Baru : #CerpenKita Episode 9



Kalian yang selama ini hanya sibuk mencari makan dan tempat tinggal, pakaian dan barang-barang kebutuhan; carilah kini Dia, yang bukan merupakan sasaran bagi anak panahmu, yang bukan pula gua batu sebagai tempat berlindung dari keganasan alam.
-Kahlil Gibran-

Episode sebelumnya…

Tawa mereka terdengar begitu renyah. Mereka menikmati santapan yang ada di meja makan dengan lahap. Cerita yang keluar dari mulut mereka, terdengar begitu asik. Hingga suara yang datang dari arah pintu terkalahkan oleh kebahagiaan mereka kala itu. Tawa itu mulai menyurut ketika seseorang berdiri dengan tegak dan gagahnya tak jauh dari mereka.

            “Among,” panggil Tulus.

            Ramos terlihat begitu segar. Guratan wajahnya yang terlihat jelas beberapa hari yang lalu memudar seketika setelah acara yang diciptakan oleh kedua putranya. Tulus dan Burju. Ramos melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka. Ke arah Rindi, Tulus, dan Burju yang tengah terduduk manis dengan camilan yang ada di depan mereka.

            “Bagaimana tadi?” tanya Rindi.

            “Lancar-lancar saja. Tinggal memberikan pelatihan kepada warga,” ucap Ramos seraya meraih camilan yang masih tersisa tak banyak itu.

            Rindi mengambil camilan itu sebelum jari Ramos menyentuhnya. Tulus dan Burju, menatap tingkah kedua orang tuanya. Rindi menggerakkan jari telunjuknya ke arah kanan dan kiri.

            “Cuci tangan dulu, sayang.”

            Ramos menepuk jidatnya, ia tersenyum sedikit lebih lebar. Tulus dan Burju baru menyadari kenapa alasan Rindi menarik piring dari meja jikalau Ramos saja belum menyentuhnya sama sekali. Hanya karena menjaga. Tulus, menatap ke Ramos yang beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan.

            Untuk sejenak, Tulus memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia mengingat suatu kata-kata dari buku yang pernah ia baca mengenai perjalanan rumah tangga. Ada kata yang membuatnya tergugah hingga ia mengingatnya saat ini. Dimana, dalam sebuah rumah tangga, seorang istri tidak harus bisa memasak sebagai suatu kewajiban dalam rumah tangga. Jikalau memang mengharuskan bisa memasak, menikah saja dengan seorang Chef kemudian membuka warung makan. Yang terpenting, sebaik-baiknya istri adalah bisa menjaga hingga menjamin kesehatan keluarga kecilnya.

            “Usap dulu pakai tissue,” ucap Rindi saat melihat kedua telapak tangan Ramos masih basah.

            Ramos menganggukkan kepalanya, kemudian ia meraih tissue yang tersedia di depan matanya. Ia mengelap kedua tangannya menggunakan tissue itu dan terseraplah semua air yang ada di telapak tangannya.

            “Ini ambil,” ucap Rindi seraya meletakkan kembali piring yang sempat ia ambil dari meja.

            “Ini resep baru?” tanya Ramos seraya mengunyah makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.

            “Nggak enak ya?” tanya Rindi ragu saat melihat wajah suaminya yang datar.

            “Bukan nggak enak. Tapi cukup enak bagi lidahku,” ucap Ramos seraya mengelap bibirnya menggunakan tissue yang baru saja ia ambil.

            Rindi tersenyum ringan. Ramos, menyandarkan punggungnya di kursi meja makan. Ia menatap Burju yang terduduk dengan wajah damai. Ramos memajukan tubuhnya untuk lebih dekat dengan Burju. Telapak tangannya, kini berada di pundah Burju. Ia menatap kedua bola mata Burju dengan tajam.

            “Sudah kamu siapkan semua barang-barangmu untuk berangkat besok?” tanya Ramos mula-mula.

            Burju menggelengkan kepalanya.

            “Burju belum tahu penerbangannya besok jam berapa sayang?” ucap Rindi menimpali.

            “Tiketnya sudah Among letakkan di meja belajar kamu sebelum Among berangkat ke balai desa memberikan penyuluhan kepada warga,” ucap Ramos.

            “Oh iya?” ucap Burju seraya ia membelalakkan kedua bola matanya.

            Ramos menganggukkan kepalanya lembut. Kemudian, ia menatap kembali Burju dengan tatapan yang sendu.

            “Jaga dirimu baik-baik di sana. Jangan merepotkan Parulian, Among titip carilah ilmu, jangan menjadi nilai selama kamu menjalani pendidikan,” ucap Ramos.

            “Baik, Among. Burju, permisi mau ke kamar dulu untuk menyiapkan barang-barang apa saja, yang akan Burju bawa nantinya,” ucap Burju.

            Ramos memberikan ijin dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian, melepaskan telapak tangannya yang berada di pundak Burju. Rindi yang melihat Burju mulai beranjak dari tempat duduknya, ikut beranjak dari tempat duduknya dan meminta ijin kepada Ramos agar Rindi bisa membantu Burju menyiapkan barang-barangnya. Ramos mengijinkan dengan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.

            “Sekarang Tulus, kamu ikut Among ke ruang kerja Among untuk membicarakan mengenai pendidikan kamu yang sempat tertunda,” ucap Ramos seraya melakukan hal yang sama dengan Rindi dan Burju.

            Begitu juga dengan Tulus yang melakukan hal yang sama, ia berjalan mengekor di belakang Ramos. Melangkahkan kakinya menaiki tangga dan masuk ke dalam ruangan yang kini berbau buku-buku baru. Buku-buku yang baru saja diperbaharui berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan yang memang dibutuhkan oleh Ramos.

            “Duduk, Nak.”

            Tulus tidak menjawab dengan tindakan yang memang diinginkan oleh Ramos. Ia menduduki kursi sofa yang letaknya tak jauh dari meja kerja Ramos. Ramos, mengambil sesuatu dari saku celananya. Kemudian, ia membuka laci dan berjalan ke arah Tulus. Ia duduk di depan Tulus dan menyodorkan apa yang telah di bawa.

            “Apa ini, Among?” tanya Tulus.

            “Itu tiket pesawat dan juga kode booking hotel kamu. Oh iya, kamu sudah tahu kan kalau kamu akan berangkat bersama dengan Rendy?” tanya Ramos.

            “Sudah. Tapi tujuan Universitas yang kita tuju berbeda, Among.”

            “Iya, tapi kalian ada di kota yang sama. Tak masalah kan jikalau Among menyandingkan kamu dengan Rendy. Lagipula, jikalau tidak begitu kamu akan kesepian. Dan, kamu juga belum pernah ke kota ini sendirian. Terakhir kali kamu ke Jawa itupun bersama dengan keluarga. Sukses untuk kalian,” ucap Ramos.

            Tulus mengeratkan bibirnya yang masih terkatub rapat. Ia memandangi dua lembar kertas yang ada di depannya. Pandangannya, kini beralih ke Ramos yang berada di depannya. Ia menatap Ramos dengan tatapan yang sendu. Kedua manik matanya mulai terlihat mengkilat.

            “Jangan sampai air matamu jatuh menetes. Among justru akan lebih tega melepaskan kamu pergi ke manapun yang kamu mau,” ucap Ramos.

            “Terimakasih, Among.”

            “Hmmm, sama-sama. Pesan Among, jaga diri baik-baik. Kuatkan diri kamu di sana. Jangan pernah goyah hanya karena sesuatu. Pikirkan matang-matang resiko. Bukan solusi. Okke?” tanya Ramos memberikan wejangan kepada anaknya.

            Tulus menganggukkan kepalanya. Jauh di lubuk hatinya yang dalam, ia berat meninggalkan orang tua. Namun, egonya kali ini membuat dirinya terus menerus semakin tergugah untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi melihat dunia luar seperti apa. Ia tahu betul, bahwa dunia luar tidak akan sehangat rumahnya. Tapi, pandangannya hanya satu. Cita-cita adalah sesuatu yang memang membuatnya benar-benar ada dalam egonya kali ini.

            “Among, Tulus ingin menanyakan sesuatu,” ucap Tulus di tengah keheningan yang melanda. Keheningan itu, ada karena Tulus dan Ramos sibuk dengan pikirannya dan perasaannya masing-masing.

            “Tanya saja, Among tidak akan segan menjawab apabila Among bisa menjawabnya.”

            Tulus terdiam. Ia mengalihkan tatapanya sejenak dari dua lembar kertas yang ada di depannya. Kemudian, ia mengigit bibir bawahnya. Dan.. menggelengkan kepalanya pelan. Kemudian, ia kembali menggelengkan kepalanya. Hanya saja, kali ini lebih mantap.

            “Baiklah kalau tidak jadi. Kamu bisa lanjutkan aktifitas kamu,” ucap Ramos mengakhiri.

***

By : Tran Mau Tri Tam

            Tulus berjalan meninggalkan ruangan Ramos. Ia membawa dua lembar kertas yang nantinya akan menjadi awal langkahnya menitih karir. Langkah demi langkah ia teguhkan memasuki ruangan kamarnya. Ia memandang kursi yang kini tengah kosong. Pandangan kedua bola matanya tak hanya berhenti pada kursi kosong yang kini tengah menunggu ia duduki. Melainkan madding yang ada menempel di tembok, penuh dengan kertas kala itu mulai bersih secara keseluruhan.

            “Tulus,” panggil seseorang.

            Tulus yang berdiri memandangi ruangan kamarnya, kini membalikkan tubuhnya dan mendapati Burju. Tulus menghembuskan nafas besarnya. Ia memandang Burju dengan kedua bola matanya yang jernih.

            “Ini untuk kamu,” ucap Burju memberikan sesuatu.

            “Apa ini?” tanya Tulus seraya memandangi benda yang tengah berada di tangannya.

            “Tadi ada titipan dari warga saat Abang menyiapkan penyuluhan yang hendak Among berikan. Katanya sih, ini untuk kamu dan kamu memesannya,” ucap Burju memberikan penjelasan.

            “Ini,” ucap Burju menyodorkan. Hal ini berhasil membuat Tulus tersadar dari lamunannya dan meraih benda yang ada di tangan Burju.

            “Tapi, perasaan Tulus nggak pesen apa-apa,” ucap Tulus.

            “Mana Abang tahu, tapi buktinya ada ini,” ucap Burju.

            Tulus kalah telak. Iapun menerima benda itu dari tangan Burju dan meletakkannya di dalam saku. Burju meninggalkan Tulus. Burju tahu, adiknya itu bukanlah orang yang mudah merubah suasana hatinya. Jika tengah malas berbicara, maka ia akan malas berbicara. Mau bagaimanapun juga usaha yang diberikan jika hatinya sudah menangguhkan keputusan untuk enggan berkomunikasi dengan siapapun, Tulus tidak akan mengubah suasana hatinya.

            “Abang,” ucap Tulus sebelum Tulus memasuki ruangan kamarnya dan menutup pintu kamarnya.  

            “Apa?” tanya Burju seraya membalikkan tubuhnya di kala ia sudah berjalan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Tulus.

            “Semoga berhasil dengan pendidikan dan tes yang nantinya akan kamu tempuh,” ucap Tulus dengan senyuman tipisnya.

            Burju menganggukkan kepalanya. Kemudian, membalikkan tubuhnya kembali dan pergi meninggalkan Tulus. Untuk sejenak Tulus tersenyum setelah mendengarkan ucapan adiknya. Ia merasa, seperti mendapatkan sesuatu yang baru dari adiknya. Meski terlihat begitu jelas bahwa kegiatan yang dilakukan hari ini melelahkan dirinya.

            Tulus duduk di pinggiran tempat tidur setelah ia meletakkan dua lembar kertas yang menjadi pintu utama karirnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sebentar lagi bukan menjadi tempat tidurnya. Ranjang, yang akan ada dalam kesepian seperti padang pasir Sahara, Gobi, dan Katarum.

            Ia menatap langit-langit ruangan itu. Ia melihat banyak hal yang selama ini, ia bayangkan. Mulai dari ia berdiri di atas podium dengan orasi-orasinya, dengan rangkaian pemikiran-pemikirannya yang bisa mengubah sesuatu untuk kelangsungan kehidupan masyarakat dan menjawab kebutuhan masyarakat. Pemikiran yang bermanfaat untuk banyak orang. Dan, masih banyak lagi. Semua itu terhenti seketika saat ia mengingat benda yang diberikan oleh Burju barusan.

            Tulus merogoh sakunya. Tadi, saat Burju memberikan kepadanya, belum sempat Tulus melihatnya secara detail bagaimana. Melainkan, langsung memasukannya ke dalam saku. Tulus membuka lipatan kain itu. Ia melihat rajutan namanya di pojok kanan bawah kain itu. Kemudian, ia melihat sedikit hiasan bordir di sana. Untuk sejenak, Tulus mengingat sesuatu. Ah… Bukan mengingat. Melainkan, ia berusaha untuk mengingat.

            Dalam hitungan beberapa detik, Tulus tidak mengingat apapun. Ia hanya bisa mengingat betapa menyenengkan saat ia melihat sorakan ramai dari warga saat ia berorasi di balai desa. Tak hanya itu saja, dalam detik waktu itu juga hatinya menangguhnya bahwa ia akan berada kembali di sana.

            Tulus menolehkan kepalanya. Ia melihat layar ponselnya berkedip. Tulus bangkit dari rebahannya. Kemudian, ia melihat nomor yang tak dikenal di layar ponselnya. Ia memberanikan diri untuk mengangkat panggilan rahasia itu.

            “Siapa?” tanya Tulus  langsung pada intinya.

            “Ini aku. Zania.”

            “Zania?” geming Tulus seraya ia mengerutkan dahinya. Di dalam pikirannya mencari berkas bagaimana wajah Zania.

            “Siapa itu?” tanya Tulus saat ia menyerah dengan sesuatu yang ia anggap tak penting.

            “Aku temanmu. SMA. Hanya saja, kita berada di sekolah yang berbeda.”

            “Oh. Maaf aku tidak mengenalmu,” ucap Tulus jujur.

            “Iya. Aku tahu kalau kau memang tak mengenalku. Hanya aku yang mengenalmu.”

            “Hmmm, ada apa?” tanya Tulus kembali.

            “Ada yang ingin aku bicarakan. Berkenankan kau memberikan sedikit waktumu?” tanya perempuan yang ia baru tahu bahwa namanya Zania.

            “Silahkan,” ucap Tulus.

            “Aku menitipkan sapu tangan ke Kakakmu. Sudah sampai kah?”

            “Oh, ini dari kau. Terimakasih.”

            “Sama-sama. Aku berharap, itu bisa menyeka keringatmu yang telah mengobarkan semangat masyarakat. Terimakasih, sudah berjuang untuk memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat. Aku berharap, kamu tak pernah lelah dengan semua itu.”

            “Itu juga merupakan cita-citaku. Tidak perlu berterimakasih. Alangkah baiknya jika kamu membantuku untuk memperbaiki. Setidaknya, dengan kamu apresiasi seperti ini, sudah cukup membuatku senang dan puas,” ucap Tulus.

            “Mmmmm, aku akan membantu dengan kemampuan yang aku bisa,” ucap Zania.

            “Baguslah. Aku tutup dulu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan,” ucap Tulus saat ia melihat Rindi yang berdiri di ambang pintu kamar tidurnya.

            “Masuk saja, Inong.”

            Rindi menganggukkan kepalanya. Kemudian, ia duduk di samping Tulus. Melihat sapu tangan yang terajut namanya.

            “Dari siapa? Kekasih?” tanya Rindi.

            “Bukan. Tulus tidak tahu. Tapi, dia baru saja menelfon. Namanya, Zania.”

            “Mmmmm. Bagaimana dengan Among?”

            “Sudah selesai. Tulus mau menghubungi Rendy.”

            “Mau Inong bantu menyiapkan semua perlengkapan ke dalam koper?” tanya Rindi.

Tulus menganggukkan kepalanya ringan seraya tersenyum menanggapi pertanyaan Rindi.

***

            “Maaf Tulus bangun kesiangan tadi,” ucap Tulus kepada anggota keluarganya.

            “Nggak papa, kamu duduk aja,” ucap Inong seraya meletakkan pisang goreng yang masih hangat.

            Tulus menolehkan ke arah dapur. Apa yang ia kehendaki untuk dilihat tak ada di sana, kemudian Tulus menolehkan kepalanya ke arah ruang tamu. Tidak ia dapati juga. Tulus kembali menatap Rindi yang masih asik menata piring.

            “Among kemana?” tanya Tulus.

            “Amongmu sudah ada di Balai Desa untuk memberikan pelatihan kepada warga. Karena, Parulian sudah harus siap-siap berangkat bersama dengan Kakakmu siang ini. Penerbangannya siang ini ke Bali,” jelas Rindi kepada Tulus.

            “Abang udah berangkat?” tanya Tulus dengan membelalakkan kedua bola matanya. Terlihat jelas apabila di dalam pikirannya akan rasa salah yang begitu besar apabila ia melewatkan perpisahan dengan Burju. Abangnya yang begitu menyebalkan.

            “Abangmu ikut Among ke Balai Desa. Untuk membantu mempersiapkan pelatihan pengemasan produk dengan kemasan yang baru. Kamu mau ikut? Makan dulu, Nak.”

            “Inong kenapa tadi tidak membangunkan Tulus?” tanya Tulus dengan nadanya yang merajuk.

            Rindi tersenyum geli saat mendengarkan nada Tulus yang merajuk. Seketika, di dalam pikirannya terlintas bagaimana nantinya jika putranya yang satu itu akan berhadapan dengan perempuan yang menjadi kekasihnya nanti. Mengingat, selama Tulus memejamkan kedua bola matanya, ponselnya terus berbunyi. Dan, nomor itu tidak diberi nama.

            “Inong kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Tulus.

            “Tidak, hanya geli saja saat melihat kamu demikian,” ucap Rindi ambigu.

            “Melihat apa? Tulus nggak ngapa-ngapain tuh,” ucap Tulus seraya ia menarik kursi untuk ia duduki.

            “Ah lupakan saja. Ayo makan. Inong siapkan, ya?” ucap Rindi seraya mengambilkan piring untuk Tulus.

            Tiba-tiba Tulus meraih piring itu dan mengambil nasi sendiri. Ia mengambil nasi sesuai dengan keinginannya. Pagi ini porsinya lebih banyak daripada porsi saat makan-makan lainnya. Rindi tersenyum geli melihat tingkah Tulus. Melihat wajahnya yang datar kemudian bibirnya yang sedikit berkerucut menunjukkan bahwa mood pagi ini telah rusak karena tawa geli Rindi tadi.

            “Pelan-pelan, sayang.”

            “Abis Tulus ini sebal kali, Inong.”

            “Kenapa begitu. Semalam itu, ponsel Tulus berdering terus. Berisik sekali. Tulus sudah matikan, eh malah batrenya hidup lagi karena Tulus masukkan dayanya. Alhasil Tulus bangun siang. Dan, Inong tidak berkenan untuk membangunkan Tulus.”

            “Hahaha… kamu itu persis dengan Amongmu. Kualitas tidur adalah penentu gerakan mood yang nantinya akan mempengaruhi pekerjaan,” ucap Rindi.

            “Iyalah, orang Tulus anaknya. Inong ini bagaimana,” ucap Tulu seraya memakan makannya.

            Setelah mendengarkan keluhan anaknya, Rindi beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, ia berjalan ke arah dapur. Kali ini, ia tidak menyuruh pembantu rumah tangga untuk membantunya dalam melakukan pekerjaan di dapur. Rindi menangani semuanya sendiri.

            “Apa ini?” tanya Tulus saat ia tengah meletakkan tubuhnya untuk bersandar di kursi. Ia menghirup bau yang begitu khas saat berhadapan dengan sesuatu yang tidak ia mengerti.

            “Terimakasih, Inong,” ucap Tulus seraya meraih gelas mug yang berisi cokelat panas. Tak hanya itu saja, Rindi juga menyediakan kue brownies kering sebagai iringannya.

            “Inong, kenapa harus cokelat?” tanya Tulus dengan menyeruput cokelat panasnya. Kemudian, mencecap bibirnya untuk meredakan rasa panas yang ada.

            “Karena, cokelat bisa menekan stressor kamu. Amongmu biasanya juga begitu. Hanya saja, kamu tidak mengetahuinya. Justru, Amongmu lebih suka cokelat dibandingkan kopi,” ucap Rindi memberikan keterangan.

            Belum lama Rindi menyediakan semua itu, cokelat panas itu habis hingga tetesan terakhir. Begitu juga dengan brownies kering yang tersedia. Tulus memakan semuanya dengan lahap. Sungguh seperti sihir memang.  Kedua bola matanya terlihat begitu lega setelah mendapatkan semuanya.

            Tulus beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada Rindi untuk berangkat ke Balai Desa menyusul Ramos dan Burju. Akan tetapi, Rindi menekan pundak putranya yang tumbuh lebih tinggi darinya. Tubuhnya terpantul dari kursi yang empuk.

            “Biar makanannya turun dulu,” ucap Rindi memperingatkan.

            Tulus membiarkan Rindi memperlakukan dirinya sebagai seorang Ibu. Tulus, berusaha mengerti bagaimana perasaan Rindi di saat seperti ini. Untuk sejenak, Tulus mengingat kembali masa dimana Rindi tidak mampu memberikan hatinya yang membiarkan Tulus untuk bekerja lebih. Pertengkaran yang ia dengar di dalam ruangan Ramos kala itu, menjadi sesuatu yang begitu memukul untuknya. Ia menyadari suatu hal dimana sayang sudah tak mampu memberikan rasa sakit yang begitu tajam.

            “Sayang, boleh kiranya Inong menanyakan sesuatu kepada kamu?” tanya Rindi memecah keheningan.

            “Perihal apa Among?” tanya Tulus.

            “Perempuan…”

            Belum selesai Rindi mengatakan apa yang hendak ia katakaa, Tulus sudah menggeser letak duduknya. Terlihat begitu jelas, bahwa ia tak nyaman dengan pertanyaan Rindi.

            “Tulus tidak mengerti dia siapa. Bahkan namanyapun, asing di telinga Tulus. Lagi pula, Tulus tidak mengerti dia mendapatkan nomor telepon Tulus darimana? Ah sudahlah, Tulus ingin menemui Among. Tulus pamit,” ucap Tulus kepada Rindi seraya meraih telapak tangan Rindi untuk menciumnya.

            “Hati-hati,” seru Rindi saat Tulus sudah tak lagi berada di tempat duduknya dan berjalan ke ambang pintu untuk menyusul Ramos.

            Tulus mengangkat ibu jari dan jari telunjuknya. Ia menunjukkan tanda’Ok’ sebagai tanda bahwa ia akan melaksanakan apa yang hendak ia laksanakan.

***

            Langkah kakinya keluar dari gerbang. Pertanyaan dari satpam mengenai alasan mengapa Tulus tidak menggunakan kendaraan bermotor, dijawab dengan senyuman yang ramah. Yah… Tulus memilih untuk pergi meninggalkan rumah menuju Balai Desa untuk membantu Ramos memberikan pelatihan. Ia melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan tak lama lagi, Burju akan datang pulang dan mengambil koper. Kemudian, berangkat menunaikan mimpinya sebagai seorang pilot.

            Tulus berlari. Ia membangun pemikiran dimana larinya saat ini tidak dilakukan untuk suatu keterlambatan. Melainkan, untuk kesehatannya. Nafasnya mulai terengah-engah di saat langkah larinya menginjak ke angka lima belas. Sungguh, tidak pernah ia selemah ini. Semua itu karena ia sudah lama tak menggunakan tubuhnya. Latihan olahraga atau mengeluarkan keringat sedikitpun, sudah tidak pernah ia lakukan sejak permasalahan mengenai mimpinya.

            “Ah Tuhan… beginikah hidupku. Sampai jantungku saja, sudah tak kuat berdetak. Padahal, Balai Desa sudah dekat dan terdengar suara keramaian masyarakat yang berkumpul di sana,” gumam Tulus dengan mengurangi kecepatan langkah larinya.

            “Tulus!!!!” Panggil Rendy dari kejauhan. Terlihat begitu jelas, Rendy melambaikan tangannya. Agar Tulus lekas mendekat ke arahnya.

            Tulus mempercepat langkahnya. Ia tidak peduli dengan erangan nafasnya. Ia seperti melihat bintang di depan mata. Maka dari itu, Tulus menghampiri Rendy. Terlihat di sana, berjejer antara Ramos, Parulian, Burju, dan Rendy. Senyuman mereka merekah seperti bunga yang mekar. Wajahnya, terlihat begitu riang. Sungguh menyenangkan melihat pemandangan yang seperti itu.

            “Minum-minum dulu,” ucap Burju meraih pundak Tulus saat Tulus membungkukkan badannya setelah ia sampai di Balai Desa.

            Rendy meraih botol mineral yang tak jauh dari jangkauannya. Kemudian, ia memberikannya kepada Burju dan diberikannya oleh Burju kepada Tulus. Minuman itu diteguk sekaligus dalam satu tegukan oleh Tulus.

            “Bagaimana, segar?” tanya Burju.

            Tulus menjawabnya dengan anggukan kepala. Sebab, air yang ia minum belum semuanya masuk ke dalam tenggorokannya. Burju yang mengerti, tersenyum melihat hal tersebut. Begitu juga Rendy.

            “Among dimana?” tanya Tulus kepada Burju saat ia tak melihat Ramos berada di tengah keramaian warga.

            “Amongmu ada di ujung. Ayo masuk,” ajak Rendy memberikan jawaban.

            Tulus melepaskan sendalnya. Kemudian, ia menaiki undak-undakan pendopo dan masuk ke dalam. Mengikuti langkah Rendy dan juga Burju. Hiruk pikuk yang ada, begitu menggairahkan hatinya untuk menyentuh barang yang menjadi sumber suara warga keluar. Binaran mata warga yang gembira dengan penemuan barunya, membuat dirinya terenyuh dalam gemerisik udara dan gesekan ranting pohon pinus yang mengelilingi area pendopo di Balai Desa. Hari ini, terasa hembusan dan rantai sapa alam yang disampaikan oleh angin kepada hatinya. Bahwa, perubahan telah dimulai.

Episode sebelumnya…

2 tanggapan pada “Baru : #CerpenKita Episode 9”

  1. Pingback: Aku Berbeda : #CerpenKita Episode 10 - Jasa SEO Jakarta Indonesia

  2. Pingback: Bahan Berani : #CerpenKita Episode 8 - Jasa SEO Jakarta Indonesia

Tinggalkan Balasan