakat. Mereka berdua hanya terdiam di rumah dan cukup mengetahui ilmu teori yang diberikan oleh Ramos saja. Akan tetapi, sejak peristiwa yang dimulai dari berontaknya Tulus mengenai keingintahuannya akan sesuatu. Memaksa waktu untuk memihaknya. Hingga Rindi bersikeras mempertahankan keputusannya untuk mengungkung mereka di dalam sangkar.

Untuk kedua kalinya, ia mengagungkan rasa syukur setelah pernikahannya dengan Ramos. Dimana, ia tak salah dalam memilih cintanya untuk Ramos. Laki-laki itu, berhasil membuat semuanya berubah dengan keputusan yang di luar dari nalar. Ia melanggar adat dan garis keturunannya.

Membiarkan kedua anak-anaknnya untuk menempuh pendidikan. Dan, dengan perubahan keputusan itu, membuat Tulus sekaligus Burju berubah. Mereka, lebih berani menghadapi masyarakat sekaligus berani melangkahkan kakinya untuk keluar rumah dan berkunjung ke lapangan dan menyelesaikan beberapa masalah. Masalah yang kini dihadapi oleh Ramos. Masalah, yang kini telah dituntaskan oleh kedua putranya.

Rindi tak tahu bahwa dengan dirinya kehilangan separuh keputusannya, ia akan mendapatkan semua ini. Perubahan yang ada dalam diri Tulus dan juga Burju, cukup membuatnya tersenyum dalam tangis yang tak dapat ia ungkapkan dalam untaian kata, atau sebilas kucuran air mata, dan sehangat pelukannya.

 Cukup dengan degup jantungnya yang masih berdetak ia mengagungkan doa dalam karsa dan asanya atas semua yang selama ini jauh dalam jangkauan perkiraannya. Sungguh, indahnya semua itu tak dapat ia tebus dengan apapun. Tuhan begitu baik tanpa ia sangka.

“Inong sudah menyiapkan makanan untuk kalian. Ayo, masuk,” ucap Rindi mulai membuka bibirnya seraya ia menyudahi tetesan air matanya dengan mengusap kedua pelataran pipinya.

Tulus dan Burju menganggukkan kepalanya setelah mereka berdiri tegak dan melepaskan pelukannya. Kemudian, berjalan mengiringi Rindi yang mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah. Sembari bercakap bagaimana kondisi yang sudah mereka siapkan di balai desa sebelum mereka kembali pulang.

***


“Usaha kita, ternyata indah dan akan terasa indah. Apapun itu bentuknya. Usaha kita, tidak akan membuat kita menangis pada akhirnya. Dan, cukup ketahui saja kalau ketakutan kita hanyalah sebuah tetesan embun malam. Yah… tetesan embun yang bisa sirna karena terangnya cahaya. Seperti, cahaya matahari yang begitu terik di tiap pagi. Dan, cahaya itu adalah keberanian kita.”
-Tulus Hutasoit-

Episode sebelumnya…

Tinggalkan Balasan