Waktu Adalah Prajuritnya #CerpenKita Episode 11


Elang tidak membangun sarangnya di pohon Willow yang rapuh. Singa tidak mencari gua tempat berdiam di antara pohon-pohon pakis.
-Kahlil Gibran-

Episode Sebelumnya…

Pagi itu, menjadi pagi yang begitu sendu untuknya. Untuk dia, yang tengah berdiri di balik tirai ruangan itu. Ruangan, yang menjadi penampung atas segala kenangan hidupnya. Ruangan, yang akan ia tinggalkan untuk beberapa waktu ke depan. Ah… bukan hanya beberapa waktu ke depan. Tapi, sedikit jauh ke depan dan entah kapan, ia akan kembali.

Pagi itu, begitu cerah. Kecerahan mentari yang menyinari wajahnya, terpendar memantul dari kaca yang terpasang di tralis jendela. Cahaya itu, menganggunya, hingga ia menarik langkahnya ke belakang.

Bola matanya, memutar arah pandang. Dari langit, ke arah itu. Ke arah warna merah itu. Warna yang begitu mencolok di antara warna lainnya. Yah… bunga mawar itu. Ia kembali memandang bunga, yang tengah mekar. Bunga yang juga menyimpan kenangan bersama dengan ruangan itu. Ia memandang sedikit lebih lama. Ia kembali memutar berbagai memori kenangan yang ada di dalam pikirannya.

 Ah… bukan. Pikiran itu, hanya sebagai objek penyampaian. Selama ini, ia menyimpan segala kenangan itu di lubuk hatinya. Jauh di sana. Di suara hatinya. Yah.. di relung hatinya. Bahkan, setiap tulang rusuknya mendengar begitu jelas keluh kesah jiwanya. Termasuk, menyimpan ketakutan yang telah ia binasakan bersama dengan keberanian melalui obsesinya.

Ia memejamkan kedua matanya. Merasakan hembusan angin yang masuk dari sela-sela kaca jendela yang di buka. Telapak tangannya yang berada di dalam saku celana, merasakan angin itu berhembus membelai bagian luar kulitnya begitu halus. Pikirannya melayang, dan kosong sebab ia merasakan angin itu.

“Tulus,” panggilnya begitu lembut.

Ia tak menjawab. Ia membuka matanya perlahan. Kemudian, ia mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan. Lalu, membalikkan tubuhnya dan memandang seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu.

“Iya, Inong.”

“Makanan sudah siap. Sarapan dulu, lalu Among akan mengantarkanmu ke bandara.”

“Tulus, akan menyusul.”

Perempuan itu mengangguk. Kemudian, berjalan ke arahnya dan memegang kedua pundaknya. Perempuan itu menatapnya dengan sedikit mendongkakkan kepalanya. Ia menatap manik mata putra yang akan ia lepas dari sangkar. Ia berharap, putranya tak akan menemukan sangkar yang salah.

“Inong berharap, kamu akan baik-baik saja.”

“Bukan Tulus yang seharusnya bersikap demikian. Melainkan Inong. Jaga diri Inong baik-baik. Masih adala telfon untuk saling menghubungkan,” ucap Tulus memberikan pengertian lebih dalam.

Perempuan itu mengangguk. Kemudian, penepuk pundak Tulus dan pergi meninggalkan ruangan itu. Tulus tersenyum mengiringi kepergian perempuan itu. Tatapan matanya meyakinkan bahwa Tulus baik-baik saja. Anggukan kepala yang diberikan oleh Tulus, cukup memmbuat perempuan itu tenang. Ketenangan abadi perempuan itu, terlihat begitu jelas, saat ia tak lagi tersenyum sendu. Melainkan, menganggukan kepalanya.

“Zani,” gumamnya saat ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Ia melihat rajutan namanya di sapu tangan itu. Indah, dan rapi. Tapi hatinya, masih belum menerima kerapian itu. Hatinya, masih bersih kukuh untuk berjalan ke arah yang sudah ia tentukan.

“Maafkan aku Zania,” gumamnya ringan seraya meletakkan sapu tangan itu di laci yang sudah terbuka sejak tadi. Tulus menutup kembali laci itu. Lalu, ia pergi keluar dari ruangan itu beserta menggeret beberapa koper untuk ia bawa.

***

Terdengar suara tawa yang begitu renyah. Tapi, rasa tawa itu seperti memberikan kode rahasia untuk menutupi suatu hal. Bagian-bagian dari setiap suara itu, menyampaikan hampa saat sampai di gendang telinga. Lebih terasa kehampaan itu, saat gendang telinga menyentuh hati yang kini terbakar akan kobaran api yang begitu dingin. Hingga hawa hati itu, dua kali lebih dingin saat menerima rangsangan dari gendang telinganya.

“Udah lama Ren?” tanya Tulus saat tapak kakinya telah menginjakkan langkah di anak tangga terakhir. Kemudian, ia melihat Rendy duduk dengan membawa piring yang sudah disediakan makanan di atasnya.

“Lumayan, sekitar lima belas menit.”

Sorry, udah bikin lo nunggu lama.”

“Santai aja.”

“Duduk, Nak. Ayo sarapan dulu,” ucap Among memberikan intruksi.

Tulus mengatupkan bibirnya dan berdeham. Kemudian, ia berjalan mendekat ke arah Ramos yang kini tengah menggunakan pakaian sedikit lebih santai daripada biasanya. Kaos polo berwarna putih, senada dengan kulitnya yang sawo mentah. Celana creamnya membuat Ramos terlihat sedikit lebih muda. Senyuman itu, seperti sambutan yang sengaja dibuat untuk melesapkan rasa pedih setelah melepaskan Putra pertama dan Putra keduanya sekaligus dengan waktu yang beruntun.

“Kamu mencari apa?” tanya Inong.

“Hari ini, seperti hari terakhir dimana Tulus di rumah. Dan Inong tidak menyediakan makanan kesukaan Tulus?”

Rindi tersenyum tipis. Jarinya yang tengah memegang sendok, bergetar menunjukkan bahwa hatinya telah menguasai diri. Logika, sudah tak mampu memberikan kendali.

“Inong,” ucap Tulus memanggil. Ia sadar bahwa Rindi tengah berada di dalam alam pikiran lain.

“Mmmm, maaf..” ucap Rindi terperangah. Rindi menutupi kelalaian itu dengan meletakkan sendok di atas piring Ramos.

“Inong sengaja tidak memasak. Untuk melatih kamu, agar kamu tidak terbiasa memakan makanan kesukaan kamu. Rendang.”

Tulus menganggukkan kepalanya seraya mengerucutkan bibirnya membentuk huruf ‘O’. Kedua tanda fisik yang diberitahukan oleh tubuhnya memberikan informasi kepada lawan bicaranya bahwa ia mengerti apa yang tengah dimaksudkan oleh Rindi.

“Makanlah. Jangan banyak bertanya. Waktumu tinggal sedikit saat kamu sampai di sini.”

“Inong, Tulus akan pulang.”

“Siapa bilang kamu tidak akan pulang, hmmm?”

“Tapi aku,” belum selesai bicara Rindi sudah menyumpal mulut Tulus menggunakan selada air.

Rendy dan Ramos terkikik ringan melihat hal itu. Tulus yang tadinya hendak beranjak dari tempat duduknya dan membicarakan hal perasaan, seketika terhenti dan memasukkan selada air itu dengan sedikit kasar dan wajah yang masam. Kemudian, mengunyahnya dan menyodorkan piring ke arah Rindi agar Rindi mengambilkan beberapa makanan di sana.

“Ambil sendiri. Belajar mandiri mulai hari ini,” ucap Rindi kepada Tulus.

Tulus yang sudah berada di muka yang masam itu, mengambil sendok nasi. Ia meladeni keinginan perutnya sesuai dengan apa yang sudah diperintahkan oleh Rindi. Benar-benar berbeda hari ini. Dalam dentingan waktu dan iringan degup suara jantung, seluruh orang memihak waktu yang lain di kala Tulus menginginkan waktu itu. Waktu dimana ia berharap akan kehangatan yang hendak ia peluk sebelum ia benar-benar merasakan waktu untuk kehilangan satu persatu dunianya.

Pagi itu, ia menikmati sedikit waktu di rumah dengan senyuman-senyuman yang hampa. Tawa renyah yang juga hampa dan sepi. Naluri itu memberikan intuisi bahwa ia harus lebih tangkas untuk menepis rasa yang diberikan oleh waktu hari ini. Yah… rasa itu, adalah kehilangan.

“Among akan menunggu kita di Bandara?”

“Yah… Among dan Inong, akan menemani kalian di Bandara,” terang Ramos.

“Nantulang dan Tulang bagaimana?” tanya Tulus.

“Mereka berdua membiarkan aku untuk sendirian menghadapi semua ini. Kan masih ada orang tua Tulus. Jadi, anggap saja itu orang tua Rendy,” ucap Rendy menghibur.

Ramos tertawa. Melihat Rendy yang berada di kursi belakang setelah kursi utama mobil melalui kaca.

“Kamu dibohongi sama Rendy. Kedua orang tuanya, mengurus bisnis Among yang harus Among tinggal. Kamu lupa, kalau Amongnya Rendy mengantar Abangmu? Sekarang belum kembali. Tinggal Inongnya Rendy di sini. Jadi, yang menggantikan Amongmu ini, adalah Inongnya Rendy. Paham tak?” ucap Ramos memberikan penjelasan.

Tulus memejamkan matanya. Kemudian, ia menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil seraya menepuk jidatnya.

“Kenapa goblokku seperti ini? Semudah itu aku melupakan Abang Burju yang baru saja kemarin berangkat ke Bali.”

Rendy tertawa. Begitu juga dengan yang lain. Ramos mengiringi tawanya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya ringan. Sungguh, pikirannya melayang bersama dengan potongan ingatan yang seharusnya lengkap hari ini.

“Saat kalian sudah sampai di sana, kabari Among dan Inong ya,” ucap Rindi memberikan perintah ringan.

“Siap,” ucap Rendy dengan mengangkat telapak tangannya dan menempelkan jarinya di ujung alis tebalnya.

Rindi tersenyum melihatnya. Ramos membantu meramaikan suasana dengan menyalakan speaker mobil. Kemudian, terdengarlah lagu yang berputar di sana. Rendy mengikuti iringan lagu itu. Begitu juga dengan Tulus.

Di tengah kenyamanan yang berusaha menepis hamba dan kembali mengisi tawa Tulus merasakan getaran di pahanya. Ia merogoh saku celananya. Kemudian, ia mengambil ponselnya. Nomor tak dikenal. Tulus menerima panggilan itu.

“Temui aku di pintu masuk Bandara.”

Tulus mengeryitkan dahinya. Ia tak mengerti siapa yang berada di balik panggilan itu. Tulus kembali memanggil nomor itu. Dan, tidak aktif. Ramos dan Rindi yang menyadari hal itu, menanyakan perubahan wajah Tulus. Tulus hanya menggelengkan kepalanya dan menyeringai seolah-olah tak terjadi apapun.

Ia menyembunyikan, getaran hatinya yang kini tengah tersengat rasa kawatir. Belakangan ini, ia menerima panggilan dengan nomor yang tidak dikenal. Dan saat ia kembali memanggil nomor itu. Sudah tidak aktif. Hal yang sungguh aneh. Sangat aneh. Akan tetapi, Tulus terus berusaha membawa dan mengendalikan dirinya seolah-olah tak terjadi apapun dalam dirinya.

“Sampai.”

Tulus mengeluarkan kepalanya keluar di kala kaca mobil membuka perlahan seiring ia menekan tombol di pintu mobil. Benar. Ia telah sampai di Bandara. Ramos keluar dari mobil. Begitu juga dengan Rindi. Begitu pula dengan Rendy.

“Lo tetep di sini? Nggak keluar? Mau balik lagi ke rumah?!” tanya Rendy tepat di depan mata Tulus.

Tulus mendecah. Kemudian melambaikan telapak tangannya untuk menyingkir dari hadapan Tulus. Rendy mengeryitkan dahinya. Aneh. Melihat Tulus yang mengekok kanan-kiri seperti mencari seseorang, terlihat begitu jelas.

“Udah turun! Keluarin koper lo!” ucap Rendy membuka pintu mobil dan menarik Tulus keluar dari mobil.

“Iya-iya bentar. Kepala gue nyangkut goblok!” ucap Tulus membenahi kepalanya dengan posisi yang sesuai. Ia menarik kepalanya dari jendela, kemudian keluar dari mobil.

“Ribet amat lu Lus,” ucap Rendy sewot.

Tulus membalas ucapannya dengan desahan kesal. Rendy tak menanggapi. Melainkan, ia berjalan ke arah belakang mobil. Membantu Ramos mengeluarkan koper. Kemudian, di susul oleh Tulus yang berjalan cepat ke arahnya.

“Nih,” ucap Rendy memberikan koper yang seharusnya dibawa oleh Tulus.

Ramos kembali menutup bagasi mobil. Rendy berjalan ke arah pintu masuk, begitu juga dengan Tulus dan Rindi. Saat Rindi merasa bahwa langkahnya semakin jauh, Rindi memutuskan untuk menunggu Ramos di tempatnya. Ia ingin, Ramos berjalan beriringan dengannya.

“Kenapa berhenti?” tanya Ramos.

Rindi menggelengkan kepalanya. Kemudian, ia mengaitkan lengannya ke lengan Ramos. Bergelayut manja di belakang kedua laki-laki yang tengah berjalan ke arah pintu kehidupan barunya. Meninggalkan kandang yang hangat dan berperang melawan ilusi. Menjawab tanggung jawab keputusan dan kehidupan yang diharapkan. Meski kehidupan itu, adalah kehidupan yang cukup untuk merasakan nerakanya dunia.

“Gue mau ke kamar mandi dulu,” ucap Tulus tiba-tiba.

“Yaudah sana,” ucap Rendy.

“Nitip koper. Sekalian pamitin sama Among dan Inong gue,” ucap Tulus memberikan intruksi sebelum ia meninggalkan Rendy dan berjalan ke ruang tunggu.

Rendy menganggukkan kepalanya. Ia menunggu Rindi dan Ramos yang berjalan di belakangnya mengiringi. Rendy bersiap-siap untuk menderek koper milik Tulus.

“Kemana Tulus?” tanya Rindi.

“Tulus ke kamar mandi Tulang,” ucap Rendy memberikan keterangan.

“Kebanyakan minum kali itu anak,” ucap Ramos.

“Sini Tulang bantu bawa kopernya,” ucap Rindi.

“Jangan kamu. Biar aku aja,” ucap Ramos meraih koper milih Tulus.

Rendy tersenyum melihat tingkah kedua orang tua Tulus. Tingkah mereka sama seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Begitu ringan dan indah. Tanpa sebuah alasan yang begitu berat untuk dijelaskan sebagai sesuatu bahwa itu pengorbanan agar Rindi bahagia. Namun, dengan begitu buat Rindi bahagia. Ramos hanya memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang Adam. Ia menyadari betul bahwa tulang rusuk yang berada di punggun Rindi adalah miliknya.

***

By : STIL

“Ayo cepetan angkat!” gumamnya kawatir. Dan gumama ini, Tulus ucapkan berulangkali di  tengah keramaian Bandara.

“Sial!!!” ucapnya kesal saat ponselnya tak terhubung dengan nomor rahasia tersebut. Sungguh harinya begitu menyebalkan sebelum ia meninggalkan kampung halamannya.

Tulus mendesah kesal seraya bergumam dan mengumpat kesal. Ia memijat pelipisnya ringan. Tak lama dari itu, ponselnya kembali berdering. Tulus melepaskan pijatan pelipisnya yang pening. Kini, jarinya beralih menggeser tombol ponselnya.

“Siapa kau! Tunjukkan diri! Jangan bermain seperti kucing-kucingan!!!” ucap Tulus dengan kesal.

“Berbaliklah. Aku ada pada arah jam dua belas.”

Tulus terperangah. Ia membalikkan tubuh tegap tingginya. Ia memutar bola matanya. Menyapu pandang beberapa kali. Dari sudut yang sama, terdapat dua orang yang meletakkan ponsel di telinganya. Tulus tak dapat mengenali siapa penelfon itu. Kedua orang itu, sama-sama melihatnya.

Orang pertama menggunakan baju cokelat, sedangkan yang kedua menggunakan baju hitam dan abu-abu. Monokrom. Hanya saja, ia menggunakan masker. Keduanya, orang itu melihatnya.

“Kau?” tanyanya.

Orang itu menganggukkan kepalanya. Tulus menggegat bibirnya. Ia menggertakkan gigi dan terdengar gemeratak bunyi gigi itu. Tulus melangkahkan kakinya mendekati. Orang yang sudah menganggukkan kepalanya. Orang yang menggunakan baju monokrom itu. Kurang dari jarak sepuluh kaki, orang itu memundurkan langkahnya sebanyak dua kali. Tulus berlari ke arah orang itu, dan semakin dekat langkahnya Tulus justru tak mampu mencapainya.

Orang itu, lari dari Tulus dan Tulus mengejarnya. Orang itu berjalan ke arah boarding pass. Dan itu melewati ruang tunggu.

Nggak! Di sana ada keluarga dan Rendy yang tengah menunggunya. Tidak mungkin Tulus melewati mereka. Tidak mungkin ia harus menjelaskan semua tentang apa yang sudah terjadi padanya belakangan ini. Tulus tidak ingin merusak apa yang seharusnya menjadi kemenangannya.

Tulus menghentikan langkahnya. Ia memutar otaknya untuk berjalan ke arah boarding pass tanpa harus melewati ruang tunggu. Namun, pikirannya buntu. Tulus kembali memijat pelipisnya. Ia menolehkan kepalanya. Ada gerombolan orang yang berjalan bersama. Tulus membelalakkan matanya. Ia menemukan jalan tanpa harus memutar. Mengingat, waktu ia terbang tak lama lagi akan datang.

Dengan menekuk lututnya dan berjalan setelah jongkok, ia berjalan bersama dengan gerombolan orang itu. Ia menundukkan wajahnya dan memalingkan wajahnya setengah dari pandangan ruang tunggu. Ia berjalan sedikit cepat saat gerombolan itu mulai jauh darinya dan berlari ke arah boarding pass saat gerombolan itu melewati ruang tunggu.

Sesampainya di sana, Tulus kembali mencari orang itu. Ia tak menemukannya, Dan hal itu menjadi keputusan Tulus untuk bersembunyi di balik tubuh seseorang yang tengah berbincang. Kedua matanya tak berhenti menyapu pandang.

“Ah!” ucapnya.

“Kau?!!!!” ucap Tulus saat ia berhasil melepaskan masker orang itu dengan kasar.

“Mmmmm,” jawabnya.

“Apa-apaan ini hah?!!! Kau mempermainkan aku Zania!!!!” ucap Tulus dengan nadanya yang tinggi.

“Kau yang mempermainkan aku Tulus!!!”

“Apa maskudmu?!!! Aku tidak pernah mempermainkan orang!!! Kau gila!!!”

“Ya!!! Aku memang gila! Itu karena kau!!! Paham?!!!”

“Aku?!!! Ada apa denganku?! Aku tidak pernah punya urusan penting denganmu, Zania! Bahkan, aku tidak mengenalmu lebih jauh! Lalu, tiba-tiba kau bilang aneh seperti ini? Maumu apa hah?!!!!”

“Tulus, tidak bisakah kau sedikit lembutkan hatimu?”

“Lembut? Maksudmu apa? Apa yang harus kulembutkan? Aku menjadi diriku sendiri!”

“Hatimu terlalu sulit untuk disentuh!!!! Tidakkah kau sadar itu?!!!! Kau keparat Tulus!”

“Apa kau bilang? Aku keparat? Tulus Hutasoit keparat?!!!” ucap Tulus seraya memajukan langkahnya. Ia menatap Zania dengan sorotan matanya yang tajam. Giginya menggegat seolah ia hendak memakan perempuan yang tengah berdiri di depannya.

“Ya!!! Kau keparat!!! Aku mencintaimu dan kau tidak mengerti Tulus Hutasoit!!!!” ucap Zania dengan segala kekuatannya membentak seseorang yang dicintainya.

“Apa kau bilang? Cinta? Tch!” ucap Tulus dengan mendongkakkan kepalanya. Kemudian, ia tertawa. Tawa itu begitu hambar. Dan, terdengar begitu sarkatis.

“Buang cintamu jauh-jauh, Zania. Lebih baik kau cintai dirimu sendiri dan berdiri dengan tegak sebagai seorang perempuan! Karena aku, belum membuka pintu untuk hal itu. Dan kau tahu, cinta itu sakit. Lebih baik, kau hentikan itu dan pergilah. Jauh, lebih jauh daripada yang aku haruskan. Jangan pernah menunggu, itu hal bodoh. Dan jangan pernah menjadi perempuan yang bodoh Zania. Karena aku, Tulus Hutasoit tak akan pernah percaya pada hal fana seperti itu. Camkan itu, Zania!” ucap Tulus dengan penuh tekanan pada setiap kata-katanya.

“Tulus…,” gumamnya hampir tak terdengar dan terkalahkan dengan suara dengung bising keramaian bandara.

Tulus yang melihat bibir mungil Zania berkecap, tak lagi menanggapi apa yang hendak Zania katakan. Ia justru meraih telapak tangan Zania yang dingin dan begitu ringan. Tulus meletakkan masker yang tadinya ia tarik dengan paksa dan kasar. Kini, ia kembalikan masker itu di genggaman Zania. Lalu, pergi meninggalkan Zania.

“Benar. Hatimu, telah mati rasa oleh keinginanmu yang tamak, Tulus. Dan, itu adalah kesalahanku kala itu. Dan, ini adalah kesalahanku kala ini,” ucap Zania lemah.

Keramaian Bandara seketika menghilang dari pendengarannya. Kini, yang ia rasakan adalah belaian angin yang begitu panas. Matanya terkatup dan air itu mengalir begitu saja meski hatinya tak menginginkan itu.

***

“Kamu darimana saja, Tulus?! Penerbanganmu kurang beberapa menit lagi!” ucap Ramos saat melihat Tulus tengah berlari ke arah ruang tunggu.

“Maaf Among, tadi Tulus ada masalah dengan pencernaan. Maaf,” ucap Tulus berusaha menutupi apa yang seharusnya tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.

“Kenapa bisa begitu?! Nanti di pesawat bagaimana, Nak?” tanya Rindi mulai kawatir.

“Inong nggak perlu kawatir. Tulus nggak papa kok. Maaf sudah membuat kawatir kalian semua,” ucap Tulus seraya melihat jam tangan yang menempel tepat di tangannya.

Boarding pass yuk,” ucap Tulus kepada Rendy.

Rendy menganggukkan kepalanya. Keduanya memberikan salam kepada Rindi dan Ramos untuk berpamitan. Pertemuan itu, berakhir dengan sendu-seda tangisan Rindi. Dan, seperti biasa, Ramos memberikan kekuatan kepada Rindi untuk menghapus air matanya. Rindi juga berusaha untuk melepaskan Tulus dengan menolehkan kepalanya ke belakang.

Rindi tidak ingin jikalau Tulus melihat air matanya, Tulus akan berat hati meninggalkan Rindi dan Ramos. Meski Rindi tahu, bahwa ia berawal tak menginginkan perpisahan ini. Tapi, perpisahan ini harus tetap terjadi. Bahkan jikalau tertunda, akan tetap terjadi pada waktu yang lainnya.

“Hati-hati di jalan. Jaga diri baik-baik. Among dan Inong menginginkan kalian berdua kembali. Paham?!” ucap Ramos seraya memegang salah satu bahu Tulus dan Rendy.

Kembali mendapat anggukan kepala dari Tulus dan Rendy sebagai jawaban, Ramos mulai kehilangan wajah mereka saat mereka sudah menyerahkan tiket pesawat dan melakukan prosedur untuk penerbangan.

“Lo darimana tadi?” tanya Rendy datar.

Tulus yang memandang turunnya pesawat, kini menolehkan kepalanya kepada sahabatnya itu. Terlihat kedua bola mata Rendy menangkap kebohongan yang telah dilakukan oleh Tulus.

“Adala masalah dikit. Tapi udah selesai,” ucap Tulus memberikan jawaban dengan nadanya yang malas.

Rendy memutar bola matanya kesal. Ia menoleh kembali ke Tulus. Kemudian, menatap Tulus dengan wajah serius sekaligus menghentikan langkah kakinya.

“Ngapain berhenti?” tanya Tulus.

“Nggak akan selesai kalau ujung lo bohong sama orang yang nggak seharusnya lo bohongin,” ucap Rendy rendah dan penuh dengan tekanan.

“Kalau gue nggak bohong, penerbangan gue akan gagal kali ini. Ini menyangkut masa depan gue,” ucap Tulus tak mau kalah.

“Dapat telfon dari orang nggak dikenal?”

“Maunya gitu. Tapi, sekarang udah kenal.”

“Nggak jauh dari masa lalu lo.”

Tulus berdeham mengiyakan. Jawaban yang tepat.

“Tch! Gila,” ucap Rendy ringan seraya kembali berjalan untuk menuruni tangga dan masuk ke dalam untuk menjangkau ruangan pesawat.

“Hmmmm, begitulah.”

Tak perlu penjelasan yang panjang, Rendy sudah mengetahui bagaimana maksud Tulus. Dengan jatah waktu yang lama ia mengenal Tulus, Rendy perlahan belajar bagaimana pola pikir Tulus selama ini. Tulus Hutasoit yang ia kenal, adalah pemberani. Ia berani keluar dari zona nyamannya dan tidak menggubris siapapun yang menghalangi jalannya.

Bahkan, di saat terpuruk sekalipun, Tulus akan tetap berdiri dengan keyakinan prinsipnya. Bahwa apa yang menjadi keputusannya, adalah hal yang mutlak. Sampai suatu saat, ia sendiri yang akan mengijinkan waktu untuk melakukan suatu hal atas kehendak Tulus. Dan, Rendy menamainya ‘Waktu itu adalah waktu yang menjadi prajuritnya. Tulus yang memerintahkan waktu melakukan peristiwa itu. Bukan sebaliknya.

1 tanggapan pada “Waktu Adalah Prajuritnya #CerpenKita Episode 11”

  1. Pingback: Baru : #CerpenKita Episode 12 - Jasa SEO Jakarta Indonesia

Tinggalkan Balasan