Baru : #CerpenKita Episode 12


Bila engkau sungguh-sungguh buka mata, kau akan menemukan bayanganmu di setiap bayangan, dan bila kau sungguh-sungguh buka telinga, kau akan mendengar suaramu sendiri dalam semua suara.
-Kahlil Gibran-

By : neonbrand

Episode Sebelumnya…

“Aduh gimana ini kita menghubungi supir pesanan Amongmu Lus?” tanya Rendy di tengah kepanikan.

“Ponsel lo mati?” tanya Tulus dengen membelalakkan kedua bola matanya tak percaya.

Rendy menganggukkan kepalanya. Dan Tulus berjongkok meremas kepalanya saat ia mengetahui bahwa sebuah harapan tak lagi secerah cahaya bulan yang bersinar di atas kepalanya. Seperti sebuah lukian enscape yang terpajang dengan begitu elegan.

Dengan langit yang cerah penuh gemintang dan bulan sebagai bagian pantulan cahayanya. Lalu-lalang kendaraan memberikan irama yang begitu kuat. Berbalik arah dengan irama di kampung halaman. Yang hanya begitu syahdu dan membentuk belaian untuk tidur di atas pangkuan bumi. Bumi manusia, dengan dosa dan pahala yang berbeda. Dengan nasib dan keputusan yang ada pada titik ujung sama. Mati. Kemudian,memasuki jalan entah surga entah neraka.

Kerlap cahaya kendaraan, terpantul dengan lampu-lampu jalanan. Sekaligus lampu-lampu atas yang bergaris membagi bagian sekat-persekat. Memenuhi detik-detik dan denting waktu malam itu. Yah…. tengah keramaian kota itu, mereka mulai merasakan regangan yang diberikan oleh waktu. Berjudi atas keuntungan sebagai bagian dari keputusan, dan juga kerugian.

“Inikah nerakanya dunia?” gumam Rendy.

“Yes. Ini nerakanya dunia. Rasanya, seperti ini.”

“Gimana nasib kita Lus? Nyari colokan dimana? Boleh di pakai nggak sih?” tanya Rendy berderet.

“Mana aku tahu. Akupun juga baru hidup keluar rumah dan tahu-tahunya macam gini,” ucap Tulus memberikan komentar dengan nadanya yang penuh keresahan.

Pancaran kedua bola matanya memperlihatkan api yang memanas bara kayu untuk tetap menyala pada harapan kehidupan. Nafasnya, perlahan-perlahan melembut seiring dengan sugesti yang ia berikan pada dirinya. Untuk pertama kalinya dalam sebuah himpitan keadaan yang begitu jelas. Ia, Tulus Hutasoit tak ingin diperintah oleh waktu dan dipermainkan kekuatan hatinya.

“Lo mau kemana?” tanya Rendy saat ia melihat Tulus berdiri dari jongkoknya.

“Nanya sama orang. Kita orang punya bibir. Kenapa tak minta tolong pula sama mereka?” ucap Tulus memberikan penjelasan.

“Kalau mereka tak mau tolong gimana?”

“Minta tolong sama yang lain sampai berhasil,” ucap Tulus.

“Nggak malu?” tanya Rendy.

“Milih malu dan diem di sini sampai berhari-hari, apa milih gerak terus kita istirahat di penginapan pilihan Among Ramos?” tanya Tulus memberikan penawaran.

“Geraklah.”

“Yaudah. Ngapain pakek nanya segala. Macam cewek aja kau Ren, manja,” ucap Tulus seraya meninggalkan Rendy dan menggeret kopernya.

“Tunggulah aku?!” ucap Rendy dengan berjalan cepat mengikuti arah Tulus.

Saat langkahnya sejajar dengan Tulus, Rendy menemukan sorotan keyakinan di dalam diri Tulus. Keyakinan bahwa Tulus dapat menyelesaikan permasalahannya malam ini. Malam yang menjadi cerita sedikit lebih panjang daripada malam-malam dimana ia melewati waktu yang menyidaknya dengan kejujuran. Memaksana relung hatinya untuk berteriak dan tak lagi berdengung manja dengan rasa takut. Sungguh, selimut rasa takut yang selama ini ada di dalam dirinya, begitu nyata dan nikmat.

“Hey, kau! Kemari. Aku ingin tanya sama kau,” ucap Tulus mendekati seseorang.

Orang tersebut menuding dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Perawakannya pendek. Tingginya, tak jauh dari Zania. Kulitnya, tak seputih Zania. Kuning langsat. Wajahnya bulat dengan pipi yang tembam. Hidungnya mancung. Dan, bibirnya sangat tipis. Seperti tak memiliki daun bibir. Warna bibir itu merona. Basah begitu alami tanpa dibuat-buat. Jemarinya pendek, kukunya yang sedikit panjang membantu jari pendek itu untuk terlihat begitu lentik. Kedua bola matanya bulat. Sempurna. Alisnya, arang. Tapi, warnanya tajam. Rona pipinya terlihat orange saat terpendar cahaya lampu bandara.

“Iya kau,” ucap Tulus memastikan dengan menganggukkan kepalanya. Jaraknya yang mulai mendekat tak juga membuat perempuan itu meyakini dirinya bahwa memang benar dirinya.

“Benar. Kau,” ucap Tulus kembali meyakinkan saat melihat perempuan itu menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, dan juga membalikkan tubuh mungilnya ke belakang. Kemudian, kembali menangkap wajah Tulus yang menganggukkan kepalanya seraya berjalan ke  perempuan itu.

“Iya? Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan mungil itu.

“Iyalah. Aku memang mau minta bantuan sama kau. Dari tadi kau tak sadar-sadar.”

Perempuan itu mengedipkan matanya berulang kali. Bulu matanya yang lentik dan dan garis kelopak matanya yang tajam, membingkai bolamatanya yang bulat terlihat begitu lucu. Tanpa sadar, Tulus tersenyum. Perempuan ini, seperti boneka.

“Kenapa kau berkedip berulang kali begitu? Eh kau ada pengisi daya tak? Ponsel aku mati ini. Aku mau telfon tak bisa. Atau begini saja, aku pinjam ponsel kau buat telfon nomor ini. Ada perlu aku sama dia,” terang Tulus memberikan penjelasan.

Perempuan itu memundurkan kepalanya seperti hendak ditampar kemudian ia menghindarkan kepalanya ke belakang.  Kedua alisnya yang arang menyatu dan matanya yang bulat menatap seolah-olah Tulus orang gila. Tanpa berbicara apapun, perempuan itu berjalan melewati Tulus dan pergi meninggalkan Tulus seraya menggeret kopernya.

“Hey, kau!” panggil Tulus berulang kali saat ia mendapati perempuan itu meninggalkannya dan berjalan semakin menjauh.

“Dia tuli mungkin?” geming Rendy.

“Mana ada? Kalau dia tuli, kenapa dia dengar kita?” tanya Tulus.

“Mungkin dia bisu? Kan dari tadi dia tak bicara apapun?” ucap Rendy memberikan pernyataan.

“Iya rupanya. Yaudah, minta tolong sama orang lah,” ucap Tulus seraya kembali berjalan lurus. Ia memilih untuk meminta tolong kepada Kakek yang tengah berdiri di ujung tempat duduk.

“Pak. Ponsel aku mati ini. Bolehlah aku pinjam ponsel bapak buat telfon nomor ini. Kasih aku ponsel bapak yak,” ucap Tulus ketika ia berdiri di depan Kakek tua itu.

Tulus memundurkan langkahnya, ia terjingkat seketika saat Kakek itu beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya. Jari telunjuknya menuding-nuding di depan mata Tulus. Ramainya suara Kakek itu terdengar begitu ricuh.

“Alamak. Kenapa jadi begini Lus?” tanya Rendy kepada Tulus dengan suara yang miris hampir tak terdengar.

“Mana aku tahu. Tahu kau dia bicara apa?” tanya Tulus.

Rendy menggelengkan kepalanya. Mereka berdua hanya berdiri dengan kepala yang penuh dengan pikiran seketika itu juga. Otak yang ada di kepala mereka, mereka paksa untuk berputar sebagaimana mestinya. Hingga mereka menggaruk kepala dan tengkuk lehernya yang tak gatal. Gagal. Mereka tak menemukan apa yang mereka cari. Dan putaran otak mereka, tak menemukan apa yang seharusnya ada.

Kepala mereka menoleh mencoba untuk mencari bantuan. Hati mereka berbicara dengan arti yang sama. Dimana Kakek itu, berbicara menggunakan bahasa yang berbeda dari mereka. Dan Kakek itu, tidak mengerti dan menangkan apa yang mereka maksud. Nihil. Yah… mereka tak menemukan siapapun. Hingga akhirnya, mereka hanya bisa berdiri mematung dengan otak yang kosong.

“Permisi, Pak. Ada apa ya ribut-ribut begitu. Terdengar ributnya sampai ke ujung,” ucap perempuan itu. Yah.. perempuan mungil itu mendekat ke arah suara yang membuatnya terasa tidak nyaman. Suara, yang tidak biasa ia temui di daerahnya. Suara, yang begitu kasar di telinganya meski ia mendengarnya dari kejauhan.

Belum sempat perempuan itu mendapatkan jawaban dari bapak-bapak asing yang tengah berdiri menyaksikan kericuhan itu. Ia mendapatkan lambaian tangan dari laki-laki yang baginya juga asing.

“Eh kau, sini! Ngerti tak kau Kakek bicara apa ini? Pusing kepala aku,” ucap Tulus saat melihat perempuan itu mendekat ke arahnya dan tak jauh dari jangkauannya.

Untuk kali ini, perempuan itu tak lagi menuding dirinya sendiri dengan jari telunjuknya yang lentik untuk memastikan apakah benar dirinya yang diminta untuk mendekat. Bahkan, langkah kakinya kembali melewati Tulus dan Rendy yang berdiri tegak tak mengerti bahasa apa yang digunakan oleh Kakek itu.

“Eh Lus, dia tak bisu,” ucap Rendy terkejut.

“Benar kau. Dia rupanya mengerti bahasa Kakek gila itu,” bisik Tulus menanggapi Rendy.

Rendy hanya berdeham menanggapi apa ucapan Tulus. Sampai akhirnya, mereka berdua saling bertukar tatap. Bagaiman tidak? Mereka bingung harus bagaimana kala Kakek itu tertawa kemudian menepuk punggung Rendy dan Tulus. Kemudian, meninggalkan mereka dengan senyuman dan sapaan dengan nada yang tidak setinggi tadi.

Tulus dan Rendy saling bertukar tatap saat Kakek itu telah berlalu dari hadapannya. Mereka juga mengedikkan kedua pundaknya saat Tulus memberikan tatapan mata seolah-olah apa yang terjadi baru saja.

“Kalian asalnya mana?” tanya perempuan itu.

“Medan,” jawab Rendy saat tatapannya beralih dari Tulus yang masih tidak mengerti dengan situasi apa yang terjadi baru saja di depannya.

“Kamu?” tanya perempuan itu dengan mengarahkan dagunya ke arah Tulus yang masih memasang wajah bodohnya. Sungguh bodoh dan begitu polos.  

“Sama. Medan pula. Dekat rumah kita,” ucap Tulus.

Perempuan itu tersenyum. Terlihat begitu jelas lesung pipitnya yang terletak di pipi tembamnya. Gigi taringnya yang gingsul dan bertumpuk rapi, terlihat begitu manis. Kemudian, tawa renyahnya seperti alunan irama yang mencairkan suasana.

“Apalagi?!” ucap Tulus saat perempuan itu meraih kertas yang berada di genggaman tangannya.

“Permisi ya,” ucap perempuan itu dengan suara yang begitu lembut dan wajahnya yang begitu damai. Pantulan cahaya layar ponsel perempuan itu terlihat dari bola mata bulatnya bahwa ia menyalin nomor yang tertera di kertas itu.  

“Kenapa kau ini? Aneh kali kau jadi perempuan,” ucap Tulus.

“Ini,” ucap perempuan itu dengan memberikan ponselnya.

Tulus melihat nada dering yang berusaha menyambungkan. Supir itu. Yah… seketika hal itulah yang terlintas di dalam pikiran Tulus saat perempuan itu memberikan ponselnya. Benar saja, perempuan itu telah membantunya untuk menghubungi supir yang dipesan oleh Ramos.

“Angkat Lus. Sudah lelah ini punggung aku,” ucap Rendy.

“Iyalah. Kau pikir kau aja yang lelah. Akupun lelah,” ucap Tulus seraya menempelkan ponsel perempuan itu dan berbicara sedikit saat nada sambungnya sudah tersambung.

“Asal kau mana?” tanya Rendy.

“Jawa. Jawa Timur.”

“Dekat tak dari sini?” tanya Rendy.

Perempuan itu tersenyum. Kemudian, ia menggelengkan kepalanya.

“Jauh berarti,” ucap Rendy memberikan kesimpulan dari ucapannya sendiri.

Tulus menjauh dari perempuan itu dan Rendy. Ia berjalan ke tempat yang sedikit jauh dari kebisingan. Ia merasa tidak dapat mendengar apa yang diucapkan oleh supir itu dari seberang telepon.

“Kau ke sini ngapain?” tanya Rendy.

“Ada urusan saya,” ucap perempuan itu.

“Apa itu?”

By : Amelia Yusana

Perempuan itu menggelengkan kepalanya. Kemudian tersenyum. Rendy menanggapi perempuan itu dengan anggukan kepalanya yang pelan. Ritme anggukannya perlahan, berulang kali dan pasti. Sampai akhirnya, perempuan itu mengalihkan tatapannya dari Rendy saat Tulus menarik pundaknya dan memberikan ponsel perempuan itu.

“Eh ini mati,” ucap Tulus seraya memberikan ponselnya.

“Oh ya?!” tanya perempuan itu dengan membelalakkan matanya.

“Ya. Kau lihatlah sendiri,” ucap Tulus memberikan keterangan.

Perempuan itu menepuk jidatnya yang lebar. Kemudian, ia berjongkok dan Tulus kembali menatap Rendy seolah-olah mereka kembali ke situasi yang sama saat bersama dengan Kakek gila yang tadi mereka temui.

“Kau kenapa? Bicara saja sama kita. Kau jangan bicara macam Kakek tadi. Kita tak akan mengerti,” ucap Tulus memberikan perintah.

“Baterai ponsel aku juga mati. Dan pulsanya juga habis. Di sini, tadi aku minta orang transfer pulsa ke aku karena nggak ada orang jualan pulsa,” jelas perempuan itu.

“Ah, kenapa bisa begitu? Kau ceroboh kali,” ucap Tulus.

“Udah ditolongin, gue dimaki lagi,” gumam perempuan itu.

Tulus dan Rendy tertawa mendengar gumaman perempuan itu. Mereka tertawa saat mendengar nada keluhan perempuan itu. Seolah perempuan itu tak berani memaki Tulus dan Rendy.

“Kenapa kalian tertawa hah?” tanya perempuan itu.

“Jangan kawatir. Kita orang sudah dapat alamatnya,” ucap Tulus memberikan senyuman.

“Ya kan lo udah dapet alamat. Nah gue ngehubungin supirnya pakai apa walaupun udah ngasih tahu supirnya kalau gue udah sampai,” ucap perempuan itu dengan kembali ke posisinya sebelumnya. Berdiri.

“Oh gini aja, nanti kau ikut kita. Biar kau diantar sama supir kita orang. Anggap aja, ini bentuk terimakasih saya ke kau, Mbak.”

“Seriusan nih?” tanya Perempuan itu.

“Tulus serius ini. Ya kan Ren?” tanya Tulus kepada Rendy.

“Ya terserah lo, kan yang pesen supir Among Ramos. Bukan Amongku,” jelas Rendy memberikan kesepakatakan sekaligus keterangan.

“Yaudah. Urusan udah beres. Lagian, nanti supirnya bakal ampirin kita kok. Tadi aku udah bilang kalau aku makan di dalam resto Bandara,” ucap Tulus seraya menarik gagang koper dan hendak meninggalkan tempat itu.

“Makan dulu deh kalau gitu. Kepala aku udah pusing, lapar lagi. Tambah pusing aku,” jelas Rendy yang berjalan lebih cepat ke arah restoran yang sudah ditunjuk oleh Tulus tadi.

Di tengah langkah kakinya yang hendak ia tapakkan ke arah restoran Bandara, Tulus merasakan ada sesuatu yang kurang. Langkah kaki yang lain selain langkah kaki Rendy yang telah melewatinya dan langkah kakinya sendiri. Tulus membalikkan tubuhnya. Kemudian, ia melihat perempuan itu masih berdiri di tempat tersebut dan justru menolehkan kepalanya ke area sekitarnya.

“Tch! Dasar bodo,” gumam Tulus.

“Hei, bodo! Sini kau. Ngapain kau di situ? Aku kan dah bilang sama kau, ikut kita biar kau bisa balik ke tempat kau tanpa supir kau. Kan kau belum hubungi supir kau ada dimana,” ucap Tulus sedikit lebih keras. Ia berharap, suaranya dapat menembus suara keramaian kala itu.

“Aku ikut kamu?” tanya Perempuan itu. Ia, kembali menuding dirinya sendiri. Dan lagi-lagi untuk meyakinkan bahwa apa yang dikatakan Tulus benar adanya.

Tulus tidak memberikan jawaban apapun. Melainkan, ia memutar telapak kakinya dan kembali melangkahkan kakinya ke arah perempuan mungil itu. Saat ia tengah berada di depan perempuan mungil itu, ia menarik koper perempuan mungil itu dan menggeretnya bersamaan dengan kopernya. Alhasil, perempuan mungil itu berlari kecil mengikuti langkah kaki Tulus yang panjang dan lebar.

“Tunggu aku,” ucap perempuan mungil itu.

“Mana ada tunggu kau. Kau lama kali. Tak sanggup lagi aku tunggu kau. Payah aku nanti kalau aku tunggu kau,” terang Tulus saat perempuan itu berjalan beriringan dengan dirinya.

By : @uyk

Sesampainya di dalam resto. Ditemuinya Rendy masih berdiri di depan pintu. Ia hanya menatap makanan yang ada di dalam resto itu. Bahkan, tulisan yang menjadi spanduk resto itu, ia tak mengerti.

“Kenapa kau berdiri di sini macam satpam rumah aku, Ren?” tanya Tulus.

Rendy menunjuk spanduk itu. Dan Tulus mengerti apa yang di maksud Rendy. Khususnya saat melihat raut wajah masam dan kecut Rendy bahwa ia tidak mengerti bahasa apa yang harus digunakan.

“Eh kau, bisa tak kau baca spanduk itu?” tanya Tulus kepada perempuan mungil yang berada di belakangnya.

“Mana? Nggak kelihatan,” ucap perempuan itu.

Rendy dan Tulus melangkahkan kakinya ke samping kanan agar perempuan itu bisa membaca tulisan yang terdapat di dalam spanduk. Mengingat tubuh mereka menutupi perempuan mungil itu.

“Oh itu…,” ucap perempuan itu dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apa?” tanya Rendy dan Tulus bersamaan.

“Di sini lagi ada promo makanan. Kalau beli paket dua, akan dapat makanan paket satu. Itu ditulis dalam bahasa Jawa,” terang perempuan itu.

“Enak tak?” tanya Rendy.

“Menu promo yang ditawarkan itu menu yang direkomendasikan. Enak rupanya,” ucap perempuan mungil itu.

“Yasudah., itu saja. Kau yang pesan ya, aku yang bayar. Kita berdua tak tahu bicara Jawa,” terang Tulus.

“Kalian mau menu itu?” tanya perempuan mungil itu.

Tulus dan Rendy mengangguk bersamaan.

“Kau kalau mau menu lainnya juga tak apa,” ucap Tulus.

Perempuan itu menggeleng. Kemudian pergi meninggalkan Tulus dan Rendy di ambang pintu tanpa memberikan keterangan apapun. Untuk kedua kalinya, perempuan itu pergi tanpa memberikan keterangan.

“Kita ditinggal lagi?” tanya Tulus.

“Berisik kali kau. Masih untung dia nmau tolong kita orang,” ucap Rendy seraya berjalan mengikuti perempuan itu.

Tulus hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecah ringan. Melihat tingkah sahabatnya yang menjadi serba bersyukur setelah tiba di kota orang, dan sedikit aneh dengan tingkah perempuan mungil yang baru saja dikenalnya beberapa menit yang lalu.

Rendy dan Tulus berdiri di belakang perempuan itu. Mereka berbaris seperti anak ayam dan bebek yang tak mau jauh dari induknya. Hal ini mereka lakukan sebab mereka tak mengerti bahasa Jawa sama sekali.

“Berapa bayar?” tanya Tulus saat perempuan itu kembali tiba-tiba meninggalkan Tulus dan Rendy yang berdiri di depan kasir. Di tempat yang tadi mereka berdiri. Sungguh, malam ini mereka seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya. Semua bahasa, diterjemahkan oleh perempuan itu. Barulah mereka tidak mendapatkan masalah paksaan agar otak mereka bekerja lebih keras seperti saat mereka berhadapan dengan Kakek yang gila tadi. Ah… bukan gila. Karena mereka tak mengerti bahasanya, makanya mereka anggap gila.

“Kalian serius nggak bisa bahasa Jawa sama sekali?” tanya perempuan itu saat mereka telah duduk di meja yang sudah dipilih oleh perempuan itu.,

“Tak bisa,” ucap Tulus.

“Hmmmm, kami tak bisa. Kau bisa karena asli Jawa kan?” tanya Rendy.

“Bahasa Jawa di Yogyakarta, dan di tempatku sedikit berbeda. Akupun masih butuh beberapa waktu untuk menyesuaikan,” ucap perempuan itu memberikan keterangan.

“Oh iya? Aku kira sama,” ucap Rendy.

Perempuan itu menggelengkan kepalanya kembali.

“Lalu, bedanya dimana? Bisa kau kasih contoh kita orang?” tanya Tulus kembali menyelidik.

“Mangan di tempatku artinya makan, kalau di sini madang,” jelas perempuan itu.

“Kau tahu darimana? Kakek tadi kau mengerti bahasanya kan? Makanya Kakek tadi baik-baik sama kita lagi. Tadi, mukanya sudah merah padam seperti kebakaran,” terang Tulus.

Perempuan itu tertawa terbahak mendengarkan ucapan dan keterangan Tulus. Bagaimana tidak, Tulus memberikan gambaran kepada perempuan itu seperti halnya mengibaratkan wajah sang kakek adalah benda yang mudah terbakar. Sekali dibakar, maka akan merah padam. Pengucapan dan logatnya juga terlihat sangat lucu. Wajahnya yang dapat dikategorikan tampan untuk orang Jawa terlihat begitu polos seperti anak kecil yang menanyakan sesuatu hal yang tidak dimengerti kepada ibunya.

“Kau ini aneh. Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?” tanya Tulus.

Perempuan itu tidak menjawabnya. Melainkan, ia hanya menutup mulutnya dan memberikan isyarat kepada Tulus melalui bahasa tubuhnya yang menunjukkan bahwa tidak ada yang lucu. Tulus meraih telapak tangan perempuan itu yang bergerak ke kanan dan ke kiri.  Yang  kini menjadi bahasa tubuhnya saat ia masih belum bisa berhenti tertawa.

“Ada apa, jawablah dulu. Jangan kau bikin aku penasaran lagi. Kepalaku sudah payah ini tebak-tebak dari tadi,” terang Tulus.

“Haish. Berisik kali kalian. Makanan sudah datang. Kalau kalian tak mau makan. Biarlah aku habiskan,” ucap Rendy menyela saat makanan tengah berada di depannya.

Makanan yang masih mengepul dengan jelas yang baru saja diturunkan dari nampan oleh pelayan. Sungguh, nikmat sekali makanan ini. Entah kenapa, begitu nikmat. Terasa begitu berbeda makanan kali ini. Padahal, tampilannyapun tak sebagus apa yang dimasak oleh Inong.

Akan tetapi, peristiwa demi peristiwa hari ini sedikit membuatnya mengeluarkan tenaga lebih. Di tambah, sejak dari tadi mereka menahan makan dan baru bisa makan sekarang. Itupun dengan bantuan perempuan mungil sebagai perantara bahasa mereka. Yah… makanan malam ini terasa begitu nikmat saat lapar yang sengaja mereka tunda berbaur dengan rasa lelah yang mereka rasakan.

Bahkan lelah yang mereka rasakanpun lebih lelah malam ini dibandingkan membuat produk begitu banyaknya, mengurusi tanaman di kebun, membaca analisis pasar yang diberikan oleh Ramos, dan melakukan hal-hal lainnya di rumah. Begitulah sederhananya arti kenikmatan makan yang bisa mereka rasakan.

Tulus dan perempuan mungil itu berhenti untuk saling membicarakan hal-hal yang membuat mereka penasaran atau saling berlawanan keinginan. Yah.. mereka menikmati kuah kepulan nasi yang berbau wangi.

Wanginya wangi pandan. Kemudian, sup yang mengepul kuahnya, dengan bawang goreng yang melimpah. Ayam yang menggoda, dan juga embun dingin minuman yang tak kalah menggoda untuk menyentuh tenggorokan mereka yang kering. Kerupuk renyah yang siap memanjakan gigi mereka, serta sedap gurih rasa yang siap mengenyangkan perut lapar dan mengistirahatkan sejenak otak mereka yang sengaja mereka paksa untuk bekerja.

Episode Sebelumnya…

Tinggalkan Balasan